Terjebak Standar (versi: Rapotan)

Sepertinya ini jadi lagu lama para orangtua yang anaknya sudah sekolah di tingkat dasar ato bahkan te-ka (kindergarten). Tentang rapotan.
Menyekolahkan anak di ‘sekolah favorit’ menjadi idaman hampir semua orangtua. Apapun alasannya. Walaupun embel-embel favorit ini hanya stigma yang diberikan oleh masyarakat tapi lumayan ampuh juga sebagai lahan promosi bagi sekolah ybs. Stigma itu sendiri diberikan karena banyak kriteria. Biasanya menyangkut fasilitas (sarana dan prasarana) dan kualitas lulusan (yang ini kurang fair juga, lantaran input yang sudah bagus otomatis outputnya juga bagus).

Saya sendiri tidak termasuk orangtua yang menjadikan sekolah favorit sebagai pertimbangan utama dalam menyekolahkan anak. Tapi karena banyak hal, jadilah anak saya bersekolah di sekolah yang–kebetulan–adalah sekolah favorit. Tentu saja si Kecil masuk melalui seleksi karena kapasitas sekolah yang terbatas (dalihnya). Hari demi hari, bulan demi bulan, dan satu semester berlalu. Tibalah hari terima rapot (baca: rapotan). Manajemen sekolah menerapkan sistem peringkat, itu saya tahu. Tapi tidak saya sangka, para wali murid yang kebetulan sempat berinteraksi dengan saya ranking minded semua. Wuah…

Dalam proses belajar, saya tidak pernah mengintervensi si Kecil terlalu jauh. Apalagi karena sekolahnya sampai sore, jadi gak ada pe-er. Paling-paling cuma ngecek udah sampe mana, bisa apa tidak, yang susah apanya, gitu aja. Selebihnya, kami bermain, bercanda, dan membaca dongeng bersama. Beda banget dengan ortu lainnya yang orientasinya ke rangking. Mereka mengukur kemampuan anak dari rangking, seolah-olah bersekolah adalah berlomba, berkompetisi. Seringkali pulang sekolah si anak masih harus les ini-itu, baik yang berkaitan dengan pelajaran sekolah maupun tidak. Alamak… Detik itu saya sempat terpengaruh juga. Sepintas saya pandangai si Kecil yang ngobrol dengan temannya dengan keceriaan anak-anak, sesekali bersitegang karena gak setuju dengan pendapat temannya. Begitu polos, begitu murni, begitu indah. Anakku, haruskah aku melihatmu dengan kacamata ambisi, haruskah mulai detik ini “kamu mesti belajar lebih giat agar masuk–minimal–10 besar!”, sedangkan cinta ibu dan bapak tidak mengenal perbedaan seberapa tinggi prestasi yang bisa kamu raih. Nyaris titik air mata melihatnya.

Tidak. Saya tidak boleh terjebak standar (mengutip kata seorang sahabat). Anak adalah unik dan istimewa, seperti apapun dia, dialah anugerah terindah dalam perkawinan. Bukan lahan proyek orangtua apalagi penebus cita-cita yang gak kesampaian. Untunglah, suami juga berpendapat sama dengan saya. Kami hanya ingin si Kecil menjadi anak yang bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s