Museum Anatomi

Kalo ada deskripsi yang jelas tentang ‘Museum’ tentunya museum yang satu ini punya kategori khusus. Mungkin sebutan museum kurang pantas, karena sangat dipengaruhi latar belakang konsumen ato stakeholder-nya. Museum yang satu ini juga jelas-jelas unik, bahkan di negara tertentu disebut gallery bahkan beberapa koleksinya masuk kategori art gallery. Menurut kamus wikipedia, ‘Museum’ merujuk kepada bangunan tempat menyimpan khazanah sejarah purba atau yang lalu. Museum penting sebagai tempat kita merujuk sekiranya kita ingin mengatahui tentang sejarah lampau. Berdasarkan KBBI tentunya lebih jelas lagi. Tapi masih berkisar pada hal-hal yang sifatnya purba jua.

Tentang Museum Anatomi, koleksinya adalah fragmen-fragmen tubuh manusia yang dibuat berdasarkan regio dan sistem dengan tujuan untuk pembelajaran anatomi manusia. Tidak ada yang sifatnya purba, kecuali masa. Karena penghuni museum ini pernah hidup beberapa saat lalu. Belum melewati masa. Ataukah ada batasan yang jelas tentang masa?

Beberapa waktu lalu, bagian Anatomi FKUB meresmikan Museum Anatomi. Menjadi kebanggaan tentunya bagi sebuah kerja keras. Diresmikan oleh rektor yang konsekuensinya dikuntit oleh banyak media, cetak maupun audio visual, minimal yang lokalan-lah. Inilah sumber permasalahannya. Kami selaku tuan rumah sangat mengkhawatirkan terlibatnya media massa, sehingga sejak semula memang tidak mengundang peliput berita. Karena sesuatu yang akan diresmikan ini menyangkut harkat manusia terutama dari kacamata ketimuran. Ada koleksi janin dari berbagai tahap perkembangan (hmm…mungkin ada yang keberatan dengan istilah ‘koleksi’), potongan hingga tubuh manusia utuh, sistem pencernaan, hingga sistem saraf. Dan tanpa warning sebelumnya, para wartawan itu menjadikan mereka sebagai obyek berharga untuk menaikkan omzet dagangannya. Tidak mengejutkan kalo liputannya bertahan di halaman depan Jawa Pos hingga 2 hari berturut-turut dengan judul yang bombastis. Museum Anatomi, dari Janin, Jeroan, hingga Manusia Utuh. Dan celakanya lagi, mereka juga menuliskan: Dibuka Untuk Umum. Walaupun dalam brosur yang diedarkan tertulis ‘dengan rekomendasi dekan dan instansi yang mengirimkan’. Dan dibuka untuk kepentingan pendidikan anatomi semata. Hhh…di-cut habis, seperti ‘habislah kita’ esok harinya setelah berita tersebut diterbitkan. Masyarakat umum berduyun-duyun berkunjung dengan tujuan “Untuk melihat-lihat”, sebagian mungkin penasaran, apakah janin yang dipamerkan adalah anak yang kemarin aku gugurkan, ato apakah kakekku yang kuusir kemarin termasuk salah satu koleksi museum ini (ini sih karanganku aja…hehehe). Tentu saja mereka ini kami tolak, dengan cara yang paling halus hingga yang paling kasar (kalo mereka ngotot). Museum Anatomi, mungkin hal ini tidak mengejutkan bagi masyarakat di kultur tertentu, tentunya tidak di Indonesia. Dimana pada umumnya jenazah dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dimakamkan bahkan didoa’kan hingga 1000 harinya.

Ternyata begini rasanya ‘kecolongan’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s