Semalam Bersama ‘Musim Gugur di Manhattan’

Tadinya saya akan membuatkan resensi sebuah buku, tetapi karena otak sedang tidak ingin diformat berpikir formal, akhinya jadi resensi yang bukan sebenar-benarnya, karena campur-campur dengan komentar tidak resmi setengah meleset dari isi buku.

 

Berawal dari seorang sahabat, Julie Nava, yang punya dedikasi dan komitmen tinggi dengan dunia menulis meluncurkan sebuah novel “Musim Gugur Terakhir di Manhattan”, menginap di rumah saya selama beberapa hari dalam rangka liburan dan promo novel tersebut di Indonesia.  Antusias dengan kedatangannya dari Detroit yang membawa serta Pak Juan (demikian suami saya menyebut suami teman saya) dan gadis kecil berumur tiga setengah tahun Allyssa yang selalu menolak kalo dipuji.  Kemudian secara tidak disangka-sangka, pada sesi jalan-jalan ke Gramedia, sahabat saya itu menjumpai novelnya itu sudah dipajang di rak display dan spontan membelikan saya satu buah novelnya.  Semoga bukan karena dia tahu saya tidak akan membelinya karena yakin akan diberi (hehe… pede aja lagi).

Akhirnya, pada hari berikutnya saya habiskan malam saya bersama novel setebal 300an halaman tersebut.  Terusterang saya tidak bisa menjauhkan kehadiran sosok pengarang di dalam tokoh utama, Rosita atau Rosie, di dalam novel tersebut.  Mungkin karena saya kenal pengarang dengan sangat dekat, tahu persis perjalanan hidupnya seperti dia juga merekam sepak terjang dan keluh kesah saya, dan lebih banyak share dari hati ke hati daripada berbicara dengan memakai topeng kepentingan.  Kami saling mengenal bahkan sebelum kami dilahirkan.  Begitu dia selalu berseloroh tentang bagaimana kami bisa kenal satu sama lain.

Semula saya tidak bisa menghindar untuk selalu membandingkan Julie dan Rosie.  Didalam novel ini saya melihat pribadinya di setiap paragraf, kalimat, dan gerak-gerik Rosie.  Tentu saja semua novel dibuat berdasarkan observasi.  Tetapi observasi tersebut tidak harus berada dalam lingkaran terdekat dalam kehidupan penulis.  Walau bagaimanapun menulis tentang kehidupan di sekitar kita logikanya akan terasa lebih mudah daripada yang jauh diluar lingkaran kita.

Dalam novel ini saya membaca sahabat saya itu telah mencapai titik kulminasi dari apa-apa yang ditangkap oleh indranya selama ini.  Terutama dalam rentang hidupnya pasca menikah dengan Pak Juan.

Lebih lanjut, novel ini kemudian menjelma menjadi episode-episode hidup yang dibangun dengan cantik dan menghanyutkan.  Yang kemudian membawa saya lepas dari bayang-bayang pengarangnya… Novel ini akhirnya membawa saya masuk ke dalamnya dan membuat saya menjelma menjadi Rosie.  Menjadikan saya tertawa, tersenyum, dan menangis bersama Rosie.  Pada saat Rosie mencintai Anthony, saya menjadi berdebar, dan saya begitu bingung saat harus menjatuhkan pilihan mempertahankan Anthony dengan cintanya yang obsesif, atau menerima Marco yang lebih fleksibel.  Dan sampai lembar terakhirpun saya masih berpijak pada dua cinta yang berbeda walaupun jalan sudah dipilih…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s