ISO ora ISO yo kudu ISO???

Tulisan ini bukan ditujukan untuk menjelaskan tentang ISO.  Karena walaupun istilah ini sudah sering saya baca di banyak tempat, tapi perkenalan saya dengan ISO masih sangat dini, bahkan boleh dibilang gak mudheng blas.  Perkenalan itupun rasanya by accident, kalo boleh dirunut lebih awal lagi, ini gara-gara mbak Agustin Iskandar yang ‘menjebloskan’ saya ke dunia quality assurance di tempat kerja saya.  Tulisan ini akan menjadi ajang curhat saya betapa ISO ini telah sanggup memporak-porandakan jadwal biologis saya selama beberapa hari belakangan.

Mula-mula yang saya tahu – tapi tidak bisa hadir walau diundang – diadakan acara sosialisasi ISO oleh institusi tempat saya bekerja.  Sosialisasi ini diadakan karena kami akan diaudit oleh tim yang akan atau tidak akan memberi status ‘approved’ atau  ‘certifiedISO 9001:2008 untuk institusi kami.  Walaupun setahun belakangan ini saya sudah lebih familiar dengan kegiatan audit, tetapi tidak urung gaung nama ISO ini cukup membuat panik juga.  Terutama karena yang akan banyak dinilai oleh tim auditor adalah quality management system yang notabene terkenal masih berantakan di unit kerja saya.  Tentu saja akhirnya kami harus mempersiapkan dokumen-dokumen sekaligus bentuk implementasi yang dapat diperlihatkan kepada asesor, bahwa kami sudah bekerja dengan baik dan memenuhi criteria yang ditentukan dalam ISO.  Celakanya, dokumen-dokumen kami masih centang perenang untuk disebut dokumen resmi, sekaligus banyak lubang dan perubahan-perubahan yang harus disesuaikan terutama karena model pembelajaran di institusi tempat saya bekerja sedang dalam masa transisi dari metode konvensional ke KBK yang tentunya lebih kompleks.  Hal ini menyebabkan banyak sekali temuan-temuan di lapangan yang tidak dengan mudah disesuaikan dengan dinamika sistem dokumentasi sebelumnya.  Alhasil, sambil sibuk membolak-balik dokumen lama dan mengintip-ngintip kondisi lapangan, jadilah dokumen yang mungkin hanya diadakan untuk menuntaskan ISO.  Betapa momen ini seharusnya menjadi titik awal evaluasi diri.  Sayang sekali kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan quality improvement.  Tetapi, diantara kesibukan mengajar lengkap dengan asesori tutorial, PBL, dan praktikum, belum lagi aspek penelitian dan pengabdian masyarakat yang harus dipenuhi, akankah waktu 24 jam sehari cukup untuk menuntaskan semuanya?  Mata masih sembab dan kepala terasa berat kurang tidur begadang dengan manual prosedur ketika sehabis menghadiri closing assessment I ISO 9001:2008 saya tiba di jurusan dan segera disambut oleh koreksi ujian akhir semester yang menumpuk karena belum tersentuh dalam seminggu.  Padahal minggu depan sudah memasuki jadwal semester pendek.  Akahkah semuanya bisa berjalan paralel dengan baik hingga assessment II bulan Oktober yang akan datang?  Buat saya lebih baik berstatus ‘uncertified’ ISO 9001:2008 dulu untuk tahun ini sehingga semua criteria bisa terbenahi secara runtut dan sistematis daripada memakai politik mercusuar yang dipaksakan.

Atau mungkin kami perlu meniru ‘Program 100 Hari’ a la SBY- Wish us luck…

Advertisements

3 thoughts on “ISO ora ISO yo kudu ISO???

  1. Setuju, lebih baik tidak berstatus “uncertified” ISO dulu sampai benar-benar kita sudah siap dari pada kita harus berbohong-bohong ria dengan keadaan kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s