Pekerja Domestik, Antara Harapan dan Kenyataan

Seperti halnya keluarga muda dengan suami istri yang bekerja, sebuah lagu lama dengan topik ‘suka duka urusan pembantu’ hampir selalu terdengar.  Terutama keluarga muda dengan bayi mungil umur 2 bulan yang harus segera ditinggal bekerja lagi setelah habisnya masa cuti sang bunda.  Untung saja saya tidak termasuk yang mengalami hal ini.  Saya bekerja setelah si sulung masuk SD, sedangkan si kecil lahir pada saat masa studi.  Walaupun si kecil harus ditinggal juga, tapi ibu dan saya mempunyai ‘kesepakatan’ untuk ibu bersedia membantu mengasuh si kecil selama masa studi.  Sehingga masa-masa hunting pembantu menjadi wajib ‘ain setelah masa studi saya berakhir.  Masalah gonta-ganti pembantu juga menjadi hal klasik.  Bagaimana tidak, mereka ini bukan karyawan dengan ikatan kontrak yang jelas.  Terutama untuk pekerja domestik yang menginap di rumah majikannya.  Seringkali mereka datang dengan kepala penuh tandatanya tentang tempat yang akan mereka tinggali ini.  Tentang keadaan rumahnya, lingkungannya, majikannya, anggota keluarga lainnya, fasilitas kerjanya, dan lain-lain.  Mereka bukan pelamar yang berkompetisi untuk pekerjaan tertentu yang sudah jelas klasifikasinya.

Pekerjaan domestik mempunyai variabilitas dan pengaruh lingkungan yang sangat tinggi.  Bagi pekerja domestik yang sudah berpengalaman biasanya akan banyak bertanya dan punya standar sendiri tentang hal-hal tersebut sebelum setuju bekerja.  Misalnya, rumahnya tingkat atau tidak, kalo tingkat, berapa tingkatnya, tipe berapa; rumahnya di kampung atau di perumahan; berapa jumlah anggota keluarga yang dilayani, ada bayi, anak kecil, orang jompo atau tidak; ada pembantu lain apa tidak; punya peliharaan apa saja, anjing, kucing?; punya mesin cuci, blender, magic com, pemanas air, pakai kompor jenis apa, atau airnya pam atau sumur?; dan biasanya yang selalu ditanyakan adalah, pekerjaannya apa saja? dan lantas kalau tidak sesuai dengan yang diakadkan menjadi alasan untuk hengkang.

Daftar panjang pekerjaan domestik :(
Daftar panjang pekerjaan domestik 😦

Tidak seperti pekerjaan sektor lain, pekerjaan domestik terdiri dari daftar panjang sampai-sampai sungkan kalau harus disebutkan secara detil.  Apa saja ya? Menyapu, mengepel, mengelap perabotan dan kaca, bahkan mungkin merapikan sepatu sandal harus masuk hitungan kalau kita mau adil dalam mempekerjakan mereka.  Anggota keluarga yang akan dilayani juga menjadi kriteria wajib berikutnya sehubungan dengan gaji yang akan mereka dapatkan.  Hal yang tidak bisa ditanyakan tapi menjadi faktor penentu adalah sikap dan perlakuan majikan.  Kalau mendapati perlakuan yang tidak sesuai, karyawan sektor lain mungkin masih bertahan karena terikat kontrak, tidak demikian dengan karyawan sektor domestik.  Hari ini datang, bisa jadi besok sudah hengkang.

Dari sisi majikan juga harus selektif.  Walaupun rekomendasi dari orang yang dipercaya itu penting, tapi seringkali kondisi ‘kepepet’ memaksa majikan untuk mengabaikan hal ini.  Karena tidak jarang mereka secara tiba-tiba maupun berpamitan, pergi dengan barang-barang berharga — sampai yang tidak berharga — dari rumah tersebut.  Sama halnya dengan pekerja, majikan juga punya kriteria tidak resmi tentang calon pekerjanya.  Seperti, sudah menikah belum, punya anak atau tidak, suaminya dimana dan kerjanya apa, anaknya berapa, umur berapa, anaknya nanti ditinggal sama siapa; sudah punya pengalaman belum, bisa masak tidak; bersihan atau tidak; dan selanjutnya.  Untuk urusan domestik standarnya tentu selera majikan sebagai pelanggan.  Ini juga seringkali menyulitkan.  Bersih itu yang seperti apa, masak enak itu yang bagaimana.  Memang awalnya pasti ada training dan penyesuaian, secanggih apapun si pekerja.  Tingkat ‘pelatihan’ yang diadakan pun bervariasi.  Seorang teman pernah mengeluh pekerjanya tidak bisa membedakan kunyit dan jahe, tapi ini masih lebih baik daripada tidak bisa membedakan kemiri dan ketumbar.  Padahal di sektor ini, antara demand dan ketersediaan masih banyakan demandnya, pun kalau kedua hal ini bertemu, banyak sekali faktor-faktor non formal yang membayangi sehingga bisa merugikan kedua belah pihak.

Mungkin suatu saat nanti pekerja domestik perlu menandatangani kontrak kerja yang tidak merugikan satu sama lain.  Karena bukan majikan saja yang harus legowo dengan segala ketidakpastian, pekerja pun demikian.  Tapi saya tidak tahu, apakah kriteria mampu membedakan bumbu dapur perlu dimasukkan ke dalam salah satu klausul kontrak kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s