Sitokin Cinta

Beberapa malam lalu saya berkunjung ke sebuah rumah makan.  Rumah makan yang cukup ramai untuk sebuah hari Kamis malam.  Menyediakan fasilitas lesehan dan meja kursi, saya memilih tempat lesehan di sebuah sudut.  Sambil menunggu pesanan datang, saya mengamati pengunjung yang lain.  Kebanyakan adalah pasangan muda, mungkin sudah menikah, mungkin sedang berpacaran.  Sebagian keluarga muda dengan anaknya.  Ada juga anak muda yang datang berombongan, ada yang putri atau putra saja, ada yang campuran — kayak main bulutangkis ya –.

Dari semuanya, saya tertarik mengamati cara mereka saling memandang.  Entah betul entah tidak, saya bisa membedakan pandangan ‘cinta’ dan pandangan yang ‘biasa saja’.  Yang menjadi kontrol negatif adalah kelompok anak muda yang sama gender – dengan asumsi, tidak ada penyimpangan seksual lo –.  Saya melihat pandangan cinta pada kebanyakan pasangan muda.  Sambil ngobrol, mereka sebentar-sebentar senyum, tertawa, melirik, agak curi-curi pandang gitu – tentu melirik pasangannya –.  Walaupun ada pasangan yang kelihatan membicarakan sesuatu yang serius, tapi tatapan cinta itu masih bisa terbaca di mata mereka.  Menyenangkan sekali melihat tatapan seperti itu, seolah aura cinta mereka membawa hati kita ikut tersenyum.  Walaupun tidak ikut dicintai yaa…

Kemudian saya membandingkan dengan keluarga muda yang membawa anaknya.  Biasanya si orangtua mengambil tempat duduk bersisian, tidak berhadapan seperti pasangan yang tidak membawa anak.  Agak sulit menilai ada tidaknya pendar cinta di mata mereka.  Acara makan juga menjadi berwarna karena tingkah polah anak-anak.  Jadi ya semakin jarang kesempatan mereka untuk bertatapan dan saling tukar sinyal cinta.  Tapi ternyata ada refleksi cinta dalam bentuk lain.   Melihat bagaimana cara mereka berinteraksi dengan anak-anaknya, saya seperti melihat cinta.  Mungkin bukan cinta seperti pasangan yang tidak membawa anak, tapi cukup representatif.  Sayangnya, saya kesulitan melihat interaksi sinyal cinta antara kedua orangtuanya.

Sambil menyantap makanan pesanan, saya membuat sebuah analogi.  Cinta itu suatu substansi, zat, — kalo di imunologi mungkin seperti sitokin – yang dirilis pada saat ligand-reseptor bertemu.  Dalam interaksinya, permukaan ligand-reseptor harus cocok, baru sitokin bisa dirilis.  Walaupun ada juga yang memerlukan mediator lain yang memperantarai.  Seperti sitokin, cinta bisa diukur dan wujud, bukan hanya bisa dirasakan.  Sitokin yang dirilis ini bisa mempengaruhi milieu sitoplasma.  Saya termasuk organela sel lain yang terkena imbas dirilisnya sitokin cinta ini, sehingga saya bisa ikut merasa bahagia berada di dekat orang yang saling mencinta.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s