Anatomi dalam Komunikasi Medis

Enam tahun yang lalu, semenjak berkubang di dunia peranatomian, langsung terasa betapa spesialnya si anatomi ini dalam aplikasi maupun pengembangan ilmu kedokteran.  Anatomi bagaikan rangka bagi sebuah bangunan kedokteran atau bagaikan fondasi bagi sebuah rumah.  Selayaknya rangka atau fondasi yang tidak tampak dari luar, demikian juga anatomi, tak tampak tapi mutlak harus ada.  Bagaimana seorang dokter bisa memahami bentuk dan manifestasi sebuah kelainan jantung kalau tidak memahami bagaimana anatomi jantung, dan bagaimana seorang perawat bisa menentukan tempat injeksi kalau tidak memahami anatomi topografi vena mediana cubiti atau vena saphena magna.  Walaupun tidak ada pasien yang akan menanyakan letak pankreas atau colon secara eksplisit, tapi alangkah indahnya seandainya praktisi kesehatan bisa mendekatkan pasien dengan penyakit yang sedang dideritanya melalui pemahaman sederhana berdasarkan ilmu anatomi yang juga disederhanakan melalui bahasa awam.

Proses edukasi dalam konseling kesehatan seringkali menjadi suatu keniscayaan apabila praktisi kesehatan memahami bahwa kebutuhan pasien tidak hanya terbatas pada obat dan kesembuhan.  Tapi pemahaman sederhana tentang patofisiologi dan patomekanisme suatu penyakit yang bisa disederhanakan melalui bahasa anatomi akan sangat membantu komunikasi praktisi kesehatan dengan pasiennya. Bahkan dapat membantu proses penyembuhan pasien dengan meningkatnya kesadaran terhadap kondisi dirinya.  Anatomi adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan pasien, karena normalnya semua orang pasti memiliki organ dan sistem organ tersebut, hanya pengetahuan saja yang membedakan antara praktisi kesehatan dengan pasiennya.  Pengetahuan pasien terhadap apa yang sedang terjadi dengan dirinya akan membantu pasien untuk tidak merasa dirinya sebagai obyek semata, apalagi sebagai kelinci percobaan.  Keputusan yang terjadi di ruang praktek bukan hak dokter — atau lebih luas lagi, praktisi kesehatan –, melainkan hak pasien.  Tindakan yang dilakukan selalu harus melalui persetujuan pasien dengan mengetahui alasan dilakukannya tindakan tersebut.  Sehingga sangat ajaib apabila ada praktisi kesehatan yang menyebutkan bahwa hepar terletak di cavum thorax — entah menyebutnya karena grogi, entah karena bingung membedakan cavum thorax dan cavum abdomen, atau karena ada terjadi hernia diaphragmatica sehingga pernyataan ini masih bisa ditolerir — , atau seorang praktisi kesehatan yang tidak mengetahui alasan kenapa insisi yang dilakukan dari prosesus xiphoideus hingga symphisis pubis dilakukan melingkari umbilicus dari sebelah kiri selain karena prosedur tetapnya menyebutkan demikian tanpa tahu bahwa prosedur tersebut dilakukan untuk menghindari ligamentum teres hepatis.  Wallahu’alam.

The picture copied from: http://ihateoliverninnis.files.wordpress.com/2011/10/white-lie-100dpi.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s