Kenangan Hujan

Mendung kelabu yang merata di belahan timur kota Malang sudah mengindikasikan turunnya hujan saat saya bergegas pulang.  Sesuai prediksi, belum lagi keluar dari kompleks kampus, hujan sudah membentuk titik begitu butirannya mencapai aspal jalan.  Kebanyakan pengendara motor kemudian menepi memasang jas hujan atau sekedar berteduh, tapi tidak demikian dengan saya.  Bukannya malas mengeluarkan jas hujan dari bagasi motor, tapi lebih disebabkan ingatan masa kecil, kali ini saya berniat hujan-hujanan.  Hanya saja, sekarang hujan-hujanan di atas motor.  Saking derasnya hujan, belum 200 meter badan sudah kuyup, kecuali kepala yang dilindungi helm.  Dingin memang, tapi menyenangkan.  Tidak terasa, saya tersenyum dan bersenandung di sepanjang perjalanan.

Ingatan saya lalu terbang ke masa lalu.  Bersama seorang sahabat, biasanya kalau sedang tidak numpang sepeda teman, kami pulang sekolah berjalan kaki lewat jalan aspal.  Tapi hujan saat itu membawa kami berjalan melalui pematang sawah dan berkhayal kesana kemari tentang sungai, binatang sawah, dan padi.  Kalau hujan mereda, kami menghanyutkan perahu kertas dan berlomba perahu siapa yang lebih cepat mengikuti arus sungai kecil di sepanjang sawah.  Sepatu dan kaos kaki sudah menjadi penghuni tas dan dengan kepala ditutupi tas plastik kami tertawa-tawa sambil menjaga keseimbangan di sepanjang pematang.  Masing-masing beradu cerita seru-seruan tentang hujan.

Atau ke masa sebelumnya lagi, kompleks perumahan yang saya tempati berdekatan dengan tanah lapang tempat orang main layangan atau adu merpati.  Juga dekat dengan sawah dan sungai.  Tapi dari semuanya, saya paling suka dengan gubuk kecil di tengah tegalan tempat orang membuat batu bata.  Biasanya saya dan teman-teman bermain di sana.  Sambil tidak bosan-bosannya melihat orang mencetak dan membakar lempung hingga menjadi batu bata.  Gubuk itu juga menjadi tempat kami berteduh kalau hujan turun.  Tapi tidak jarang juga, kami sengaja membasahkan diri, berlari-lari main seluncuran lumpur di tanah lapang saat hujan deras.  Atau sekedar meniti pematang sawah.  Adakalanya kami memotong daun pisang dan menjadikannya payung.  Ini sih formalitas saja, pada kenyataannya kami saling dorong sehingga tetap saja kebasahan.  Termasuk juga saat sepeda BMX sedang trend, permainan balap sepeda pun jadi ajang main tanah air alias lumpur.  Pesan ibu, jangan main dibawah gerimis, tapi kalau deras boleh, karena tidak menyebabkan sakit.  Entah dimana kebenarannya, tapi seperti itulah kenyataannya.  Gerimis itu bikin pusing, tapi hujan yang deras bikin senang.  Mungkin saat gerimis perpindahan kalor yang tidak merata saat mengenai kepala menyebabkan penyempitan pembuluh darah di permukaan kepala tidak serentak sehingga menyebabkan keseimbangan homeostasis tubuh terganggu.

Saya percaya, kenangan akan hujan selalu manis walaupun hujan identik dengan kesan dingin, sendu dan mendung.  Seperti saat ini, guyuran air hujan ternyata bisa menghangatkan hati.

Picture copied from: http://iamgratefulhowareyou.files.wordpress.com/2011/03/rain-play.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Kenangan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s