Dua Pesta Pernikahan (1)

Bulan-bulan ini bisa dikatakan musim orang melangsungkan pernikahan.  Bulan Dzulhijjah dan angka cantik — 111111; 20112011 –, merupakan kombinasi yang sempurna untuk menikah.  Dengan semua harapan dan doa baik tercurah bagi mempelai.  Dua orang sepupu saya, walaupun tidak menikah pada kedua tanggal tersebut, juga menikah dalam waktu yang berdekatan dalam bulan Dzulhijjah tahun ini.  Saya mengikuti akad nikah dan resepsi keduanya sehingga saya berkesempatan untuk merekam seluruh prosesinya.  Mungkin terdengar naif karena saya lantas membandingkan kedua pesta tersebut dari segi fisik hanya karena unsur itu yang perbedaannya terlihat mencolok.

Pesta pernikahan pertama saya sajikan dalam tulisan bagian pertama ini.

Pernikahan tersebut berlangsung di sebuah rumah berdinding papan.  Dua buah kamar tidur digeser papannya agar terdapat ruang yang cukup untuk menampung para tamu.  Coba kalau rumahnya dari tembok, pasti sulit merubah arsitektur rumah sesuai kebutuhan ya… Pasangan pengantin duduk di hadapan penghulu, wali, dan saksi.  Mempelai putri memakai baju pengantin muslimah dari kain brokat putih pemberian calon ibu mertua — saat itu — yang dibeli di pasar Klewer, Solo, dengan harga tidak lebih dari 100 ribu/stel, sangat sederhana.  Tapi seorang saudara menceritakan hal tersebut pada saya dengan mimik muka bangga karena baju tersebut berhasil terbeli dengan harga yang sangat murah setelah proses tawar menawar yang cukup ketat.  Tidak ada yang salah dengan bajunya, tapi saya merasa diingatkan, apakah karena momennya adalah pernikahan sehingga semua harus yang terbaik dan mahal? Intinya kan akad itu sendiri, bukan asesorinya.  Entahlah, karena saya sendiri memilih baju pinjaman — bukan menyewa — pada saat menikah dulu karena pertimbangan kepraktisan.  Akad nikah berlangsung lancar dan khidmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat.  Pada saat tetua keluarga memberikan wejangan pernikahan dalam bahasa jawa kromo inggil (yang setengah mati berusaha saya pahami isinya), sesekali terdengar lenguh sapi dari kandang yang bersebelahan dengan rumah induk.  Bahkan para sapi tidak sungkan-sungkan melewati tenda berhias janur di halaman yang khusus dibuat untuk acara temu manten, karena itu satu-satunya jalan yang harus dilalui saat mereka akan digembalakan.

Setelah berganti pakaian resepsi — kali ini bajunya menyewa pada perias pengantin –, mempelai menempati pelaminan dengan hiasan bunga plastik sederhana yang sudah agak kusam dan hiasan rumputan di kanan kirinya.  Sebagian atap tanpa plafon dihias tirai kain yang sebagian masih menampakkan genting rumah karena terbatasnya kain penutup.  Rumpun euphorbia merah (bunga air mata ibu) dengan batangnya yang berduri dan beberapa tanaman pot koleksi pribadi diatur didepan pelaminan.  Sungguh, mawar dan krisan hanyalah sebuah kemewahan belaka.  Sebuah stand fan dihidupkan pada posisi maksimal untuk membantu mengurangi gerahnya ruangan.  Kemudian satu-satunya hidangan dibagikan dan tetamupun berpamitan sambil menyampaikan doa kepada pasangan pengantin.  Sangat tidak kebetulan sekali kalau pengantin putri sudah empat hari ini kena cacar air.  Sehingga Ibu perias pengantin harus bekerja keras menutupi lenting berisi cairan di wajah pengantin putri.  Dan sebaiknya cipika-cipiki pun ditiadakan.    Tidak lupa, para tetamu diberi cinderamata berupa dompet handphone dari kain.  Dan menjadi halal seorang perempuan untuk suaminya dan seorang laki-laki untuk istrinya.  Setengah dien akan dijalani, berat ringan akan ditanggung berdua, setelah ikatan yang sangat kuat, mitsaqon gholidzon, diikrarkan di hadapan Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s