Harta yang Harus Dimiliki

Ada saatnya kita perlu menyepi, mempunyai waktu untuk diri sendiri, melakukan telaah atas semua langkah yang lalu, kini, dan rencana-rencana.  Ada kalanya juga masa itu menjadi titik tolak suatu resolusi, sebuah janji, dengan harapan membawa kebaikan di masa datang.  Mudah nian menuliskannya, dan nyatanya memang terasa mudah dilakukan kalau masih sendiri.

Menjadi sangat kompleks bila kita sudah menikah.  Seberapa kompleks dan sulitnya sangat tergantung pada interaksi keduanya sehingga ada kesepakatan akan jalan yang telah dan akan dilalui.  Sungguh semakin sulit bila pasangan itu berjalan di jalur yang berbeda dan bukan tidak mungkin ini terjadi.  Banyak sekali saya jumpai, setelah bertahun-tahun bersama, mereka justru memilih berada di jalur yang tidak sama.  Entah lelah karena tidak mampu mendapatkan titik temu, atau memang sudah menjadi keputusan untuk berbeda sejak semula.  Alasan mereka untuk bertahan pun entah, seperti halnya alasan mereka untuk tetap berbeda.  Padahal betapa indah seandainya mereka menempuh jalan yang sama, saling mengingatkan untuk satu alasan yang sama, menuju target yang sama demi kebaikan bersama.

Apakah menjadi ‘sama’ adalah tawar-menawar dan timbang-menimbang? Saya yakin tidak.  ‘Sama’ disini seharusnya mengacu pada standar yang pasti dan terukur.  Sehingga bukan proses pelik yang perlu energi untuk mencapai kesepakatan.  Analoginya seperti ISO, ‘sama’ hanya bisa dicapai kalau pedomannya dan interpretasi terhadapnya sama.  Saat menghadapi auditor ISO lalu, walaupun buku pedomannya sama, tapi kalau interpretasi beda yang ada hanya “Ooooo…” panjang saat auditor menjelaskan pasal-pasal tertentu.  Dalam pernikahan juga begitu, walaupun buku pedomannya sama, seringkali auditornya beda, sehingga interpretasi jadi beda.  Mari kita simak hadits berikut:

Suatu hari, Tsauban r.a. bertanya kepada Rasulullah saw.,”Apakah harta terbaik yang harus kita miliki?”, Beliau menjawab,”Lisan yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri (suami) beriman yang membantu suami (istri) nya meningkatkan imannya.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Mungkin lebih indah lagi kalau suami adalah guru bagi istri.  Karena peran suami sebagai qowwam seharusnya mencakup seluruh aspek kehidupan, menggandeng istri menuju keabadian surga.  Dengan begitu, bisa berlaku sebaliknya, istri akan membantu suami meningkatkan imannya seperti pada hadits diatas.  Tapi rasanya hal ini sudah jarang sekali dijumpai (red: CMIIW).  Bahkan saya sangat setuju bila berjumpa teman sepantaran yang masih mencari seseorang yang bisa menjadi qowwam sehingga terlambat menikah atau menunda menikah.  Betul sekali bahwa menikah melengkapi setengah dari agama karena pencapaiannya sungguh tidak mudah.

(Picture was copied from http://mediasholeha.files.wordpress.com/2009/12/embun.jpg & http://pixels.pixeltango.com/wp-content/uploads/2010/08/44-We-will-stay-forever.jpg)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s