Ketika Kakak ‘Jauh’ dengan Adik

Anak merupakan salah satu topik pembicaraan yang tidak ada habisnya bagi ibu-ibu.  Selalu saja ada hal baru yang perlu diperbincangkan.  Mulai dari hal-hal sederhana seperti menu anak hari ini atau cara ampuh membangunkan si kecil lebih pagi agar tidak terlambat masuk sekolah.  Sampai hal yang menyangkut masa depannya seperti memilih sekolah.  Ibu-ibu yang mempunyai lebih dari satu anak pasti mempunyai topik yang lebih beragam, mulai dari keunikan interaksi kakak adik sampai membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan mempunyai anak dengan jarak usia tertentu.  Hal terakhir ini merupakan salah satu topik pembicaraan favorit saya.  Anak saya yang sulung menginjak usia 8 tahun saat adiknya lahir.  Kebanyakan teman berpendapat bahwa saya mesti bersyukur karena tidak direpotkan oleh anak-anak dengan jarak usia yang berdekatan pada saat mereka masih memerlukan banyak bantuan karena belum mandiri.  Pada kasus seperti yang saya alami, si kakak bahkan diharapkan sudah dapat membantu mengasuh adiknya.  Dengan jarak kehamilan yang berjauhan, paling-paling komentar teman adalah rasanya akan seperti hamil pertama lagi, sakitnya seperti melahirkan yang pertama, dan repotnya seperti baru pertama kali punya bayi.  Memang karena lama tidak hamil jadi ‘lupa’ bagaimana rasanya hamil, bahkan lebih berat karena usia sudah bertambah sekian tahun, ‘onderdil’ juga melemah.  Sakit melahirkan rasanya lebih dipengaruhi psikis dan kondisi fisik saat itu.  Si adik lahir setelah menjalani induksi, tentu saja sakitnya menjadi beberapa kali lipat.  Dan untuk merawat bayi, kerepotan karena kehadiran si adik ini lebih terbantu karena ada ibu yang menemani saya mengasuh bayi dibandingkan si kakak yang saya asuh sendiri tanpa didampingi ibu.  Jadi untuk komentar tersebut masing-masing sangat tergantung pada ‘sikon’.

Interaksi kakak adik juga bersifat unik.  Mungkin kakak yang lain akan dengan sukacita menyambut kehadiran adik dan segera menjadi asisten yang baik untuk ibu dalam merawat dan mengasuh adik.  Atau seperti si sulung saya, sukacita tentu saja, tapi karena sudah kelamaan sendiri tidak punya adik, perhatian yang terbagi menjadi sangat terasa untuknya.  Saat si adik sudah mulai besar, acara rebutan mainan, makanan, saluran televisi, atau pertengkaran klasik antara kakak adik karena masing-masing tidak mau mengalah tetap saja terjadi.  Padahal selain usia terpaut jauh, mereka juga beda gender… hahaha…  Jadi untuk urusan interaksi ini sangat tergantung pada ‘pelakon’.

 

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Kakak ‘Jauh’ dengan Adik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s