Susahnya Menulis

Menulis, yang dimaksudkan untuk konsumsi publik, baik fiksi maupun non-fiksi, ternyata prosesnya sama saja.  Perlu survey mendalam tentang topik yang akan ditulis dan kepiawaian merangkai kata hingga mampu memikat pembaca untuk membaca hingga huruf terakhir.

Survey sebelum menulis menjadi wajib karena kita tidak pernah tahu kalangan mana yang akan membaca tulisan kita.  Dan tentu saja untuk meloloskan tulisan kita dari ‘terkaman’ para reviewer sebelum dinyatakan layak untuk dikonsumsi publik.  Beberapa waktu lalu saya membaca cerpen yang sedikit menyinggung masalah medis dan memakai beberapa istilah medis.  Tapi sayangnya, beberapa istilah yang digunakan keliru dan tidak tepat sehingga membuyarkan piramida cerita yang sudah tersusun di benak saya.  Saya yang kebetulan sedikit belajar tentang istilah tersebut menjadi sangat terganggu karena pemakaian istilah yang salah.  Atau ada lagi hal lain yang bisa mempengaruhi kenyamanan membaca, yaitu informasi yang tidak lengkap.  Dalam menyuguhkan cerita kita tidak boleh berasumsi bahwa pembaca sudah tahu tentang hal yang sedang kita tulis.  Sebaiknya kita berpedoman bahwa pembaca samasekali belum tahu tentang hal tersebut, sehingga tulisan kita menjadi informatif dan menambah wawasan pembaca.  Apalagi kalau kita memilih topik yang ‘tidak umum’ dan merupakan hal baru bagi pembaca yang kita sasar dari segi kultur maupun latar belakang lainnya.  Seharusnya penulis adalah orang yang paling tahu tentang apa yang ditulis.  Dalam hal umum dan khususnya sebuah topik, topik percintaan adalah topik yang sangat umum.  Karena hampir semua orang pernah mengalaminya walaupun sudut pandangnya bisa berbeda-beda.

Jadi, walaupun menulis itu mudah, tapi membuat tulisan yang baik itu tidak mudah.  Perlu soul, passion, dan kerja keras untuk menghasilkan tulisan yang indah, runtut, dan informatif.  Mungkin harus menjadi hobi agar ada rasa cinta saat menulis.  Sedikit berbeda dengan tulisan fiksi, pada saat menulis topik non-fiksi, misalnya tugas akhir atau karya ilmiah, perlu ada satu ‘alat pemaksa’ yaitu batas waktu sekolah.  Karena tidak semua yang sekolah hobi menulis.  Yang bisa dilakukan mungkin memilih topik yang kita sukai untuk ditulis.

Gambar diunduh dari: http://serc.carleton.edu/images/sp/carl_ltc/wacn/writing.jpg

 

Advertisements

One thought on “Susahnya Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s