Liboeran Jadoel

Melihat jaman berubah, termasuk mengamati bagaimana anak-anak mengisi waktu liburan, membuat saya teringat bagaimana saya dulu menghabiskan waktu libur.  Dulu kalau liburan sekolah biasanya saya ‘dikirim’ ke rumah kakek nenek di kota lain.  Mungkin agar tidak ‘ngribetin’ orangtua karena jadi teringat ingin ini dan itu… hehehe

Mbah dari sisi ayah tinggal di Kraksaan, sebuah kota kecamatan di pesisir pantai utara.  Di rumah mbah saya mengisi waktu dengan membantu membuat carang mas dan es lilin yang akan dititipkan ke warung-warung di sekitar rumah.  Kegiatan lain membaca majalah berbahasa Jawa ‘Penjebar Semangat’ atau ‘Joyoboyo’ langganan budhe.  Kolom favorit saya ‘Alaming Lelembut’ dan ‘Opo Tumon’… hehehe.  Sering juga saya main atau sekedar bergosip dengan sepupu yang sepantaran.  Dari semua hal yang saya alami pada masa liburan di rumah mbah, perjumpaan dengan sepupu ini yang paling saya tunggu-tunggu.  Sepupu saya ini dua tahun lebih tua dari saya.  Kami mempunyai kesukaan dan selera yang hampir sama.  Kami sama-sama senang mengamati sifat manusia.  Baik ditinjau dari zodiak, nama, dan urutan lahir dalam keluarga.  Sampai urusan asmara dan kecocokan jodoh pun kami bahas dari sisi zodiak.  Selain itu kami bahkan mengalami tahapan kehidupan yang hampir mirip dan kami rasakan hingga dewasa, seperti sama-sama menikah dengan laki-laki aquarius… hahaha.  Oleh sepupu saya, setiap pagi saya diajak berbelanja ke pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah.  Sepupu saya ini luar biasa supel dan pandai menawar.  Dia hafal setiap sudut pasar dan lapak-lapak yang menjual kebutuhan dengan harga termurah.  Hampir semua orang di pasar mengenal dia.  Saya jadi numpang tenar kalau sedang berjalan dengannya… hehehe.  Di rumah mbah semua fasilitas cukup lengkap seperti listrik, televisi, dan kulkas, kecuali kadang-kadang kami masih harus menimba air dari sumur untuk mengisi bak mandi dan keperluan lainnya karena pembatasan penggunaan pompa listrik.  Kuliner wajib disini rujak cingur atau kalau di rumah cukup  tempe goreng yang dicolek sambal brambang khas buatan budhe dan dimakan dengan nasi hangat… hmmm…

Selain di rumah mbah, kadang-kadang saya menghabiskan liburan sekolah di rumah eyang dari sisi ibu.  Tempat tinggalnya lebih jauh dan desanya lebih terpencil.  Jatirogo adalah desa yang dikelilingi hutan jati di perbatasan kota Tuban dan Bojonegoro.  Di sana juga tinggal sepupu-sepupu yang sepantaran.  Waktu liburan saya isi dengan main catur lawan eyang kakung dan – lagi-lagi – membaca.  Bacaannya masih majalah berbahasa Jawa ‘Penjebar Semangat’ atau ‘Joyoboyo’ tergantung bulan itu eyang langganan yang mana.  Atau majalah ‘Ananda’ langganan sepupu saya.  Dari ‘Ananda’ ini saya mengenal kisah Mahabharata, perang Bharatayuda, dan Ramayana yang disajikan dalam bentuk komik bersambung oleh Teguh Santosa.  Kalau ada cerita yang belum jelas, tanya saja ke eyang kakung.  Kadang-kadang beliau bercerita dongeng Mahabharata sembari main catur dengan saya.  Seperti lazimnya rumah-rumah di desa, eyang memelihara ayam, bebek, dan burung dara untuk memenuhi kebutuhan protein hewani penghuni rumah.  Di rumah juga ada ruang khusus yang dijadikan lumbung padi.  Menyenangkan sekali menghirup udara bercampur bau kayu bakar dari anglo di pagi hari.  Air juga masih harus ditimba dari sumur untuk mengisi bak-bak penampungan air yang luar biasa besar.  Saya sampai membayangkan bisa berenang di bak kamar mandi saking besarnya.  Kebutuhan listrik desa diadakan secara swadaya melalui diesel dan hanya terfasilitasi dari pukul lima sore sampai pukul sembilan malam.  Malam-malam menjelang tidur diisi dengan ngobrol dan bergosip dengan sepupu.  Kalau masih belum bisa tidur juga akhirnya mengkhayalkan danyang-danyang sedang berkumpul di pojok kamar yang gelap atau sosok tanpa wajah sedang mengintip kami dari celah jendela (eh, bagaimana mau mengintip kalau tidak punya wajah… hehehe).  Jendelanya tanpa teralis, eyang putri menyandarkan baki dari seng di setiap jendela untuk mengagetkan atau membangunkan pemilik rumah kalau ada pencuri masuk rumah lewat jendela.  Kuliner pagi biasanya serabi dan kuliner sore tahu campur yang dibungkus daun jati.  Kadang-kadang eyang mengajak saya ke pasar dengan menumpang dokar.  Rumah eyang yang kuno, luas, tinggi, berdinding tebal dengan perabotan kunonya serta bau kayu bakar seolah menyimpan aroma mistis sekaligus menyenangkan.  Suasana yang sangat berbeda dengan rumah saya di kompleks perumahan di kota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s