Penampilan, Seberapa Perlu?

Kapan ya terakhir memilih-milih setelan yang pas dengan seksama? atau mematut-matut warna jubah yang sesuai dengan jilbab? atau memperhatikan wajah di cermin untuk mengecek, ada noda atau jerawat muncul tanpa diundang? atau memilih aksesori yang warnanya pas dengan baju hari itu?

Hmm… semua ini urusan penampilan.  Pada dasarnya saya termasuk orang yang cuek bebek (kurang tau deh, kenapa bebek ini menjadi ‘bebek’ hitam untuk urusan cuek) dalam hal penampilan.  Bahkan di masa kuliah dulu seorang senior mengomentari pakaian yang sama yang saya pakai untuk beberapa hari berturut-turut.  Bukannya males ganti, tapi karena males nyuci… ahaa… atau lebih tepatnya karena bajunya masih bersih dan belum bau keringat (ngeles.com).  Saya juga tidak terlalu peduli apakah jubah saya sudah cocok dengan sepatu kets yang sering saya pakai karena nyaman atau apakah tas belel saya masih pantas dipakai di acara seminar setengah resmi.  Blass… urusan penampilan tidak menjadi prioritas pada waktu itu.  Boro-boro membeli obat jerawat, bedak saja sudah habis sejak semester kedua kuliah.  Itupun bekal dari bunda tercinta yang ingin putrinya kelihatan ‘pantas’ sebagai perempuan.

Tapi rupanya masa ada batasnya juga.  Peralihan fase kehidupan ternyata cukup sakti untuk membuat saya  memikirkan urusan penampilan.  Profesi sebagai pengajar yang menuntut perhatian ratusan pasang mata untuk fokus pada makhluk di depan kelas — kalau sedang tidak memperhatikan materi kuliah yang saya bawakan — membuat saya mulai memperhatikan hal yang satu ini.  Walah, ribet juga tetek bengek penampilan ini untuk saya yang tidak familiar dengan pembersih, penyegar, pelembab, mix and match, dll.  Selain butuh waktu dan biaya, juga perhatian ekstra agar misalnya tidak membeli kosmetik yang tidak cocok atau paling tidak mesti — sedikit — hafal dengan koleksi baju dan jilbab model apa dan warna apa saja yang saya punyai agar tidak membeli sesuatu karena impulsif.  Singkatnya, perubahan ini harus tetap efektif dan efisien seperti motto hidup saya.  Penampilan, dalam hal profesi saya ini, memang antara perlu dan tidak perlu.  Perlunya ya itu tadi, mencegah rasan-rasan berulang.  Kalau dulu dari senior, sekarang bisa saja rasan-rasan itu datang dari mahasiswa.  Setidaknya, menjadi pengajar yang ‘enak dilihat’ sehingga membuat kelas lebih ‘bergairah’ disamping cara memberikan materi yang komunikatif dan tidak membosankan.  Walaupun tentu saja item terakhir itu yang paling penting.  Rasanya, penampilan ini cukup pantas menduduki peringkat ketiga dalam profesi mengajar setelah kepakaran dan kepintaran berkomunikasi.  Ya… cukuplah sebagai peringkat ketiga dalam pengalaman saya berkarir hingga saat ini.

Gambar diunduh dari http://studenthacks.org/wp-content/uploads/2007/10/lecture.jpg

Advertisements

6 thoughts on “Penampilan, Seberapa Perlu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s