Epilog

Malam itu…

Kita duduk berseberangan berbatas meja kayu

Ada nyala lilin yang bergoyang ragu

Dan gelisah yang menyelimuti diriku

Wajahmu tenang, seperti laut saat senja

Naluri membawaku meraih tanganmu

“Tahun depan kamu menikah ya…”

Suaraku terdengar seperti gaung dari bawah sadar

Susah payah kutahan getarnya sebelum menjadi pekat

“Ya…”

Jawabmu ringan dan mengambang

Entah apa yang kau pikirkan

Serta merta kilasan berbagai episode bermain di benakku

Tiba-tiba pandanganku berkabut

Dirimu merapatkan genggaman dan titik pertamaku jatuh

Aku tunduk, sibuk memasang topeng bahagiaku untukmu

“Kamu kan tahu kita tidak mungkin bersama…”

Suaramu terdengar bagai dari alam lain

Mengacaukan sandiwaraku

“Ya…”

Logikaku bersuara walau setengah mati hatiku menyangkal

Sudahlah, aku sudah menyalahartikan semua kebaikanmu

Atau kita saja tidak cukup untuk semuanya

Sehelai daun gugur menutup layar hati

Bersama nyala lilin yang meredup kemudian mati

Tinggal aku sendiri di sudut sunyi

Menyesali kebodohanku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s