Smartphone vs Smart Person

Berawal dari handphone lama yang mulai penyakitan dan — kelihatannya — ingin segera pensiun.  Kadang-kadang sehari bahkan seminggu minta ijin tidak beroperasi.  Terakhir penyakitnya sudah menjalar kemana-mana hingga nyaris tidak dapat difungsikan samasekali.  Handphone yang sudah 4 tahun setia menemani saya dalam suka dan duka (weleh… sentimentil ya).  Handphone yang nilainya — pada saat itu — setara dengan sebulan uang beasiswa pada saat saya melakukan riset studi lanjut di negeri jiran.

Maka, melalui banyak pertimbangan, akhirnya sebuah smartphone dengan sistem operasi android menggantikan fungsinya.  Wacana tentang smartphone belum terlalu lama masuk perbendaharaan kata saya.  Sampai saya merasa perlu browsing khusus tentang smartphone untuk memastikan bahwa pilihan saya tidak salah.  Tentu saja dengan berbagai plus-plusnya yang — diharapkan — dapat mempermudah pekerjaan saya.  Diantaranya mengunduh, mengedit, dan membuat naskah berbasis windows, dan terkoneksi internet untuk hal-hal seputar pekerjaan.  Maunya sih, saya bisa mengetik naskah sambil tidur-tiduran sekaligus mengirimkannya dalam lampiran surat elektronik untuk pembimbing.  Tapi, alamak… beberapa hari pertama saya hanya dikagetkan dengan fitur-fiturnya yang beberapa diantaranya menguras pulsa.  Sebentar-sebentar ada data masuk, update ini, update itu.  Biaya langganan data yang biasanya bertahan seminggu dengan handphone lama, menjadi surut tidak lebih dari dua hari.  Agenda membaca manual  atau userguide setiap mempunyai barang elektronik baru menjadi tertunda karena kesibukan mengajar di awal semester.  Untung saja kesempatan pertama adalah belajar menghentikan berbagai akses data.  Kebiasaan memencet pun sekarang berubah menjadi menyentuh.  Karena belum familiar dengan tampilan layarnya, menjadikan pelajaran berikut adalah menerima incoming call… *sigh

Dari pengalaman ini, rasanya saya sedang adu kepintaran dengan gadget baru saya.  Nantinya, dia yang akan berhasil mengelabui dan menguras kantong saya atau saya yang bisa mengoptimalkan dia untuk mempermudah pekerjaan saya.  Harapannya, pada tulisan berikutnya nanti judul diatas menjadi “Smartphone FOR Smart Person“… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s