Pengemis dan Kucingnya

Setiap kali saya dan anak sulung saya melewati jalan di sisi timur pasar Tawangmangu di kota tempat tinggal kami, selalu terdengar komentar anak saya,
”Bu, pengemis itu mesti sama kucing itu.”
Dan saya yang saat itu hampir selalu sedang tarik gas dalam-dalam karena harus segera menjemput si kecil cuma bisa celingak-celinguk,
”Mana, mana… ?”,
dan ,”Yaahh… sudah lewat Bu. Besok kita lihat lagi ya, pasti masih dengan kucing itu.” Jawabnya.
Akhirnya pagi ini saya berkesempatan melihat ‘pengemis dan kucingnya’ yang selalu menjadi perhatian anak saya. Seorang perempuan tua duduk beralas kain di emper sebuah toko. Disebelahnya ada tas usang, payung, dan seekor kucing belang bergelung kedinginan. Saya teringat pertanyaan anak saya,
”kenapa kucing itu mau sama pengemis ya Bu? Dia kan tidak punya apa-apa?”
“Mungkin pengemis itu selalu membagi makanan yang didapatnya dengan kucing itu, makanya mereka berteman.” Jawab saya mengira-ngira. Walaupun mungkin saja kucing itu memang kucing peliharaannya yang ikut pergi meninggalkan rumah bersamanya.
Tapi sejauh yang saya tahu, semua orang butuh teman. Seperti perempuan tua itu, dia juga berteman walaupun dengan seekor kucing. Entah disengaja atau tidak olehnya, kucing itu hampir selalu kelihatan bersama dengannya. Bisa jadi seekor kucing dipilih karena lebih penurut, setia, dan tidak merepotkan seperti berteman dengan manusia. Mungkin saja kan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s