Thai on Vacation #1

Jarum jam menunjukkan pukul 9.00, saat kami bersiap berangkat ke bandara internasional Juanda untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok menumpang maskapai Air Asia. Pesawat Airbus 320 nomer penerbangan QZ8122 yang kami tumpangi nanti dijadwalkan berangkat pukul 15.00. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti wisata yang diatur oleh agen perjalanan. Segala sesuatu yang biasanya saya persiapkan dengan serbamepet.com tidak berlaku lagi agar tidak mengacaukan jadwal perjalanan. Apalagi rombongan ini terdiri dari 37 orang staf dan karyawan FKUB, sama saja dengan diomelin orang sekampung kalau nekat molor.

Halte Jl.Veteran Malang, setia menunggu jemputan.
Halte Jl.Veteran Malang, setia menunggu jemputan.

Tiba di bandara Juanda kurang lebih pukul 12.00. Setelah menikmati makan siang sebelum take-off, pukul 13.45 kami check-in. Kemudian tepat pukul 15.15 pesawat mengudara menembus awan cumulus yang menemani kami selama hampir sepanjang perjalanan nanti.

Melayang diatas cumulonimbus...
Melayang diatas cumulonimbus…

Beberapa saat kemudian pramugari mulai menjajakan makanan dan minuman. Satu porsi Nasi Minyak ala Farah Quin segera berpindah ke perut. Padahal baru saja makan siang. Nasi minyak ini dimasak dengan minyak samin, bawang putih, bawang merah, jahe dan saus tomat dengan taburan kismis dan potongan nanas. Rasanya mirip nasi kebuli yang dimasak dengan daging kambing dan bumbu jintan. Disajikan dengan krengsengan daging yang empuk dan potongan wortel yang dibungkus bokchoy, menu ini memang pantang untuk dilewatkan. Apalagi dimakan dengan sambal nanas selagi panas. Strong recommended!

"Meal on the Sky", Nasi Minyak ala Farah Quin.
“Meal on the Sky”, Nasi Minyak ala Farah Quin.

Empat jam kemudian kami mendarat di bandara internasional Don Mueang, Bangkok. Sebuah bis double decker dengan kapasitas 40 orang menjemput kami. Bis ini juga yang nanti akan membawa kami kemana-mana selama tour. Pemandu kami seorang laki-laki asli Thailand yang fasih berbahasa Melayu bernama Saudi. Entah bagaimana ejaan namanya dalam bahasa Thai, tapi setidaknya itulah yang tertangkap oleh telinga saya. Tujuan pertama adalah Sophia Restaurant di jalan Ramkamhaeng Soi 5, Suan Luang Khwaeng. Di rumah makan yang sudah lebih dari 20 tahun menyediakan makanan halal ini kami pertama kali berkenalan dengan masakan khas Thailand yang disajikan secara buffet. Dari enam jenis masakan yang disajikan, empat diantaranya mengandung makanan laut baik cumi, udang, dan ikan. Hanya telur dadar dan ayam bumbu kecap yang dihasilkan dari daratan. Lalapannya kecipir, timun, kacang panjang, dan jahe muda atau halia dalam bahasa Malaysia.

Pukul 21.00 kami check in di hotel All Seasons jalan 5 Soi Ramkamhaeng 15 Ramkamhaeng Road Huamark, Bang Kapi. Kamar standart di hotel berbintang tiga grup Accorhotel ini berharga 750 Baht. Saat ini 1 Baht kurang lebih bernilai 340 Rupiah. Tempat tidurnya cukup nyaman walaupun ruang shower di kamar mandi menurut saya terlalu sempit. Di ruangan tidak disediakan petunjuk arah kiblat. Tetapi untungnya tour guide kami sempat berpesan bahwa kiblat mengarah ke belakang hotel dan agak miring ke kanan. Padahal saya menjadi agak disorientasi setelah masuk lift dan berputar-putar mencari kamar. Aplikasi arah kiblat di handphone belum dapat diakses karena saya belum memakai nomer lokal sehingga koneksi internet belum dapat diaktifkan. Sedangkan provider Indosat yang bekerjasama dengan provider lokal menawarkan paket internet 75 ribu/hari. Alhasil, silahkan mencari kembali “belakang hotel”. Di meja hotel disediakan wine dan bir berbayar. Tetapi saya agak kaget menemukan kondom diantara camilan yang disajikan. Selain itu saya agak kesulitan mengidentifikasi isi camilannya karena hampir semua tulisan di bungkusnya memakai abjad Thai yang disebut Abugida yang – kelihatannya — mirip abjad Jawa/Sansakerta. Abjad Thai dibuat oleh Raja Rakhamhaeng pada tahun 1283 berdasarkan tulisan Pallawa. Sia-sia saja memirip-miripkan abjad Thai dengan abjad Latin. Saya hanya bisa mengira-ngira merk camilan dari desain bungkusnya, baik warna maupun bentuk tulisannya. Kelihatannya, salah satu camilan berbungkus plastik warna kuning yang ditawarkan adalah keripik kentang merk “Lays”, mungkiiin. Untung saja komposisinya dituliskan dalam abjad latin (bahasa Inggris).

Abugida, abjad Thai, di Bandara Don Mueang.
Abugida, abjad Thai, di Bandara Don Mueang.
Kemasan kondom, nyempil diantara kemasan ma-min di kamar hotel.
Kemasan kondom, nyempil diantara kemasan ma-min di kamar hotel.

Jalan-jalan besar di Bangkok biasanya diawali dengan “Soi” yaitu semacam Blok. Nomer “Soi” genap terletak di kiri jalan utama sedangkan ganjil di kanan jalan. Kalau ada jalan baru diantara yang lama maka nomor lama diikuti urutan baru, misalnya Soi 7/1 terletak diantara Soi 7 dan 9. Soi berikutnya adalah 7/2 dan seterusnya. Sehingga bukan tidak mungkin Soi 7 dan 8 terletak berjauhan. Jalan-jalan di kota Bangkok juga mempunyai “nickname” yang ditambahkan di belakang nama utamanya, misalnya Huamark/Bang Kapi untuk hotel tempat tinggal kami.

Akhirnya kami menghabiskan sisa malam ini dengan tertidur pulas nyaris tanpa mimpi sambil membayangkan bagaimana perjalanan esok hari. Agenda besok, kunjungan ke Sriracha Tiger Zoo dan Gems Gallery Pattaya bisa disimak di Bagian 2 catatan perjalanan kami.

Advertisements

4 thoughts on “Thai on Vacation #1

  1. di surabaya penukaran Baht thailand yang recommended dimana ya mbak? saya mau ke thailand bingung mau nuker mata uang dimana… haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s