Thai on Vacation #2

Pukul 5.30 alarm dari handphone membangunkan saya. Disusul “wake up call” yang sudah dipesan pada operator hotel. Menurut pemandu kami, sholat subuh di Bangkok sekitar pukul 5.30. Tidak terdengar adzan dari sekitar hotel. Tidak ada perbedaan waktu antara Malang dan Bangkok walaupun posisi geografis Bangkok 10 derajat lebih Barat daripada Malang. Kami turun sarapan pukul 7.00. Menunya cukup “internasional” seperti roti dengan selai atau madu, salad buah dan sayur, jus, kopi, teh, susu panas dan susu segar, nasi, sup, menu utama daging dan vegetarian. Menu yang mengandung babi dipasangi label “with pork”. Saya memilih menu utama Nasi Goreng India dan Kari India. Keduanya berlabel “vegetarian”. Pagi ini kami langsung check-out karena nanti malam kami menginap di Pattaya.

Masih ada sedikit waktu sebelum berangkat. Saya dan beberapa teman berjalan-jalan di sekitar hotel. Di sudut halaman hotel terdapat bangunan tempat ibadah agama Budha, agama mayoritas penduduk Thailand. Mirip dengan Bali, hampir semua sudut bangunan yang saya temui menyediakan tempat peribadatan. Ada juga sebuah altar sesajian yang dibuat di bawah pohon besar dekat hotel. Pagi itu juga saya baru tahu kalau ada fasilitas kolam renang di hotel. Jadi ingin nyemplung, sayangnya sudah check out.

Tempat ibadah agama Buddha di sudut halaman Four Season.
Tempat ibadah agama Buddha di sudut halaman Four Season.

Sedikit agak jauh dari hotel mengalir sungai yang tidak terlalu besar tetapi bersih dan arusnya cukup kuat. Di dekatnya terdapat dermaga yang berfungsi sebagai halte. Sungai merupakan salah satu jalur transportasi penting di Bangkok. Alat transportasinya berupa bis air (water bus) yang mampu menampung penumpang hingga 50 orang.

Sungai dan dermaganya di dekat hotel.
Sungai dan dermaganya di dekat hotel.

Tepat pukul 8.00 bis bergerak meninggalkan Bangkok menuju Pattaya. Kalau tidak mampir-mampir, perjalanan Bangkok-Pattaya akan memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan jarak tempuh 150 km. Tapi menurut jadwal tour hari ini dalam perjalanan menuju Pattaya kami akan mampir ke dua tempat wisata, yaitu Sri Racha Tiger Zoo dan Gems Gallery.

Keluar Kandang Buaya, Masuk Kandang Harimau

Setelah 1,5 jam dari Bangkok tibalah kami di Sriracha Tiger Zoo. Sebuah kebun binatang yang terletak di kota Sri Racha, Provinsi Chonburi. Konon kebun binatang ini memiliki penangkaran harimau dan buaya yang terbesar di dunia. Di dekat pintu masuk ada sebuah kandang yang dihuni induk harimau dan induk babi. Tampak induk harimau menyusui anak babi dan induk babi menyusui anak harimau. Agak berbeda dengan pepatah Jawa “Kebo nyusu gudel” yang berarti orangtua mengambil pelajaran atau ilmu dari generasi muda. Setelah berkeliling sebentar, tepat pukul 10.00 kami menonton pertunjukan buaya yang lebih tepat disebut pertunjukan keberanian pawang buaya. Setengah jam kemudian kami berpindah tempat untuk melihat pertunjukan sirkus harimau. Cukup menghibur untuk anak-anak yang berkunjung. Di sana juga dijual bermacam-macam pernak-pernik bertema buaya dan harimau. Termasuk sate buaya yang dijual dengan harga 100 Baht atau 34.000 Rupiah per 5 tusuk. Di luar area kebun binatang dijual permen dan keripik khas Thai. Saya membeli permen durian dan permen kelapa seharga 100 Baht/5 bungkus.

Salah satu kandang penangkaran buaya di Sriracha Tiger Zoo.  Tidak ada 'buaya daratnya' ya :)
Salah satu kandang penangkaran buaya di Sriracha Tiger Zoo. Tidak ada ‘buaya daratnya’ ya 🙂
Kedai yang menjual sate buaya.
Kedai yang menjual sate buaya.

Ketan Mangga yang Tak Terlupakan

Pukul 12.30 kami makan siang di Amir Halal Food yang bersebelahan dengan Masjid Toatilah di daerah Pattaya. Yang spesial dalam menu hari ini adalah hidangan penutup asinan udang dan ketan mangga. Saya namakan asinan udang karena rasa kuahnya seperti yang asam segar seperti kuah asinan Bogor. Isi asinan udang ini adalah udang kupas yang cita rasanya manis dan segar, anggur hitam, anggur hijau, tomat mini atau tomat cherry, apel, ketimun, dan kacang tanah kupas. Satunya lagi juga luar biasa, yaitu ketan mangga atau Khao Neow Ma-muang. Ketan yang dimasak dengan santan dan gula ini dimakan dengan irisan mangga. Perpaduan rasa gurih, manis dan segar. Mangganya mirip mangga kepodang yang kulitnya kuning terang. Daging buahnya lembut, nyaris tidak berserat dan sangat berair. Saking enaknya, seorang anggota rombongan pesan ketan mangga lagi dengan harga 70 Baht/porsi. Versi lain dari olahan ketan ini adalah ketan durian. Makanan dengan bahan dasar ketan tentu saja tidak asing bagi lidah Indonesia. Tetapi bulir ketannya yang lebih besar dan kekenyalannya yang pas menjadikan ketan mangga ala Thailand ini tak terlupakan.

Ketan mangga ala Thai, ketannya punel dan mangganya manis segar.
Ketan mangga ala Thai, ketannya punel dan mangganya manis segar.
Asinan udang dan buah.
Asinan udang dan buah.

Petualangan di Gua Permata

Pukul 14.00 kami tiba di Gems Gallery cabang Pattaya. Gems Gallery adalah pabrik permata terbesar di dunia yang memiliki beberapa cabang di Thailand yaitu Bangkok, Chiang Mai, Pukhet, dan Pattaya. Di pintu masuk pengunjung dapat mengikuti tour bertajuk “Gems Discovery” tentang sejarah berlian dari terbentuknya batu berlian hingga menjadi perhiasan. Pengunjung diantar oleh berkeliling di sepanjang terowongan oleh kereta yang dikontrol computer (computer control train) yang dilengkapi dengan narasi sesuai bahasa yang diinginkan. Sehingga pengunjung yang memiliki bahasa pengantar berbeda tidak dapat naik kereta yang sama. Di dalam terowongan pengunjung disuguhi diorama bergerak disertai ilustrasi suara dan cahaya. Setelah turun dari kereta, di ujung terowongan kami melanjutkan perjalanan melihat bagaimana berlian diproses dari pengasahannya, pemasangannya, hingga menjadi perhiasan cantik yang siap dipakai. Keluar dari pabrik, masuklah kami ke sebuah galeri perhiasan yang sangat luas. Di sana ada perhiasan yang dijual maupun dipamerkan. Jenisnya mulai dari cincin, bros, kalung, anting, gelang, hingga tiara. Bentuknya mulai dari yang sederhana dengan satu permata hingga ratusan permata yang terangkai rumit dan berwarna-warni. Tidak usah bertanya berapa harga termahal, tetapi cincin permata termurah dijual dengan harga 1.500 Baht. Tidak terjangkau oleh bekal saya yang hanya 1.000 Baht. Keluar dari galeri yang membuat dompet menjerit kami memasuki area yang menjual berbagai cenderamata dengan harga terjangkau. Puas melihat-lihat, tersedia area istirahat yang menyediakan minuman gratis. Pengunjung boleh memilih teh, kopi, kopi krim, soft drink, bahkan bir dan menikmatinya sambil duduk-duduk santai membayangkan keindahan tak terjangkau kantong di dalam galeri tadi. Ini berlaku untuk saya saja kali ya. Dan yang penting, di Gems Gallery tidak diperkenankan mengambil gambar kecuali di area istirahat.

Perjalanan berikutnya menelusuri Pattaya dan Budda Laser bisa disimak di Bagian 3.

Advertisements

3 thoughts on “Thai on Vacation #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s