Thai on Vacation #3

Pattaya Sekejap Mata

Pattaya yang berada di propinsi Chonburi adalah salah satu kota di Thailand dengan hak-hak istimewa dalam pemerintahan dan mengatur pendapatan daerah.

Angkot terbuka di kota Pattaya.
Angkot terbuka di kota Pattaya.

Terletak di pantai timur teluk Thailand, kota ini menawarkan keindahan pantai dan kehidupan malam yang tak pernah mati. Di sepanjang jalan menuju pantai tampak bar-bar dan panti pijat khas Thai. Perempuan yang melayani bisa perempuan betulan atau jadi-jadian. Asal tahu saja, Thailand termasuk negara yang melegalkan jenis kelamin ketiga atau trans-gender. Memasuki wilayah pantai tampak berderet kursi berjemur yang disewakan dengan harga 40 Baht. Kami tiba disana saat matahari sore bersinar hangat sehingga cocok untuk berjemur. Pukul 16.00 kami diturunkan di Mike Mall, salah satu pusat perbelanjaan terbesar dengan pemandangan langsung menghadap pantai. Acara bebas hingga pukul 18.00 saya manfaatkan untuk melihat-lihat harga cenderamata dan berjalan-jalan di pantai hingga matahari terbenam. Di Mike Mall saya sempat tergiur kacamata gelap seharga 99 Baht.

Kolektor kacamata *maruk.com :)
Kolektor kacamata *maruk.com 🙂
Ini lho buktinya kalau sudah nyampai Pattaya :D
Ini lho buktinya kalau sudah nyampai Pattaya 😀

Pulang dari pantai saya mengantar teman membeli kartu telepon lokal di minimarket Family Mart di sebuah lorong tidak jauh dari Mike Mall. Kami agak berlama-lama di sana karena teman saya mengalami kesulitan saat ingin menginstall kartu lokalnya. Provider lokal hanya menyediakan layanan dalam bahasa dan abjad Thai. Sambil menunggu teman yang disibukkan dengan bahasa tarsannya, saya membeli beberapa varian Tao Kae Noi titipan anak saya, bumbu instan Tom Yum, dan sambal kemasan khas Thailand. Tentu saja setelah membaca baik-baik komposisinya dan hanya membeli makanan dengan label halal. Di sini saya membelanjakan 111 Baht. Di minimart itu saya juga sempat membantu seorang turis asing yang bermasalah dengan handphonenya. Turis itu kelihatan agak frustasi setelah berhadapan dengan pramuniaga yang cuma cengar-cengir mendengar keluhannya. Agak mengherankan kalau di daerah wisata terkenal semacam ini pramuniaga tidak bisa berbahasa Inggris kecuali “thank you”. Sementara bahasa Thai yang kami kuasai hanya “ka pun kha” (terima kasih). Alhasil, saya dan teman saya terlambat 15 menit dari waktu berkumpul yang dijadwalkan.

Sisi timur pantai Pattaya dengan latar belakang Hotel Hilton.
Sisi timur pantai Pattaya dengan latar belakang Hotel Hilton.
Sunset.
Sunset.

Spooky Hotel

Setelah makan malam di Amir Halal Food tempat kami makan siang, kami check in di hotel Royal Century. Dari pintu masuk hotel sampai masuk kamar tampak jelas interiornya yang “vintage”. Ruang lobinya yang luas berdekorasi klasik, lorong-lorongnya lebar, dan pintu kamarnya memakai kunci biasa (bukan kunci elektronik seperti hotel-hotel modern). Cahaya lampu yang remang di sepanjang lorong menuju kamar kami di lantai 5 membuat bulu kuduk berdiri. Luas kamarnya hampir dua kali luas kamar standart di All Season. Di dalam kamar, diantara dua tempat tidur ada meja kecil yang dipenuhi tombol kontrol yang sudah tidak berfungsi. Cermin besar juga terpasang di salah satu sisi kamar. Kamar mandi dilengkapi bath tub yang sudah agak kusam. Tirai besar berwarna coklat muda yang menutupi pintu dan jendela kaca ke arah balkon serta lampu kamar yang remang-remang membuat suasana semakin suram. Untung saja malam itu saya lalui dengan “baik-baik” saja. Mungkin karena langsung tertidur pulas hingga pagi. Keesokan harinya salah seorang senior bercerita kalau mendengar “suara aneh” di belakangnya selesai mengucapkan salam saat sholat Isya.

Cenderamata dari Bikkhu

Pagi itu saya bangun sebelum wake up call pukul 5.30 dari hotel. Saya dan teman saya menyempatkan diri berjalan-jalan di pantai yang berjarak 2 blok dari hotel tempat kami menginap. Suasana jalan masih lengang. Tampak beberapa turis asing sedang lari pagi. Di beberapa kafe yang terbuka berserakan botol-botol bir kosong. Lapak-lapak yang menjual makanan untuk sarapan dan buah-buahan sudah mulai buka. Termasuk lapak yang menjual bunga untuk keperluan sembahyang. Di tepi jalan menuju pantai kami melihat seorang bikkhu sedang memberikan doa untuk dua orang lokal. Sepulang dari pantai kami mencoba mengajak bikkhu itu foto bersama. Setelah foto, tanpa bicara bikkhu itu memberi kami dua buah gelang terbuat dari tali. Setelah kami amati, ternyata ada tulisan huruf Thai kuno pada lempengan logam tipis pengikat gelang. Sayangnya pemandu wisata yang kami tanyai tidak tahu apa arti tulisan tersebut. Anggap saja artinya do’a atau penolak bala. Dalam perjalanan pulang saya membeli susu kedelai yang berisi biji selasih dan potongan nata de coco seharga 20 Baht.

Bikkhu boleh berfoto dengan perempuan walaupun tidak boleh menyentuh dan berbicara dengan mereka.
Bikkhu boleh berfoto dengan perempuan walaupun tidak boleh menyentuh dan berbicara dengan mereka.

Super Waspada di Royal Century dan Kepanasan di Buddha Laser

Memilih menu sarapan di hotel Royal Century harus ekstra hati-hati. Tidak seperti di All Season yang mencantumkan label “with pork” pada masakan tertentu, tidak demikian dengan Royal Century. Hanya makanan dengan label “vegetarian” saja yang aman dikonsumsi. Selain itu ada dua nampan telur dadar. Setelah diberitahu teman, saya baru tahu kalau telur dadar di deretan masakan vegetarian saja yang “halal”. Selain itu mungkin “with pork” karena tidak diberi label. Setelah acara sarapan yang penuh “kecurigaan” kami check out dan melanjutkan perjalanan ke Buddha Laser. Tidak ada biaya masuk untuk berkunjung ke sana. Buddha Laser adalah pahatan gambar buddha duduk yang dibuat dengan laser pada tebing sebuah bukit. Pahatan tersebut kemudian dilapisi lempengan logam kuning. Landscape yang luas dan khas Thai di Buddha Laser cocok dijadikan latar belakang foto beramai-ramai. Hanya saja disini matahari bersinar sangat terik sehingga perlu memakai topi dan kacamata antisilau – bukan antigalau ya –. Selain itu lokasi toilet sangat jauh dan harus membayar.

Buddha Laser.
Buddha Laser.

Jalan-jalan dilanjutkan ke Nong Noch Tropical Garden, Super Bee Healthy, Pasar Terapung, dan MBK. Cekidot here 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Thai on Vacation #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s