Thai on Vacation #4

Terpisah di Hari Ketiga

Setelah melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 15 menit, kami tiba di Nong Noch Tropical Botanical Garden di Chonburi. Taman seluas 2km persegi ini merupakan taman konservasi yang mempunyai koleksi bermacam-macam tanaman tropis seperti kaktus, sukulen, sikas, palem, dan anggrek. Tersedia mobil keliling untuk mengitari kawasan tersebut. Di sini juga terdapat panggung “Thai Cultural Show” yang menyuguhkan bermacam-macam tari daerah Thailand yang disajikan secara medley hingga tari perang yang melibatkan gajah betulan. Ada juga pertunjukan seni bela diri Thailand, Muay Thai. Seni bela diri ini disebut juga dengan “Ilmu Delapan Tungkai” karena pada tekniknya melibatkan pukulan, tendangan, siku, dan serangan lutut atau delapan titik kontak.

Tari pemujaan Dewa dan Dewi.
Tari pemujaan Dewa dan Dewi.
Tarian ini mengingatkan saya pada tari Bambu dari Maluku.
Tarian ini mengingatkan saya pada tari Bambu dari Maluku.

Selesai pertunjukan, di belakang panggung sudah menunggu puluhan gajah yang siap “bermain-main” dengan pengunjung seperti pijat gajah, digendong gajah, naik gajah, hingga melihat gajah melukis. Hasil lukisan gajah dijual seharga 200 Baht.

Digendong gajah di Nong Noch Garden.  Bukan saya sih, hehe...
Digendong gajah di Nong Noch Garden. Bukan saya sih, hehe…

Dari arena gajah saya sempat terpisah dengan rombongan. Karena tidak tahu harus mencari kemana akhirnya saya memilih untuk kembali ke bis. Setelah satu jam menunggu, salah satu pemandu dari biro perjalanan menjemput saya untuk makan siang. Ternyata bukan saya saja yang “hilang”. Banyaknya spot-spot taman yang menarik untuk dikunjungi membuat beberapa teman juga terpisah. Siang itu kami makan siang di restaurant dalam kawasan Nong Noch. Menunya tidak jauh dari Tom Yum dan tumisan-tumisan dengan bahan dasar dari laut. Hanya saja kali ini tidak ada ikan. Buahnya semangka dan nanas yang dilengkapi cocolan cabe yang digerus dengan gula dan garam. Lumayan untuk menyamarkan rasa nanas yang masam. Tersedia juga pisang emas dan es sirup dengan isi potongan kolang-kaling, agar-agar, dan ubi jalar.

Madu dari Bunga Opium

Kunjungan berikutnya adalah Super Bee Healthy co.ltd. Di sini ada Ibu Nurhidayati yang siap menjelaskan proses pengumpulan madu, pollen, dan royal jelly. Madu yang dijual disini dihasilkan dari lebah yang diternakkan di ladang opium di wilayah Chiang Mai. Entah apa bedanya dengan madu dari bunga lain. Di tempat ini saya baru tahu kalau madu lebih baik dikonsumsi pada pagi hari saat perut kosong. Madu juga tidak boleh dicampur dengan air panas karena suhu yang tinggi dapat merusak enzim yang terkandung di dalamnya. Nah, berarti madu di dalam STMJ sudah kehilangan khasiatnya dan hanya berfungsi sebagai pemanis saja. Madu juga hanya boleh disendok dengan sendok yang terbuat dari kayu dan logam dan cukup disimpan dalam suhu ruang. Selain itu, Ibu Nurhidayati yang asli Padang ini juga menjelaskan tentang cara membedakan madu asli dan campuran. Madu campuran lebih mudah larut di dalam air dan lebih mudah diserap oleh kertas daripada madu asli. Puas menimba ilmu dan berbelanja madu, pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke Floating Market.

Ibu Nurhidayati sedang menunjukkan gambar buah opium yang getahnya dipakai untuk bahan dasar obat bius.
Ibu Nurhidayati sedang menunjukkan gambar buah opium yang getahnya dipakai untuk bahan dasar obat bius.

Bagai Berjalan di Labirin

Floating Market ini masih termasuk wilayah Pattaya. Berupa kluster-kluster bangunan kayu yang dihubungkan oleh jembatan di atas danau. Di sebelah kiri atau kanannya dibangun kurang lebih 114 kedai. Sedangkan di tempat yang terbuka berjajar perahu yang menjajakan barang dagangannya. Pengunjung juga bisa berperahu dayung berkeliling pasar atau bergaya di Photo House sambil mengenakan pakaian adat Thai. Kedai-kedainya menjual makanan, minuman, perhiasan, pakaian, dan cenderamata. Dekat pintu masuk ada kedai yang khusus menjual produk Tao Kae Noi.

Kedai Tao Kae Noi Land di Floating Market, Pattaya.
Kedai Tao Kae Noi Land di Floating Market, Pattaya.

Di sini saya juga berjumpa dengan Turk’s ice cream yang halal, spiral potatoes, ikan, sotong dan gurita bakar, kerang, serangga dan kalajengking bakar, sate buaya, hingga masakan kaki babi yang bersebelahan dengan kaki ayam. Di salah satu kedai ketan mangga dijual 50 Baht.

Penjual sate buaya di Floating Market, Pattaya.
Penjual sate buaya di Floating Market, Pattaya.

Memasuki wilayah ini, setelah membeli tiket masuk pengunjung diberi air mineral gratis. Di dekat pintu masuk dipasang peta pasar. Jalan-jalan di sepanjang pasar diberi tanda panah berwarna hijau dan merah. Kalau tidak ingin tersesat dan berputar-putar di dalam pasar, kita harus mengikuti arah panah berwarna hijau saja. Walaupun demikian tetap saja saya tersesat atau hanya berputar-putar di satu kluster hingga frustasi dan memilih tanda merah untuk kembali menuju pintuk masuk.

Kenyang Icip-Icip di Dry Food Market

Dalam perjalanan menuju Bangkok kami mampir Dry Food Market. Di sini dijual berbagai macam makanan kering berupa permen, manisan, keripik, kerupuk, dan abon. Dari yang berbahan dasar buah seperti asam, nangka, durian, mangga, manggis, dan kelengkeng hingga produk laut yaitu rumput laut, cumi, sotong, udang, dan ikan. Semua jenis produk dilengkapi dengan toples “try me” alias icip-icip. Tapi jangan kalap kalau sedang mencicipi karena beberapa produk yang berlabel “with pork” tidak diletakkan di tempat tersendiri. Jadi, manfaatkan acara kunjungan di tempat ini dengan sebaik-baiknya tetapi tetap berhati-hati. Selain itu di sini juga dijual bumbu instan dan sambal khas Thai. Hanya saja saya tidak menjumpai terasi Thailand. Mungkin terasi hanya ada di Indonesia. Dari pengamatan sebelumnya saya melihat harga di sini lebih mahal sehingga saya tidak membeli apa-apa. Seperti permen durian yang saya beli di Sriracha seharga 20 Baht/bungkus, di sini dijual 60 Baht/bungkus. Kalau kehausan, di depan gerai dijual buah-buahan dan kelapa bakar kupas yang airnya manis segar seharga 20 Baht.

Kelapa bakar imut di depan Dry Food Market.
Kelapa bakar imut di depan Dry Food Market.

Pukul 17.00 kami meninggalkan Dry Food Market untuk melanjutkan perjalanan ke Pusat Perbelanjaan MBK Bangkok melewati jalan tol baru sepanjang 63 km. Memasuki kota Bangkok, kami disambut jalanan ibukota yang macet sehingga baru tiba di MBK pukul 19.00. Acara bebas hingga pukul 21.00 kami manfaatkan untuk berburu oleh-oleh. Kami langsung menuju lantai 6 tempat cenderamata. Menurut informasi, jenis dan harga cenderamata di MBK relatif lengkap dan lebih murah. Selain itu kualitas barangnya juga cukup bagus. Kita juga tidak perlu terlalu ngotot menawar karena harga yang ditawarkan tidak terlalu jauh dari harga pas. Proses tawar menawar memakai kalkulator yang sudah disediakan oleh pedagang. Selain karena mereka tidak fasih berbahasa Inggris, mungkin juga mereka tidak ingin tetangga mengetahui harga jual mereka karena bisa memicu persaingan yang tidak sehat. Dan jangan menutupi kapling pedagang sebelah kalau tidak ingin dihardik. Beberapa pedagang bisa berbahasa Melayu sehingga hati-hati kalau bergosip di dekat mereka. Untuk keperluan tersebut sebaiknya kita memakai bahasa daerah misalnya kromo inggil. Pedagang disana relatif temperamental dibanding pedagang di Indonesia. Di MBK saya mendapatkan sebagian besar oleh-oleh yang saya inginkan.
3 buah T Shirt @99 Baht
3 buah tas kain besar @75 Baht
6 buah tas kain kecil @50 Baht
Dodol durian sebungkus isi 5, 100 Baht
Walaupun mata kalap ingin membeli ini dan itu, saya harus ekstra bijaksana membelanjakan uang karena saya hanya membawa 1.000 Baht dari Indonesia. Menjelang pukul 21.00 terdengan suara operator memperingatkan pengunjung karena toko akan segera tutup.
Setalah makan malam di Al Hilal restaurant di daerah Krungthep, Chonburi – yang kami nilai cita rasa masakannya paling pas untuk lidah Indonesia –, pukul 21.50 kami sudah ada di kamar hotel tempat pertama kali kami menginap, All Season. Saya dan teman yang berbagi bagasi segera packing oleh-oleh. Pukul 2.00 saya baru bisa terlelap. Alhasil, keesokan paginya setelah sholat shubuh kantuk masih menggayuti mata dan tidur lagi hingga pukul 7.00. Untung saja kami check out pukul 9.00.

Di Bagian 5 kami jalan-jalan ke Wat Arun. Bukan pelesir ke Thailand tanpa berkunjung ke Wat/Candi di Thailand.

Advertisements

3 thoughts on “Thai on Vacation #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s