Thai on Vacation #5

Uang Rupiah di Pasar Wat Arun

Ini hari terakhir kami di Bangkok. Kami akan berperahu di Chao Phraya, sungai terbesar yang menjadi salah satu sarana transportasi utama di kota Bangkok. Alat transportasi umum yang utama di Bangkok adalah bis, monorail, kereta api, waterbis dan taksi. Ada juga alat transportasi tradisional yaitu tuk-tuk. .

Tuk-tuk di jalan-jalan utama kota Bangkok.
Tuk-tuk di jalan-jalan utama kota Bangkok.

Setelah beberapa saat perjalanan melintasi kota Bangkok dengan pemandangan istana raja dan kantor-kantor pemerintahan yang berarsitektur kuno dengan halamannya yang luas, kami tiba di sebuah keramaian pasar. Dermaga kecil tempat perahu merapat dicapai setelah melewati pasar – sepertinya pasar loak –. Pukul 10.30 perahu motor melaju menuju Wat Arun. Wat adalah sebutan untuk “Candi”. Sebelum mencapai Wat Arun kami melewati sebuah Wat Pho, kuil khusus untuk para Bikkhu, dan berhenti sebentar untuk memberi makan ikan-ikan patin yang hidup merdeka di belakang kuil tersebut. Bagaimana tidak merdeka, ikan-ikan ini tidak boleh dikonsumsi dan hanya boleh diberi makan. Makanannya pun roti yang sebelumnya sudah dibagikan di atas perahu motor. Sebetulnya kami sempat GR diberi roti saat perut mulai keroncongan. Eh, ternyata roti itu untuk makanan ikan. Tiba di Wat Arun pukul 11.00 kami mencari latar belakang yang bagus untuk foto bersama. Wat Arun atau Temple of the Dawn merupakan salah satu landmark Thailand yang didirikan pada abad ke-17.

Salah satu sudut Wat Arun dan hiasan piring kuno di dindingnya.
Salah satu sudut Wat Arun dan hiasan piring kuno di dindingnya.

Terletak di sisi barat sungai Chao Phraya, candi setinggi 70 meter ini dindingnya dihiasi mosaic berwarna-warni dari piring porselen. Entah bagaimana cara memotong-motong berbagai bentuk porselen pada masa itu.

Salah satu hiasan dinding candi yang terbuat dari potongan porselen.
Salah satu hiasan dinding candi yang terbuat dari potongan porselen.

Tapi yang lebih menarik dari kompleks candi ini adalah pasar Wat Arun (dasar ibu-ibu yaa…). Kebanyakan pedagang di pasar ini pandai berbahasa Melayu dan menariknya, kami boleh berbelanja dengan uang rupiah. Tentu saja dengan kurs yang mereka atur sendiri. Misalnya rok khas Thai seharga 200 Baht dapat dibeli dengan harga 120.000 Rupiah alias 1 Baht dihargai 600 Rupiah. Padahal kurs yang berlaku 1 Baht bernilai kurang lebih 340 Rupiah. Bagi yang kehabisan uang Baht rasanya cukup terhibur karena ini kesempatan terakhir untuk belanja oleh-oleh di Thailand sebelum pulang. Di pasar Wat Arun saya membeli 2 buah gelang dan 1 buah bros @45 Baht, gantungan kunci gajah isi 10 seharga 100 Baht, dan 2 buah topi @100 Baht. Dari pengamatan saya, harga produk tekstil seperti kaos dan kerajinan tas lebih murah di MBK sedangkan untuk perhiasan seperti bros, gelang, kalung, cincin, dan cenderamata seperti gantungan kunci dan hiasan meja lebih murah di pasar Wat Arun. Satu set gantungan kunci seharga 100 Baht di MBK bisa didapatkan dengan harga 75 Baht di pasar Wat Arun. Tetapi tas khas Thai yang saya beli seharga 75 Baht di MBK dihargai pas 100 Baht di pasar Wat Arun. Pernyataan ini sudah melalui survey yang cukup valid ke beberapa teman yang juga biang belanja.

Suasana pasar Wat Arun, memang sumpek dan uyel-uyelan, sepadan dengan harga yang dikeluarkan.
Suasana pasar Wat Arun, memang sumpek dan uyel-uyelan, sepadan dengan harga yang dikeluarkan.

Pukul 11.00 kami kembali ke dermaga pemberangkatan. Melintasi pasar dekat dermaga saya tidak ingin melepaskan cita-cita saya membeli durian. Akhirnya durian montong kupas seharga 50 Baht berpindah ke bagasi saya hanya untuk memuaskan obsesi saya makan durian Thailand.
Sambil menunggu bis jemputan, saya memperhatikan dua orang perempuan lokal yang sedang menikmati layanan facial tradisional Thai seharga 120 Baht. Mula-mula wajah mereka dilumuri ramuan berbentuk serbuk berwarna putih seperti bedak. Kemudian sang “beautician” menggesek-gesekkan benang di permukaan wajahnya dengan arah, kecepatan, dan tekanan tertentu.
DSC_0479

Facial tradisional Thailand
Facial tradisional Thailand

Kami makan siang di rumah makan yang terletak di sebuah lorong yang tampaknya didominasi warga Muslim. Beberapa lapak yang menjual makanan di sana memasang label halal pada barang dagangannya. Suguhan pencuci mulut kali ini bukan buah, melainkan dawet dengan potongan ubi yang kalau melihat tekstur dan warnanya kita kenal dengan nama “mbothe”. Rupanya pemiliknya tahu kalau kami sudah kangen makanan Indonesia. Walaupun tetap saja tidak pernah ketemu pecel disana.

Dawet Thailand dengan potongan “mbothe”.
Dawet Thailand dengan potongan “mbothe”.

Sholat di Ruang Tunggu Bandara

Pukul 14.00 kami sudah tiba di bandara internasional Don Mueang. Kami sengaja datang lebih dini walaupun pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 19.00 karena memperkirakan check-in bagasi akan berlangsung lama. Tentu saja, karena bawaan sudah berlipat-lipat dan beranak pinak dibanding pada saat berangkat.

Tas yang bertambah gendut dan beranak-pinak.
Tas yang bertambah gendut dan beranak-pinak.

Bandara Don Mueang cukup luas walaupun interiornya tidak istimewa. Tersedia kids zone agar anak-anak tidak bosan menunggu keberangkatan pesawat. Untuk penggemar produk “NaRaYa” saya sarankan tidak terburu-buru membeli di MBK. Di bandara Don Mueang juga tersedia gerai “NaRaYa” dengan koleksi yang lebih lengkap karena pembelinya tidak sebanyak di MBK. Harganya juga tidak berbeda dengan gerai di luar bandara. Lantai bandara berkarpet bersih dan cukup memadai untuk sholat. Asal tahu saja, selama saya mengunjungi tempat-tempat umum disana hanya Super Bee Healthy saja yang menyediakan musholla. Itupun karena pengelolanya seorang Muslim. Untuk sholat di bandara, kami mengambil sudut yang tidak terlalu ramai dan mulai sholat jama’ ta’dim maghrib dan isya’.

Sedikit berbeda dengan bandara internasional Sukarno-Hatta, di sini tidak disediakan ruang tunggu selama boarding. Boarding ya artinya langsung duduk di dalam pesawat. Kami boarding pukul 19.15 dan take off tepat pukul 19.30. Di atas pesawat, rupanya banyak penumpang yang kelaparan, sehingga rencana saya membeli nasi lemak untuk “dinner on the sky” tidak kesampaian. Setelah 4 jam penerbangan, kami mendarat di bandara internasional Juanda, Surabaya. Setelah makan nasi rawon di warung “Sop Buntut Surabaya” di Juanda, kami memulai perjalanan pulang ke Malang dan tiba di Malang pada pukul 3 dini hari. Maka berakhirlah liburan 4 hari di Thai yang eksotis.
Tentang tips jalan-jalan dan belanja bisa disimak tulisan berikutnya.

Pose Ronald McDonald versi Thailand,”ka pun kha” (= terima kasih)
Pose Ronald McDonald versi Thailand,”ka pun kha” (= terima kasih)
Advertisements

3 thoughts on “Thai on Vacation #5

    • Thank you sist… bikin yuk, tidak perlu yang jauh-jauh, jalan ke tempat wisata di dekat-dekat rumah juga bagus untuk diceritakan kembali. Setidaknya bisa dibaca anak cucu 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s