Bandung on Board #1

Rasanya bukan sekali ini saya menyampaikan bahwa saya sangat menyukai perjalanan. Betapa pun repot dan menegangkan sebuah perjalanan, setiap jengkalnya selalu punya kesan dan pelajaran yang bisa dibagi. Seperti perjalanan saya ke Bandung beberapa hari yang lalu. Ini adalah perjalanan dinas. Saya akan mempresentasikan riset saya pada forum ilmiah perkumpulan Anatomist di Bandung. Forumnya sendiri tidak penting untuk diceritakan. Hal istimewa yang ingin saya bagi adalah tentang perjalanan itu sendiri, terutama tentang rekan seperjalanan saya dan jalan-jalan kuliner selama di Bandung.

Menuju Bandung

Sejak awal saya memutuskan untuk menumpang pesawat terbang. Berdasarkan rekomendasi teman, tiket saya beli dari agen penjualan tiket Arwana. Lupakan membeli tiket secara online karena saya baru ingat kalau kartu kredit saya sudah kadaluarsa dan belum menerima kartu kredit yang baru karena kurirnya bermasalah. Merencanakan berangkat pada hari-H, pilihan jatuh pada penerbangan AirAsia paling pagi dari Surabaya menuju Bandung. Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 6.30 WIB dan tiba pukul 7.50 WIB. Perjalanan dari Malang bisa dengan menumpang travel atau kendaraan pribadi. Untuk keberangkatan sepagi itu, kebanyakan travel akan menjemput penumpang pada pukul 1 atau 2 dini hari untuk menghindari risiko keterlambatan. Padahal perjalanan Malang-Surabaya dapat ditempuh dalam waktu rata-rata 2 jam tanpa macet. Tidak mau terlalu cepat tiba di bandara, saya memilih diantar sopir dengan memakai kendaraan pribadi, Daihatsu Classy keluaran tahun ’90. Mobil tua yang suami saya sendiri selalu mencemaskan kondisi mesinnya. Walaupun pernah beberapa kali mengalami masalah selama memakainya, mulai dari ban bocor sampai tali kipas lepas, saya tetap merasa percaya diri memakainya. Mungkin karena suami lebih tahu tentang mesin sehingga kecemasannya menjadi beralasan. Kami meninggalkan rumah pukul 3.00 menuju Bukit Dieng Permai untuk menjemput senior yang akan berangkat bersama saya. Mobil sempat ngadat pada saat meninggalkan kediaman senior saya tersebut. Untung saja segera teratasi. Tepat pukul 3.30 kami melanjutkan perjalanan. Jalanan tidak terlalu ramai didominasi truk dan tronton yang berjalan lambat serta kendaraan pribadi. Kendaraan lain keluaran tahun terbaru yang kondisi mesinnya lebih baik berkali-kali mendahului kendaraan kami. Duh, mudah-mudahan bisa lebih ngebut lagi, pikir saya sambil berkali-kali melirik speedometer. Ketegangan melanda. Bayangan terlambat tiba di bandara mulai muncul. Kalau ini keberangkatan seorang diri ya tidak apa-apa. Saya sudah pernah berlari-larian sepanjang gate bandara dan menjadi penumpang terakhir yang masuk badan pesawat sebelum pintu pesawat ditutup lalu lepas landas. Pernah juga ketinggalan kereta api gara-gara ketiduran di stasiun. Tapi dengan mengajak senior sekaligus guru saya, seorang Profesor Ameritus berumur diatas 75 tahun yang pernah menjalani beberapa kali operasi pemasangan stent jantung agaknya membuat saya berdo’a sepanjang jalan agar mobil ini cukup kooperatif untuk bisa tiba di bandara tepat waktu. Asal tahu saja, kondisi psikis seperti kecemasan dan ketakutan akan memberi dampak lebih buruk pada jantung dibandingkan kelelahan fisik. Akhirnya syukurlah kami tiba di bandara tepat pukul 5.30 WIB.

Tol Bandara Juanda, matahari terbit.
Tol Bandara Juanda, matahari terbit.

Tidak bisa segera check-in karena harus menunggu seorang rekan lagi. Hingga akhirnya rekan saya tiba di bandara setengah jam kemudian. Kami boarding pukul 6.15 dan segera siap di dalam pesawat. Teman perjalanan saya yang kedua ini berangkat dengan membawa kedua anaknya, balita umur 3 dan 1 tahun. Jadi, rombongan kami ini terdiri dari seorang lansia dengan masalah jantung, 2 balita yang saling berebut perhatian ibu mereka, ibu mereka, dan saya. Saya maklum, di dalam rombongan ini sayalah yang paling melenggang, sehingga sedapat mungkin saya membantu kedua rekan perjalanan saya tersebut. Entah menggendong si bayi, menggandeng dan menghibur si kakak, atau sekedar membawakan barang bawaan mereka. Saya sendiri tidak terbiasa membawa banyak barang bawaan dalam perjalanan dan lebih menyukai ransel daripada luggage. Sehingga kedua tangan saya bebas membantu mereka. Pukul 6.45 WIB pesawat lepas landas meninggalkan Juanda dengan segala kesibukan paginya.  Sampai jumpa Surabaya, Selamat Datang di Bandung 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s