Bandung on Board #2

Obrolan sesi dua ini saya isi dengan cerita tentang jalan-jalan kuliner saya selama di luar acara seminar. Yang pertama saya berkesempatan malam sabtuan di The Kiosk, Ciwalk. Sabtu siang saya sempat jalan ke food court di Pasteur Hyperpoint. Dan terakhir malam mingguan di Shin Men Japanese Resto, Paris Van Java.

Kuliner di Ciwalk

Malam pertama di Bandung saya membuat janji dengan teman lama yang tinggal dan bekerja di Bandung untuk jalan-jalan di Cihampelas yang tidak jauh dari hotel Andelier tempat saya menginap. Cukup berjalan kaki 10 menit untuk mencapai jalan Cihampelas. Berbicara tentang Cihampelas tentu tidak dapat dipisahkan dengan Ciwalk atau Cihampelas Walk. Ini jalan-jalan saya yang kedua di Ciwalk, tetapi sudut-sudutnya yang menarik tetap mampu menyuguhkan pemandangan unik dan eksotik. Bandung sekali, menurut saya. Setelah puas berkeliling, akhirnya kami memilih The Kiosk sebagai tempat makan untuk mengganjal perut. Menu yang ditawarkan bervariasi mulai dari yang tradisional sampai internasional. Saya yang ingin makan mi kocok Bandung di Bandung (bukan di Malang atau kota lainnya) akhirnya keturutan juga. Hanya bajigur yang tidak saya temui di daftar menu The Kiosk dan terpaksa diganti teh tarik dingin.

Mi Kocok dan Teh Tarik Dingin a la The Kiosk.
Mi Kocok dan Teh Tarik Dingin a la The Kiosk.

Harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal dan senilai dengan suasana cozy yang ditawarkan. Kami mendapat meja tepat di depan panggung live music karena meja favorit di balkon sudah penuh. Pemusiknya cukup handal memainkan lagu-lagu cinta. Kombinasi petikan gitar dan biola menghadirkan suasana romantis. Sayangnya teman makan saya perempuan, hahaha…

Live music performance di The Kiosk, recommended :)
Live music performance di The Kiosk, recommended 🙂

Rapat di Pasteur Hyperpoint

Siang itu sebetulnya masih ada agenda presentasi makalah bebas. Tapi saya sudah berjanji dengan dua orang teman lama untuk membicarakan rencana reuni SMP. Maka, jadilah siang itu saya dijemput seorang teman meninggalkan seminar dan menyusuri jalanan kota Bandung menuju food court di Pasteur Hyperpoint. Sekali lagi mata saya mencari-cari kedai minuman yang menjual bajigur. Siapa tahu nasib saya sedang baik dan berjumpa dengan minuman khas Jawa Barat favorit saya ini. Duh, ternyata tidak ada. Akhirnya seporsi durian bakar dan es kelapa durian seharga masing-masing Rp.25.000,00 menemani meeting kami di siang yang mendung itu. Saya tidak terlalu merekomendasikan durian bakarnya. Walaupun cukup legit, kombinasi durian dan ketan hitam terasa tidak pas di lidah. Belum lagi taburan kacang yang malah menghilangkan cita rasa duriannya. Sedangkan es kelapa durian layak dicoba. Saya sengaja berlama-lama memanjakan lidah, menikmati sajian yang terdiri dari 3 scoop es krim dan daging kelapa muda yang menutupi 5 biji durian lokal ini.

Penampilan Durian Bakar dan Es Durian di Foodcourt Pasteur Hyperpoint.
Penampilan Durian Bakar dan Es Durian di Foodcourt Pasteur Hyperpoint.

Masakan Jepang di Paris Van Java

Pada malam berikutnya saya jalan-jalan kuliner dengan seorang teman lama di UI dulu dan adik laki-laki saya yang kuliah di Bandung. Teman saya itu membawa kendaraan pribadi, sehingga kali ini tempat yang kami jangkau bisa lebih jauh. Kami bertiga bukan penduduk Bandung, sehingga tujuan ditentukan berdasarkan pengalaman saja. Teman saya mengusulkan Paris Van Java (PVJ) sebagai tempat tujuan jalan-jalan kami malam itu. Dia tidak tahu tempat asyik lainnya selain PVJ dan Ciwalk. Yang lain terpaksa menurut karena lebih tidak tahu lagi. Masuk tempat parkir PVJ kami langsung disambut antrian panjang. Lebih parah lagi, setiba di dalam area parkir tidak nampak boot kosong. Kecuali mobil-mobil yang diparkir paralel karena ditunggui oleh sopir masing-masing. Akhirnya, seperti halnya mobil-mobil lain di depan, kami terpaksa keluar tempat parkir dan mencari strategi parkir. Paling aman parkir di parkiran hotel, demikian menurut teman saya. Setelah beberapa kali berkeliling blok di sekitar PVJ akhirnya dapat juga tempat parkir terakhir di basement hotel De Java tepat di seberang PVJ. Sejam berlalu hanya untuk memarkir kendaraan. Lapar melanda, tapi masih ingin jalan-jalan. Seperti halnya tempat Ciwalk, PVJ juga menjual interior yang unik dan eksotik. Interior masing-masing stand ditata apik dengan tema tertentu. Kami hanya sempat berkeliling di lantai 2 dan 3 sebelum akhirnya memutuskan untuk mencari tempat makan di area teras.

Sebuah lorong PVJ, kelap kelip dan hirup pikuk *BandungBanget.
Sebuah lorong PVJ, kelap kelip dan hirup pikuk *BandungBanget.

Kami memilih Shin Men Resto yang menjual kuliner Jepang. Bukan makanan Jepang kalau tanpa sashimi, menurut saya. Tapi kalau bisa yang paketan dengan sushi dan lainnya, jadi tidak kebanyakan pesan menu. Akhirnya pilihan pertama jatuh pada sushi bento yang terdiri dari hosomaki (nasi yang digulung rumput laut), nigiri (nasi yang diberi lauk diatasnya), sashimi (ikan mentah segar), dan salad. Di nampan disajikan juga kecap jepang, parutan jahe, wasabi (sambal jepang), dan sup yang berisi tofu dan rumput laut. Cocok deh, pokoknya harus ada sashimi. Pilihan kedua kami pesan beef teriyaki yang cita rasanya sudah familiar dengan lidah Indonesia. Daging dimasak semur itu lho, tapi yang ini sepaket dengan tori karaage (ayam goreng ala Jepang) dan yasai itamae (jamur itamae yang ditumis) yang disajikan dengan nasi dan acar. Sementara teman saya memesan sup dan ramen (kalau tidak salah ya, lupa sih, hehe). Minuman kami pesan ocha (teh hijau) panas dan dingin. Ocha disini bisa refill jadi bisa dipuas-puasin minum ochanya. Ada 4 nigiri yang disajikan, masing –masing dengan telur dadar, udang rebus, salmon, dan belut. Sedangkan sashiminya terdiri dari 2 irisan salmon dan 2 irisan tuna. Kedua jenis sashimi ini menurut saya diiris terlalu tebal. Adik saya yang baru kali ini makan masakan Jepang mulai sibuk mencari ‘penawar’ untuk menghilangkan rasa eneg. Untung ada kulit pangsit gratis yang dihidangkan sebagai snack. Haha… Secara umum, masakannya memuaskan dan harganya terjangkau. Apalagi dengan kartu kredit bank tertentu bisa dapat diskon 20%. Disana kami bertiga menghabiskan tidak sampai 300 ribu. Saya rasa sesuai dengan cita rasa dan pengalaman kuliner yang didapat.

Sushi bento pesanan saya, yang penting sashimiiiii :D
Sushi bento pesanan saya, yang penting sashimiiiii 😀

Tiga hari di Bandung, tentu saja tulisan ini hanya mewakili sekedar icip-icip suasana Bandung.  Semoga ada lagi kesempatan jalan-jalan ke sana.  Nuhuuun 🙂

Advertisements

One thought on “Bandung on Board #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s