Galau at 40

Mungkin betul juga, awal usia 40 membawa aura galau. Katanya sih mau memulai hidup seperti pada jargon ‘life begins at fourty’. Bahkan kata seorang teman ada ‘Club 40’ lengkap dengan semua hiruk pikuk gejala psikologis dan permasalahan yang muncul di usia itu. Mau percaya mau tidak, tapi bukti empiris menunjukkan hal tersebut. Walaupun ada teori yang mendukung, tapi saya tidak mau membahasnya, lagi males.

Saya galau. Galau yang berhubungan dengan penampilan. Maklum, dimana-mana perempuan selalu ingin tampil pantas dan menawan. Selain itu saya juga mesti jaga penampilan karena tuntutan profesi (alesaaan..). Boleh menganggap lebay dan berkomentar, wong cuma dosen aja lo, belum jadi penyiar tivi atau peragawati. Bodo amat, hehe… setidaknya kalau mahasiswa ngantuk masih ada yang bisa dilihat (ngecengindaunmuda?). Ndaklah, tapi point-nya itu tadi, jaga penampilan. Apalagi selama ini saya tidak mengenal perawatan wajah dan tetek bengeknya kecuali Oil of Olay dan bedak Pigeon yang saya pakai sejak SMA. Selama puluhan tahun saya tampil apa adanya, rasanya perlu upgrade menjelang 40. Tidak usah tanya kenapa nunggu 40. Males juga njelasinnya. Apakah kulit saya bermasalah? Tidak juga sih. Ini hanya soal hati karena pertambahan usia (halaah..). Tapi bukan maksud hati mencegah aging (penuaan) karena itu mustahil. Yang bisa dilakukan adalah menahan lajunya.

Saat sedang galau-galaunya, ada informasi mampir saat ngobrol dengan karyawan di kantor saya. Rupanya di kalangan mereka sedang trend pemakaian produk perawatan kecantikan Melillea yang dipasarkan secara MLM. Harganya yang selangit tidak menghalangi tekad mereka menjadi cantik. Bedak saja harganya 217 ribu! Tenaang, ada upline yang bersedia menerima pembayaran secara cicilan. Apalagi sih yang paling disukai ibu-ibu selain bayar secara mencicil? Iya, soalnya tidak terasa, bayarnya sedikit. Uh, padahal kalau dikalikan ya sama saja. Untungnya si upline ini tidak mengambil bunga cicilan. Takut menyaingi bank thithil mungkin, hehe.. Lagipula kalau riba cantiknya jadi ndak barokah ntar. Singkat cerita, saya pun mencoba produk ini. Lebih tepatnya niat banget, bukan lagi mencoba, mengingat tingginya investasi yang saya tanam di bidang usaha ini. Ada 6 rangkaian produk perawatan yang dipakai dalam sehari secara selang-seling. Bayangkan, ada 6 produk! Selain harganya yang mencekik leher, kita dituntut ekstra sabar dan istiqomah untuk dapat melihat hasilnya. Sebagus-bagusnya suatu produk, tidak akan memberikan hasil yang instant, kecuali mie instant. Maka tidak heran kalau mie instant dianggap sebagai penemuan terbesar abad ini. Ok, lanjut. Suatu hari, produk nomer 4 habis. Karena ini MLM, kadang produk tidak selalu siap di gerai maupun di upline kita. Jarang-jarang stockist yang mau nyetok barang mahal ginian. Dengan alasan barang datang kelamaan dan mahal, saya mulai selingkuh, survey sana-sini melirik produk lain.

"Ini krim nomer berapa ya? dipakainya jam kapan? urutannya bagaimana?" #ribet
“Ini krim nomer berapa ya? dipakainya kapan? urutannya bagaimana?” #ribet

Suatu hari, di jalan yang saya lalui saat berangkat kerja, ada baligo klinik perawatan kecantikan Nava Green. Menariknya, produknya sudah mendapat sertifikasi halal MUI. Mulailah saya mencari-cari informasi tentang klinik tersebut. Akhirnya ketemu juga lokasinya yang tidak jauh dari tempat kerja saya, searah dengan jalan pulang. Setiap kali lewat sana, parkiran motor dan mobilnya selalu penuh. Tidak jelas juga apakah ini kendaraan pengunjung warung soto ayam di sebelahnya yang memang terkenal enak. Suatu hari saya meluangkan waktu mampir di klinik kecantikan tersebut. Ruang tunggunya penuh, saya sampai harus menunggu sambil berdiri! Wah! Sebagus apa sih produknya? Pada kunjungan pertama ini saya disarankan menjalani facial serum dan mendapat paket produk perawatan yang terdiri dari facial wash, krim pagi, dan krim malam. Facialnya 60 ribu saja, sedangkan masing-masing krim dan sabun muka seharga 25 ribu. Murah memang. Tapi seminggu pemakaian membuat kulit wajah saya iritasi dan harus menebus krim antiiritasi seharga 25 ribu. Rupanya ini kulit mahal, tidak bisa dikasi barang murah, duh..

"Omaigoooot!!!" #kapok
“Omaigoooot!!!” #kapok

Iritasi yang masih belum mereda hingga lebih dari sebulan membuat saya mulai mencari-cari produk lain. Akhirnya saya berkonsultasi dengan seorang kawan, dia dokter yang ikut mengelola klinik kecantikan Venussa. Banyak pengetahuan tentang produk-produk keluaran klinik kecantikan saya dapat dari dia. Bahwa krim pagi isi dan fungsinya ini dan krim malam isi dan fungsinya itu. Serta apa-apa yang ‘do’ dan ‘don’t’ kalau niat merawat kecantikan. Yang ‘do’ adalah wajib pakai SPF minimal sekian (tergantung jenis kulit) di pagi-siang hari. Sedangkan yang ‘don’t’ diantaranya menghindari pemakaian krim di pangkal cuping hidung dan ujung bibir karena daerah tersebut sangat sensitif. Teman saya ini tidak niat jualan produk, tapi di kliniknya saya membeli krim antiiritasi seharga 76 ribu menggantikan krim sebelumnya yang tidak banyak memberikan hasil. Menurut diagnosanya, kulit saya mengalami hipersensitifitas ringan. Ringan? Aaah, baru kali ini kulit muka saya merah-merah dan berjerawat. Untuk ini saya wajib panik, karena sebelumnya lalat saja kepleset kalo mampir di wajah saya (pamer dikiiit, hehe).

Berikutnya, saya mulai menimbang-nimbang lagi, bagaimana sesudah ini?. Melillea kemahalan dan tidak selalu ready stock. Venussa juga mahal. Nava Green bikin kulit hipersensitif. Akhirnya seminggu kemudian saya putuskan untuk mencoba perawatan di klinik kecantikan RSP UB (Rumah Sakit Pendidikan Univ. Brawijaya). Masak tidak percaya dengan perawatan dari institusi sendiri sih? Setidaknya patut dicoba. Ini juga setelah mengamati dan mendengar testimoni dari para penggunanya. Di sana saya diberi (tepatnya disuruh beli) krim antijerawat, krim malam, dan krim SPF untuk siang hari. Total pengeluaran sekitar 145 ribu. Jasa dokternya gratis. Dan disinilah saya sekarang, dua minggu kemudian iritasi saya mereda, flek di wajah berkurang, jerawat juga hilang, sekarang waktunya kontrol. Semoga ini langkah terakhir perburuan saya meredakan ‘Galau at 40’. Dan saya beritahu ya, ternyata obat galau itu mahaaal, setidaknya menurut ukuran kantong saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s