Kotak Pandora

Pernahkan kalian mendengar tentang kotak Pandora?

Untuk yang belum tahu, mari saya jelaskan sedikit tentangnya. Pandora adalah manusia perempuan pertama di dunia versi mitologi Yunani. Hermes memberinya nama Pandora yang artinya “mendapat banyak hadiah”. Pandora kemudian menikah dengan Epimetheus. Pada hari pernikahan mereka, dewa-dewa memberi hadiah sebuah kotak yang indah dan Pandora dilarang membuka kotak itu. Sampai disini saya merasa agak ganjil, namanya hadiah harusnya boleh dibuka ya, bahkan sudah lazim kalau dibuka di hadapan pemberinya. Hehe.. tapi namanya juga dongeng, terserah yang ngarang. Tentu saja Pandora penasaran dengan isinya, sampai akhirnya dia membuka kotak itu. Pada saat dibuka, terlepaslah sesuatu yang mengerikan dari dalam kotak itu. Ternyata Pandora telah melepaskan teror ke dunia. Masa tua, rasa sakit, wabah, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan malapetaka lainnya. Seluruh keburukan itu menjangkiti umat manusia, kecuali satu benda yang tertinggal di dalam kotak Pandora, yaitu harapan. Benda ini pun keluar saat Pandora menunjukkan kotak itu pada suaminya. Hingga saat ini manusia mempunyai kebencian, kejahatan, penyakit – dan harapan. Harapan ini yang kelak digunakan manusia di bumi untuk terus bertahan dari segala keburukan tersebut.

Membuka kotak Pandora

Baru-baru ini saya mengalaminya, membuka kotak Pandora. Ah, tidak.. rasanya bukan analogi yang pas juga. Karena yang keluar dari sana bukan keburukan, tapi lebih tepat disebut kejutan-kejutan. Telur yang berubah menjadi kupu-kupu, monyet, ular, burung, kucing, sapi, kunang-kunang, ikan, harimau, gajah, sampai dengan dinosaurus dan tyrex.. haha, kenapa jadi kebun binatang ya? Tapi nyatanya kita semua memang berasal dari telur. Yang waktu itu belum menetas atau berada di tahap larva sehingga masih mirip-mirip satu sama lain.

Ceritanya begini, pada pertengahan tahun 2013 lalu saya mengontak teman-teman alumni SMP yang sudah berpisah selama 25 tahun. Berawal dari beberapa orang saja yang bertemu secara tidak sengaja di dunia maya (thanks to Leonard Kleinrock, tidak kenal juga sih, tapi dari browsingan, beliau ini dianggap bapaknya internet alias penemu internet), hingga melalui informasi dari hantu ke hantu (numpang istilahnya Trio Detektif) kami berhasil mengumpulkan kurang lebih 90an alumni. Lima puluh orang diantaranya bergabung di grup Whatsapp, sesuai kapasitas maksimalnya, 50 anggota. Dan lebih banyak lagi yang berkumpul di grup Facebook dengan bendera FASE389 Community. Niatnya, dalam waktu dekat kami akan mengadakan reuni perak. Berbagai persiapan dilakukan termasuk membentuk kepanitiaan. Hingga terwujudlah reuni perak angkatan kami pada tanggal 12 Januari 2014 lalu.

Remaja vs Dewasa Menengah

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubah seseorang. Telur kupu-kupu saja perlu waktu lebih dari sebulan untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Bukan analogi yang pas ya.. hehe.. Tapi manusia juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan (ya iyalaah..). Unsur-unsur yang berubah dalam diri kita adalah fisik, kognitif, dan emosional serta sosial. Pertumbuhan adalah sesuatu yang bersifat fisik seperti berat dan tinggi badan seseorang, sedangkan perkembangan melibatkan unsur kognitif dan psikososial. Alat ukurnya tentu berbeda. Misalnya IQ chart untuk mengukur kemampuan kognitif atau Denver chart untuk mengukur perkembangan psikososial anak-anak.

Berdasarkan tahapan perkembangan manusia, dulu kami berpisah saat kurang lebih berumur 15 tahunan. Saat itu kami berada pada tahap adolescence (remaja, 11-18 tahun) dan saat ini bertemu lagi di tahap awal middle adulthood (dewasa menengah, 40-65 tahun). Kebanyakan dari kami memang baru bertemu lagi setelah 25 tahun itu. Hanya sebagian kecil saja yang masih berkomunikasi setelah perpisahan SMP dulu. Saat lulus SMP itu kami baru saja mengalami masa puber, tapi belum mencapai ukuran dan kematangan tubuh dewasa. Suara sudah ngebass tapi kumis belum tumbuh, haid sudah beberapa kali datang tapi badan masih seukuran anak SD. Serba belum jelas lah, kurang lebih setara dengan larva, belum mencapai bentuk akhir. Hehe..
Saat itu cara berpikir kami masih abstrak atau kata lainnya belum jelas mau ngapain, cita-cita saja masih berubah-ubah (geje, red), tapi idealis dan serius dalam sekolah. Pikirannya masih jarak pendek. Pencapaian hidupnya pakai skala semesteran atau caturwulanan. Remaja ini juga sedang memantapkan identitas seperti menetapkan fungsi mandirinya dalam keluarga. Misalnya punya tugas cuci piring atau cuci motor, ya udah, itu akan menjadi identitasnya. Biasanya remaja menempati kasta terendah dalam hirarki keluarga. Sudah bisa disuruh-suruh tapi belum punya bargaining power. Haha..

Sedangkan dewasa menengah yang diawali pada usia 40 tahun (walaupun beberapa dari kami baru berumur 38-39 tahun saat bertemu), mempunyai karakteristik mencapai titik tertinggi dalam karir dan posisi kepemimpinan, istilahnya, sudah mentok apapun posisinya saat ini. Dalam hal ini kami sedang mengawali fase ini. Artinya berada di posisi awal kemapanan status. Sudah mulai mantap! Biasanya juga sudah punya tanggungjawab terhadap keluarga. Mempunyai anak dan ikut menunjang kehidupan orangtua. Pada umur segini, sudah mulai ada kepedulian pada kematian. Sudah tidak mikir senang-senang saja. Sudah mulai insap!

Here We are!

Inilah kami sekarang, selama 25 tahun itu, dari yang geje menjadi konkrit, yang senang ngalor ngidul jadi serius, dan yang biasa belajar tekun saat ujian (biasanya) menjadi sukses. Ini berlaku juga untuk yang setia meminta contekan dari teman yang pintar (merasa,red). Yang kurus kerempeng menjadi besar berotot, yang nangisan menjadi pemberani (any brave), yang culun menjadi anggun, yang ingusan menjadi pilek.. eh, sama itu sih. Iya, karena anak kecil/remaja memang rentan infeksi, sistem imunnya belum mantap, salah satunya gampang kerasukan virus influenza yang pintar menyamar, makanya dibilang anak ingusan (ilmiyaaaah…). Dan sungguh ajaib interaksi interpersonal di awal dewasa menengah ini, amazing menurut saya. Ibarat suatu bangunan yang baru berdiri megah, ibarat kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong, semuanya indah, menakjubkan, mengagumkan, dan memabukkan.. eh.. ney ney ney. Haha.. Semua tampil berkilau, baru keluar dari kawah candradimuka tahap awal dewasa (early adulthood) dengan masing-masing warna dan bentuknya.

Bagi yang warna dan permukaannya cocok bagai protein ketemu reseptor berpotensi melipir dan mojok. Jadi rekanan dalam pekerjaan, hobi, atau bahkan sekedar sahabat ngrumpi seperti disini. Tentu saja interaksi warna dan bentuk yang beraneka rupa itu juga berpotensi menimbulkan friksi. Tapi akan selalu ada harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik dan lebih bersinergi. Semuanya berawal dari satu hal yang menyatukan kami yaitu kerinduan pada masa remaja, saat tidak ada beban hidup dan hiruk pikuk dunia yang dulu seolah tidak tampak, saat tahapan geje dalam hidup kami.

Fase389

Advertisements

4 thoughts on “Kotak Pandora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s