Menunggu Jawaban

Pernahkah kamu, merasa tidak tahu harus berbuat apa hanya karena menunggu kabar dari seseorang. Tanpa punya kuasa untuk mendesak mendapat jawaban segera. Jawaban yang menentukan, langkah apa yang kita ambil selanjutnya.

Beberapa saat lalu saya menunggu satu atau sebaris kata dari layar handphone. Berawal dari beberapa hari sebelumnya saya mengirim pesan, bertanya kabar pada seseorang. Dan belum dijawab hingga saya kirimkan pertanyaan kedua, yang kurang lebih sama isinya dengan yang pertama. Waktu berlalu dan dengan serba salah saya kirimkan pesan ketiga. Bukan lagi pertanyaan, karena mungkin dia tidak berkenan dengan isinya. Ini tidak biasa. Biasanya pesan saya segera direspon. Atau kalaupun terlambat tidak separah ini. Akibatnya, pesan-pesan saya seperti meninggalkan perasaan chaos seperti negara yang baru saja dikudeta. Bingung mau apa. Pesan keempat menyusul dalam hitungan menit. Saya menghindari kalimat “Pesanku tadi kok tidak dijawab?”. Saya tidak ingin menjelma menjadi penuntut karena kami berjanji untuk tidak saling menjadi beban dan berusaha memaklumi berbagai kemungkinan yang terjadi. Tapi akhirnya dengan tidak sabar, pesan kelima pun terkirim, dengan tekad bahwa ini pesan terakhir, kecuali dia menjawabnya.

Lalu waktu berjalan meninggalkan sunyi menggantung di langit-langit…

Sebetulnya hal yang sangat mengganggu adalah, tiap kali saya membuka layar handphone, namanya selalu muncul di deretan pesan yang belum terjawab. Notifikasi yang terkirim menunjukkan bahwa pesan telah sampai dan terbaca. “Kamu kenapa? Katakan saja apa inginmu”. Saya tidak pandai menujum pikiran. Itu juga yang selalu dia sampaikan kepada saya. Tidak enak rasanya menunggu dengan benak penuh tanya. Berkirim pesan dan lama tidak dijawab kadang saya alami juga saat berkomunikasi dengan pimpinan atau pembimbing. Untuk itu saya bisa bersabar, bahkan kadang sampai lupa bahwa pesan saya belum dijawab. Tetapi ini berbeda, belenggu rasa ingin tahu tentang keadaannya membuat saya setia menghitung detik menunggu jawaban. Akhirnya sampai pada rasa itu. Lelah diburu tanya bahkan curiga, saya pilih ‘delete conversation’ pada namanya dari deretan pesan di handphone. Saya lelah berharap.

*nungguuu....*
*nungguuu….*
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s