Penjaliran Barat Island in Memoriam

29 Juli – 2 Agustus 1996
(by The Sixteam)
Kak Yasman, Alloy, Ipul, I’im, Dogun, Inong

Prolog:
Tulisan ini dibuat 18 tahun yang lalu dan dipublikasikan sekarang dengan mengedit beberapa bagian yang perlu tanpa mengurangi kisah di dalamnya.

The longest magic stamp

Bukan karena apa-apa sih kalau pasukan dari ESKA nge-fans berat dengan Hero Pasar Swalayan hampir di tiap moment belanja, melainkan karena dara-dara manis dari ESKA ini sedang berburu magic stamp yang menjanjikan rabat 50% untuk pembelian sebuah panci kaca tahan panas berwarna pink (panci berpenampilan agar-agar). Selain itu juga, konon stok barang di tempat perbelanjaan tersebut selalu baru dan terbaik.
Bersama Dogun sebagai sopir (maaf ya Don, hehe), de’ Lia, dan kak Medis yang entah bagaimana ikut terangkut sebagai partisipan, Inong dan I’im ber-Saturday Night Fever di Hero Depok. Keranjang bukan pilihan lagi. Akhirnya sebuah troli diseret dari tempat mangkalnya dan perburuan dimulai. Mulai dari berbagai jenis mie instant, cokelat batangan, kornet, macam-macam biscuit (pakai ‘c’), buah-buahkan, hingga pernak-pernik salad, dan perlengkapan mandi seperti sampo dan sabut terangkut semua memenuhi troli kami. Sehingga tidak heran, jika bon yang tercetak merupakan bon terpanjang yang pernah kami miliki. Akibatnya, tak mengherankan bila 14 magic stamp berhasil didapatkan dengan sukses. Karena Inong hanya perlu tambahan 5 lembar magic stamp, 9 lembar sisanya ditransfer ke Dogun untuk dipersembahkan pada bundanya.

The smallest team

Hari Senin yang ditunggu tiba juga. Dengan diantar segala do’a dari penghuni ESKA lainnya, mulai do’a tolak bala sampai do’a bercermin (eh…?), dan berbekal perabotan rumah tangga mulai piring, panci, hingga kompor andalan yang hanya satu-satunya (itupun dengan kondisi sumbu yang memprihatinkan) karena Dogun tidak berhasil berburu paraffin, tepat pukul 7.30 kami menumpang Kijang dinas ortunya Dogun disertai pak Surono sebagai sopir melaju menuju pelabuhan Muara Karang.
Mampir di BNI’46 Muara Karang untuk ambil uang. Wah, bank-nya masih tutup, padahal sudah pukul 8.30. Alkisah, bank ini memang nyaris bangkrut atau berencana pindah lokasi lantaran bersaing ketat dengan bank-bank swasta di sekitarnya. Jadi pegawainya pun males-malesan kerja. Padahal menurut penjaga toko listrik disebelahnya, kemarin-kemarin bank ini buka jam 8.00. Dasar kita aja yang lagi apes. Sementara itu, Inong sempat ngomel-ngomelin acara olimpiade semalam yang berhasil merubah jam biologis rakyat Indonesia. Siang jadi malam, malam jadi kalong. Kita lanjutkan kisah bank tadi. Pukul 8.40 akhirnya Dogun berhasil tarik tunai di bank itu. Menurut dia, baru kali itu dia ngambil duit pas banknya baru buka, malah nyaris bantuin beres-beres ya Don, hehe…
Perjalanan dilanjutkan. Setiba di Pelabuhan Muara Karang, pos penjagaan masih sepi. Seharusnya kloter pertama sudah sampai nih. Akhirnya dengan sedikit spekulasi dan meninggalkan pesan kepada penjaga pos, kalau-kalau ada sisa rombongan yang mencari kami, kami masuk ke wilayah pelabuhan dengan membayar retribusi sebesar 500 rupiah/orang. Tiba di dalam, ternyata rombongan dari jalan Pramuka, Alloy yang ditemani ibunya, Ipul, dan Iqbal sudah stand by. Konon sih katanya setelah berhasil menembus barikade bersenjata yang memblokir daerah dekat rumah akibat kerusuhan yang diakibatkan pertikaian antargeng di kubu PDI (Saat itu sedang panas-panasnya perpecahan ideologi di kalangan PDI yang nantinya menghasilkan PDI dan PDI Perjuangan.red).
Barang-barang perbekalan diturunkan dan peserta di-list. Ternyata Iqbal tidak jadi ikut, padahal dia termasuk kandidat utama peserta trip ini. Tujuan beliau hadir hanya untuk menghimbau Dogun – utamanya – untuk hadir di rapat AIM siang itu, AIM adalah event ilmiah mahasiswa FMIPA-UI. Undangan yang dengan tegas langsung ditolak oleh ybs. Sementara itu, DBB (Dua Bidadari Badung, I’Im dan Inong) yang entah kenapa tersangkut dalam perjalanan ini, berusaha dengan sekuat tenaga mengkooptasi Iqbal untuk ikut serta. Karena alasannya tidak bawa baju, maka I’im dengan sukarela menawarkan dasternya untuk dipakai beliau selama di pulau nanti. Dan tawaran tersebut, seperti yang telah kita duga bersama, ditolak mentah-mentah dengan alasan warnanya tidak cocok, eh…
Jadi, akhirnya, dari pendaftar awal sebanyak 16 orang, ternyata yang menyatakan bersedia ikut hingga detik-detik terakhir keberangkatan hanya 6 orang. Yang lain kena seleksi alam. Misalnya Tegus yang dengan semangat ’45 ingin ikut dan sempat mengusung sebuah judul penelitian tentang jenis-jenis Gastropoda Bakau di Pulau Penjaliran Barat, ternyata harus menghabiskan hari-harinya hingga sepekan di lab. Mikrobiologi, bilik kecil tempatnya menyerahkan diri. Pi’I juga berhalangan karena harus mendampingi adiknya yang sedang berjuan ikut tes masuk FKM-UI. Dan yang menyedihkan, Mardo’I sakit, serta lain-lain hal yang menyebabkan peserta lain mengundurkan diri. Akhirnya dengna rasa setengah tidak percaya, ternyata kami berenam berangkat juga, setelah tidak lupa terlebih dulu membeli alat pancing-memancing di pelabuhan. Jadilah kami The Sixteam, tim terkecil dengan persiapan seadanya. Demikian komentar seorang peserta yang merangkap peneliti, Alloy. Unbelievable. Sementara itu, The Commander, Kak Yasman, hanya berkomentar,”Jangan dibahas lagi soal itu.” Ups, haha… iya deeeh. Ok, we’re ready to go, whatever will happen.

Perjalanan dimulai. Pukul 10.00 kapal motor Komala Jaya mulai meninggalkan dermaga dan melaju dengan tenang mengarungi perairan Kepulauan Seribu.
Di geladak kapal, Dogun setia membaca makalahnya The Commander. Sementara itu di badan kapal ada sate, nasi, roti punyanya I’im, ubi plus gorengan lainnya, salak, dan I’im yang sedang bersusah payah mengeluarkan kaset dari walkman Dogun. Sedikit catatan, bahwa tutup walkman itu ngadat lantaran pernah dibuka paksa oleh Nope pas Halimun part-3. Melihat I’im yang sedang asyik masyuk mendengarkan musik, akhirnya Inong gak tahan ingin ikutan. Susah juga lantaran headphone Dogun bukan jenis yang kecil. Tapi dengan segala akal bulus, akhirnya headphone itu berhasil dibagi dua. So, DBB ini jadi ndengerin Take a Bow-nya Madonna bareng-bareng.

Menjelang Pulau Rambut, kami disambut serombongan pecuk padi dan Sterna hirundo yang melintas anggun.

10.30: (by Inong)
Dara laut itu sendirian,
Menukik lembut di tengah lautan,
Membentang dan mengepak indah,
Dara laut itu putih, dialun angin laut.

(10.46)
Komala Jaya terhenti di dekat Pulau Onruzt setelah terasa ada yang tidak beres dengan kemudi. Rupanya baling-baling kapal menabrak sesuatu. The Sixteam terombang-ambing di atas kapal, sementara itu Pak Tamam, sang nakhoda, buru-buru terjun dan berusaha melepaskan sesuatu yang nyangkut di bawah. Ternyata karung plastik. Tidak berapa lama kapal melaju lagi.

(14.00)
Mampir di Pulau Pramuka, menjemput Pak Rudi yang menggantikan Pak Jack yang akan memandu kami di Penjaliran nanti. Kabarnya Pak Jack yang sudah kami kenal baik itu sedang ikut kursus atau pelatihan apa gitu di Jakarta sehubungan dengan tugasnya sebagai jagawana. Sekarang nungguin Pak Salim. Rencananya kami bakal mampir lagi di Pulau Panggang. Dermaga Pulau Pramuka masih seperti dulu sewaktu kami mampir dalam perjalanan studi ekskursi yang lalu. Minimal masih terdengar sambutan Todirhampus chloris yang hilir mudik dari garis pantai ke rimbunan Thespesia populnea di dekatnya.
Ups, sedang lapar berat nih. Di atas kapal sedang terjadi serah terima nasi goreng dengan telur dadar kebanyakan kucai dari Alloy ke yang lin dan tanpa segan-segan diserbu oleh Kak Yasman, Dogun, dan I’im. Full tank bo’… Oo, rupanya Ipul dan Kak Yasman move, pindah ke menu nasi putih plus ebi kering dan kering tempe (makanan kebangsaan kalau di lapangan). Tentang ebi kering ini, sempat dikira makanan ikan oleh Inong, sehingga dia dengan penuh semangat nyobain pancing baru di dermaga Pulau Pramuka dengan umpan ebi kering. Sambil makan, Kak Yasman cerita-cerita tentang orang Jepang yang pernah diusir Pak Jack lantaran MCK di dermaga. Kurang jelas, hajat apa yang dilepaskan orang tersebut saat itu. Sementara Alloy menyumbang cerita tentang biawak di Penjaliran.

Kak Yasman dan Ipul, nyoba alat pancing di kapal yang sedang labuh.
Kak Yasman dan Ipul, nyoba alat pancing di kapal yang sedang labuh.

Perjalanan berlanjut, kapal kami mampir Pulau Panggang mengantar surat. Demi menambah perbendaharaan pulau yang pernah disinggahi, I’im dan Inong buru-buru turun ke darat, nyambi beli rujak dan es. Cuacanya puanas banget dah. Selama sisa perjalanan kebanyakan dari kami berniat untuk menggeletak di geladak dan tidur. Pukul 15.00 I’im bangun tidur dan meraih primbon untu diisi wejangan-wejangan baru (catatan perjalanan.red). Rupanya Pulau Putri yang ingin dilihatnya sudah terlewati dan sepertinya 30 menit lagi kami akan tiba di Penjaliran. Tiba-tiba di sisi lambung kiri dan kanan kapal tampak serombongan ikan terbang, berkilauan dan salto di atas air. Seru kan. Dogun buru-buru ngambil kamera, tapi ikannya keburu males salto, Dogunnya kelamaan sih. Cuaca yang panas dan perjalanan panjang membuat kami didera bosan karena hanya melihat laut dan laut. Kompensasinya kita adakan acara adu teriak. Dan seperti yang telah kita duga, pemenangnya adalah The Commander. Indikasinya, pas beliau teriak, Ipul yang sedang tidur pulas sampai terbangun dan nakhodanya sampai nengok ke belakang dikira ada yang kecebur laut. Acara paling seru adalah membuka bekal black forest buatan I’im. Entah karena makannya di kala super lapar atau super bosan, si pembuatnya sendiri sampai baru menyadari bahwa kue buatannya itu uenak. Aduuh, tahu gitu bakal diabisin sendiri aja dah, hehehe… untung baru nyadar.

Suasana mbuka bekal di kapal,"lapeeeeer...."
Suasana mbuka bekal di kapal,”lapeeeeer….”

Akhirnya sampai juga kami di Penjaliran Barat. Diambut jagawana pulau itu, The Sixteam mulai menurunkan dan mengusung perbekalan menuju basecamp. Kami tidak perlu memasang tenda karena disini disediakan bangunan permanen sebagai tempat tinggal peneliti, dan pelancong, hehe… Tidak kurang dari 4 galon Aqua dan berbagai jenis makanan berat dan ringan segera pindah tempat. Baris rapi di ruang depan basecamp siap di transfer ke perut. Hmm… lapar berat nih. Tercengang bercampur takjub juga melihat perbekalan makan kami yang diatas rata-rata kalau sedang ke lapangan ini. Sampai bingung, bagaimana cara ngabisinnya ya? Sebagai bukti, kami sempat mengabadikannya lho, diantara sinar petromak kurang minyak yang sebentar-sebentar mesti dipompa lantaran kaos lampunya sudah jelek. Makan malam di gazebo bareng-bareng. Paket makan malam pertama cukup mie dan kornet dulu. Kemudian pukul 21.43 kami berkumpul di dermaga, di bawah pancaran bulan yang nyaris purnama. Maksudnya untuk brifing kerjaan besok pagi, bagi-bagi tugas, tapi rata-rata pada keluar romantisnya, nyanyi-nyanyi yang gak karuan juntrungannya mengeluarkan segala koleksi lagu-lagu nostalgia SMP dan SMA.

(22.18) Brifing usai.

(22.15)
Ada purnama dan pantulan keemasan pada garis zenith,
Siluet kapal nelayan dan tiang-tiangnya menganyam malam,
Dasaran pantaiku menarikan kumpulan lamun,
Menawarkan selarik baik angan dan khayalan.

(Nostalgia dermaga Pulau Karang Beras)

Bulan bergulir ke Barat,
Dipeluk mendung,
Dikitari gemintang.
Bulan kian surut dari pandangan,
Menabik malam,
Menggelar langit kelam kebiruan,
Aku kecil di hadapan-Mu.

Hari pertama

Setelah makan pagi yang kesiangan, hari ini kami bergegas mengambil sampel di selatan, barat, dan utara. Sarapan nasi goreng. Walaupun kompornya males-malesan bagai nyala lilin, tapi kami nekat juga. Akhirnya Pak Satim yang tidak sabar menunggu 3 bulan lagi untuk bisa sarapan nasi goreng turun tangan menyediakan tungku di samping basecamp. Jadilah acara masak yang bersimbah air mata. Tapi dasar tidak kurang akal, Dogun sempat menyambar google (kacamata renang) untuk kmenghindari asap yang memedihkan mata. Eh, nasgornya asyik punya lho, bertabur irisan sosis dan daging. Sarapan ditemani air kelapa muda yang dagingnya manis sangatlah mengesankan.
Menjelang tengah hari, Kak Yasman yang berencana mengambil sampel pas kondisi laut surut terendah buru-buru pergi ke hutan bakau sebelah utara pulau ditemani Pak Rudi dan Ipul. Sementara tim plankton memulai perjalanan keliling pulau dengan menumpang Komala Jaya berbekal perabotan lenongnya lab.ekologi untuk mengambil data abiotik buat tugas akhirnya Alloy. Peserta tim ini adalah Alloy, Inong, I’im, dan Dogun serta seperangkat camilan. Titik selatan sukses terambil, tiga kali pengambilan untuk setiap titik. Inong dan I’im sibuk berkutat dengan kegiatan perplanktonan. Meninggalkan sisi utara pulau, ombak mulai mengalun karena posisi kapal sudah dekat dengan off-shore yang mengindikasikan adanya laut dalam. Mual mulai terasa. Untung ada kulit jeruk yang minyak atsirinya bisa menjadi obat pereda mual.

Setelah sekitar 1 jam mengelilingi pulau dan sempat dadah-dadah pada tim bakau di sisi utara pulau, kami pun merapat di dermaga. Rencananya sih menyusul Kak Yasman mbantu ngambil sampel, tapi lelah masih menggayuti tubuh – terutama lantaran menahan mual sepanjang jalan, eh laut tadi – sehingga diputuskan lebih baik menyiapkan makan siang untuk dikirim ke para pencari kerang yang tengah berjuang di sisi utara pulau. Menu makan siang yang disepakati anggota ‘PH Club’ adalah salad dan sup jagung kalengan untuk mendapatkan suplai sayur. Itupun kami masih sempat nggoreng krupuk dan membuka persediaan buah kalengan. Menurut I’im, semua selera menyatu di Penjaliran, kecuali selera Ipul. Ternyata susunan menu ini masih dianggap ajaib oleh Ipul yang notabene belum pernah melihat tampang salad dan masih merasa asing dengan cita rasa mayonais. Sementara itu para member ‘PH Club’ dengan serta merta menyantap menu yang tersaji. Masih ditemani mie instant dan air kelapa muda sebagai alternatif. Ketidaksukaan Ipul terhadap salad disambut bahagia anak-anak ‘PH Club’, I’im, Dogun dan Inong. Lumayan dapat jatah lebih. Di pulau terpencil begini, sesendok tambahan jatah makan amat sangat berarti untuk memperpanjang hidup. Alloy ternyata penyuka salad juga, sementara Kak Yasman mencomot sedikit saja, takut dibilang tidak toleran kali. Sedangkan bapak-bapak jagawana juga antisalad, seperti Ipul.

Pesta kelapa muda di dermaga. Thanks to bapak jagawana *gamungkinmanjatsendiri.. hahaha
Pesta kelapa muda di dermaga. Thanks to bapak jagawana *gamungkinmanjatsendiri.. hahaha

Sore hari diisi kegiatan rekreasi. I’im, Dogun dan Inong segera mencari tempat strategis untuk menikmati pemandangan pantai. Selain itu juga, kali aja Dogun mau motret makhluk-makhluk manis ini. Akhirnya kami menemukan batang Casuarina equisetifolia tumbang yang bisa dijadikan mainan jungkat-jungkit. Setelah bosan jungkat-jungkit, kegiatan dilanjutkan dengan mengumpulkan remis dan kulit kerang di sepanjang pantai. Berdasarkan pengalaman di Pulau Pari, remis ini enak dijadikan lauk makan atau dicemil setelah direbut terlebih dulu. Kerang imut berwarna putih ini banyak sekali dijumpai di sepanjang pantai.

3 pemain, Dogun vs DBB
3 pemain, Dogun vs DBB

 

5 pemain,"ndak imbaaang..."
5 pemain,”ndak imbaaang…”

 

6 pemain,"horeee, seimbang..." :D
6 pemain,”horeee, seimbang…” 😀

Terancam bahaya kelaparan

Malam harinya tidak ada yang istimewa kecuali adanya indikasi bahan makanan yang kian menipis sehingga masing-masing awak dianjurkan mulai berlatih memancing, mencari bahan makanan untuk esok hari. Sementara malam ini – seperti malam-malam sebelumnya – kami mendapat sumbangan ikan bakar dari para jagawana. Sebenarnya takjub juga kami melihat begitu cepatknya bahan makanan menyusut karena pada hari pertama kami justru bingung bagaimana cara menghabiskan makanan sebanyak itu.

Belum kehabisan bekal, masih bisa nyengir senang... :D
Belum kehabisan bekal, masih bisa nyengir senang… 😀

Sesudah makan malam kami rendezvous di dermaga karena bulan semakin purnama dan kami tidak ingin melewatkan keindahannya begitu saja. Tentu saja sambil membicarakan kemungkinan terburuk seandainya saat kita pulang nanti ternyata RI sudah berganti menjadi negara PDI gara-gara kerusuhan kemarin. Maklum, tidak seorang pun diantara kami yang membawa radio, sehingga kekhawatiran itu masih ada. Siapa tahun nanti kami tidak boleh merapat di Jakarta dan kena deportasi sehingga menjadi penghuni tetap pulau ini. Tapi ternyata kerusuhan sudah mereda, demikian berita yang disampaikan oleh para jagawana yang punya radio. Karena lelah, beberapa dari kami tertidur di dermaga. Begitu terbangun mereka pindah ke basecamp. Yang tertinggal di dermaga adalah Ipul, Inong, dan Dogun. Sementara itu, lokasi nongkrong sudah bergeser di atas kapal yang merapat di dermaga karena pasang purnama. Ipul masih sibuk dengan pancingnya yang bolak-balik memancing ikan sejenis. Akhirnya ikan tersebut kami nobatkan sebagai ‘ikan bodoh’. Inong yang benar-benar pemula dalam hal pancing-memancing lumayan puas dengan hasil 4 ekor ikan sersan mayor yang menurutnya lebih cocok menjadi penghuni akuarium daripada penghuni perut karena warna sisiknya yang indah, garis-garis biru kehijauan. Dan memang terbukti di kemudian hari, ternyata rasanya agak-agak pahit.

Purnama semakin naik. Di seberang kami tampak beberapa kapal nelayan yang istirahat merapat di perairan sekitar pulau. Kapalnya terombang-ambing perlahan dialun riak pantai yang sedang pasang. Sementara itu sayup-sayup terdengar Meggy Z mendendangkan hitsnya – yang di kelak kemudian hari menjadi sangat terkenal dan mendapat beberapa penghargaan untuk kriteria lagu dangdut –. Tanpa sadar, Ipul ikutan bersenandung. Ah, gak nyangka kalau Ipul penggemar dangdut. Masalahnya itu lagu masih benar-benar gres, kalau bukan penggemar, biasanya belum familiar. Lama kelamaan angin yang bertiup semakin kencang dan kami jadi masuk angin. Akhirnya Ipul mengundurkan diri dari kompetisi memancing di bawah sinar bulan purnama ini dan bergabung dengan makhluk-makhluk yang sudah molor duluan di basecamp. Dogun dan Inong pun pindah tempat ke bangku di samping gazebo sebelum akhirnya makin merapat ke teras basecamp menghindari terpaan angin laun yang kian kencang. Satunya nongkrong di atas kursi, satunya melantai saja di teras. Agendanya cerita seru tentang masa kecil dan kisah-kisah kucing peliharaan sambil haha-hihi kalau ada yang lucu. Mula-mula sih ngomongnya pelan, kuatir yang udah molor jadi kebangun, tapi lama-lama keluar juga cablaknya (begitu menurut penuturan I’im, yang diam-diam nguping, hahaha). Akhirnya karena sudah lewat jam malam, mata jadi gak ngantuk lagi. Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 2.30, akhirnya mereka bubar dan menyelinap di balik sleeping bag masing-masing walaupun masih harus berjuang memejamkan mata. Rasanya baru bisa tidur setelah lewat pukul 3.00.

Biawak hunter

Aslinya sih yang hunting bukan kita-kita, mana berani lah ya, lagian buat apa? Uji nyali? (alasan sih, karena takut aja). Para jagawana dan nelayan itu yang punya gawe. Ternyata di Penjaliran, kami hidup berdampingan dengan binatang melata tersebut. Kadang-kadang jagawana di situ membuat perangkap dan kalau dapat biawak dagingnya dimakan kali ya (?).

The commander,"Gini lo, cara megang biawak."  I'im,"Iiih, aku nyolek aja deh...atuuuut."
The commander,”Gini lo, cara megang biawak.”
I’im,”Iiih, aku nyolek aja deh…atuuuut.”

Ceritanya, pagi-pagi kami (kecuali Inong yang masih bergelung manis di sleeping bag) memulai hari dengan mancing dan sesi pemotretan. Duh, si Inong pasti nyesel setengah mati melewatkan sesi pemotretan ini. Dan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, mancing kali ini bukanlah kegiatan iseng karena krisis makanan yang sedang terjadi. Mula-mula I’im selalu bertindak sebagai dermawan pemberi sarapan ikan-ikan di dermaga. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan makan-makan kelapa muda. Entah sudah berapa butir kelapa yang berpindah ke perut kami, yang jelas kami tidak manjat sendiri tapi karena belas kasihan para jagawana dan nelayan yang melihat kami belum sarapan hingga agak siangan. Kegiatan mancing berlanjut dan akhirnya setelah umpan diganti dengan sejenis timun laut, I’im berhasil mendapatkan seekor ikan sersan mayor (ikan bodoh) untuk yang pertama dan terakhir kalinya karena Kak Yasman dan Dogun sudah rebut minta makan pagi (yang kesiangan). Sementara makanan sedang disiapkan, Dogun dan Alloy yang dinobatkan sebagai pasangan serasi sedang sibuk motret sample koleksi avertebrata tangkapan Alloy, termasuk nudibranch yang ditemukan Kak Yasman di laut dalam. Pokoknya hari itu diisi dengan istirahat dan bersenang-senang deh. Main jungkat-jungkit lagi setelah makan siang sampai-sampai I’im sempat jatuh dan lebam-lebam, yang lebamnya lama hilang ya Im. Malam harinya sih ingin nongkrong lagi di dermaga. Tapi lelah di badan mengalahkan segalanya. Akhirnya sore-sore sudah pada bobok sekalian mengumpulkan tenaga untuk perjalanan pulang besok pagi.

Senja di dermaga.
Senja di dermaga.

Berkemas pulang

Sedih juga ya bahwa akhirnya kami mesti meninggalkan pulau ini bersama semua kenangannya. Jakarta sudah aman, jadi tidak ada alasan bagi kami untuk tinggal disini lebih lama. Setelah berfoto-foto sejenak dengan berbagai gaya akhirnya kami kembali berada di lambung kapal yang akan membawa kami ke pelabuhan Muara Karang. Kegiatan ibu-ibu memang tidak jauh dari belanja. Di Muara Karang spontan saja I’im dan Inong tergiur oleh penampilan cumi-cumi gendut yang dijual 5000 sekilo. Akhirnya berpindahlah 3 kilo cumi-cumi gendut dari tangan penjualnya ke kantong belanjaan kami. Problem lagi nih, di ESKA kan gak ada kulkas, alhasil sebagian besar cumi-cumi itu berpindah ke tangan Dogun dengan disertai pesan,”Don, kalau sudah mateng jangan lupa anak-anak ESKA dikirimin”. Di kemudian hari ternyata pesan itu terlupa begitu saja sampai cumi-cuminya licin tandas di meja makan keluarganya. Hiks.. Tidak lupa juga beberapa ekor untuk cumi-cumi untuk Ipul, dan dengan curangnya kita sudah milihin yang kecil-kecil buat dia disertai pesan bahwa itu tidak gratis, sampai Ipul sibuk merayu-rayu agar digratisin saja buat dia, hehe..

Akhirnya kami berenam berpencar sesuai tujuan akhir masing-masing. Alloy dijemput orangtuanya, Ipul menumpang angkutan umum kearah rumahnya di Priok, sedangkan yang lain tim Depok menumpang kendaraan seperti biasa. Ke stasiun Jakarta Kota naik KRL arah Depok, dari stasiun Depok naik 04 ke Kukusan. Sebelumnya Inong sempat menodong para anggota The Sixteam untuk menuliskan kesan-kesan selama kami bersama-sama (kecuali Dogun yang tulisannya sudah diyakini tidak bakalan bisa diterjemahkan, lagian dia sudah ngerti sendiri kok, buktinya dia menolak setengah mati pas ditodong nulis, hehe..). Kalau I’im tidak usah nulis kesan pesan lagi karena selama ini sudah mbantu tersusunnya catatan perjalanan ini dengan kisah harian di primbonnya. Berikut ini adalah kesan-kesan tersebut, mulai kesannya The Commander yang mengharu biru, Ipul yang kebanyakan ketawa ketiwi serta cengiran yang tidak jelas serta pesan penuh titik-titik kayak di kertas soal ujian, hingga Alloy yang sangat terkesan dengan kebersamaan ini (ehm.. ehm..). Semua ini dituliskan kembali seperti pesan aslinya:

Tour ke Penjaliran Barat:
Saya nggak percaya akhirnya tour ini bisa berjalan dengan baik. Walau cuma dengan 6 orang saja. So.. sudah sepatutnya aku bersyukur pada Allah dan juga terima kasih yang tak terhingga pada teman-temanku: Alloy, Ipul, Nana, Ima, dan Donny.
Thanks for all,
Yasman

2-08-96
Ehm.. ehm.. ehm..
14.47 sore, gue berenam nyampe di pelabuhan , setelah 5 hari, 4 malam di Penjaliran Barat, gue juga nggak percaya bisa berangkat, tapi buktinya gue bisa kembali..
3 pria, 3 wanita itu telah kembali..
Gue nyadar, sejarah tak-kan bisa terulang.. makanya gue manfaatin kesempatan ini sebaik-baiknya and tentunya nggak bisa gue lupain.. he.. he.. he
14.51
2/08/96
I.V.O.E.L

Buat: Yasman, Ipul, Risma, Nana, Dogun.
2/8 ‘96
Penjaliran barat..
3x ke sana, perasaannya nggak pernah sama.
Yang pertama..
Dihempas ombak, hujan, dan angin.
Yang kedua..
Capek berat, kerja keras tiap hari.
Yang ketiga..
Yang ketiga ini sulit dipercaya! Tim terkecil dengan persiapan seadanya.
Tapi, semua berkesan dan meninggalkan kenangan manis..
Masih ingat salad+mayonnaise vs. Ipul? Masih ingat acara-acara mancing dan dapet ikan sersan? Masih ingat kita merasa kelebihan makanan tapi akhirnya kekurangan?
Banyak sekali kenangan selama di Penjaliran. Terima kasih ya.. buat semua kenangan itu!
(Alloysia.M.S.)

Ahem.. ahem..
Secara umum, menurut laporan pandangan mata semua kegiatan memberi kesan amat sangat menyenangkan. Apalagi personil-personilnya kompak sangat menunjang untuk itu. Walaupun kedatangannya untuk kegiatan yang serius, tetapi tetap santai (atau malah banyakan santainya, hehe). Tapi ada satu hal yang membuatku masih menyesalinya hingga kini. Yaitu tertinggalnya sampel-sampel plankton punyaku di pojok depan pintu basecamp. Padalah itu sampel aku harapkan bisa menjadi bahan pra-penelitian karena sudah diambil dengan cara seilmiah mungkin sampai dibela-belain ‘fly’ di atas perahu motor sambil sibuk mengendus-endus kulit jeruk (maksudnya biar nggak ‘fly’ lagi). Oh, sampelku yang malang.
Inong,

Epilog:
Laporan perjalanan ini dibuat berdasarkan ingatan dan catatan pengamatan harian di buku primbon milik Inong yang ditulis bersama dengan I’im selama kurun waktu 1996-1999 (lama ya..). Catatan ini diterbitkan dan didedikasikan untuk Alm. Ipul yang telah mendahului kami pada tahun 2011 y.l. Ipul, semoga amal baikmu menjadi lentera di di alammu kini.

Ki-ka: (berdiri) para jagawana dan Dogun, (duduk) Ipul, Yasman, Alloy, I'im, Inong.
Ki-ka: (berdiri) para jagawana dan Dogun, (duduk) Ipul, Yasman, Alloy, I’im, Inong. (through the courtesy of I’im)
Advertisements

4 thoughts on “Penjaliran Barat Island in Memoriam

  1. Entah kenapa nemu tulisan ini… mungkin dah jodoh. Asli gue udah nggak inget detil kronologis perjalanan yg mengantarkan gue jadi S.Si. dan dgn itu pula jadi gerbang gue tuk lanjut ke M.Sc. dan Dr. Thanks so much utk Ipul (alm), Loyi, Dogun, Ima, dan Nana. Tanpa kalian, mungkin semua jadi lain cerita. Semoga Allah memberikan kesuksesan dan kesehatan selalu pada kalian. Utk Ipul (alm.) semoga Allah memberikan tempat yg terbaik, aamiiin. Special thanks to Nana yg sdh menarasikan dan mendokumentasi perjalanan penting ini.

    • Kak Yasman, memang jodoh tak lari kemana *loh* 🙂
      Saya pribadi juga berterimakasih karena diberi kesempatan bergabung saat itu. Sungguh memberi warna tersendiri di dalam perjalanan hidup. Terdengar seperti roman yaa 😀
      Semoga kesuksesan selalu menyertai kak Yasman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s