The Power of Kepepet

Hari ini, Kamis 6 Maret saya ngampus lebih dini. Sebelum jadual tutorial pukul 9, saya harus mengunduh dan mengedit proposal plus membuat surat pengantar ke rektor. Biasaaa, proposal minta uang untuk jalan-jalan.

Beberapa hari sebelumnya, Fina, dosen Fakultas Teknologi Pertanian yang juga teman ngaji, mengajak saya mengikuti Kursus Biologi Molekular dan Imunologi yang diadakan oleh Pusat Kedokteran Tropik UGM. Haduuh, sudah lama saya ingin, tapi baru kali ini Tuhan berkenan menunjukkan jalan kesana. Agak ketar-ketir juga, karena batas akhir pendaftaran dan pembayaran yang 4 juta itu BESOK TANGGAL 7!(capslock dan pakai tanda seru) dan peserta dibatasi 40 orang. Seharusnya kami mengontak panitia dulu baru usaha bikin proposal serta persiapan lainnya. Tapi kami memilih mengajukan proposal dulu – yang seringkali kalau sudah sampai di meja birokrasi bakal takes time hingga seminggu –, selebihnya biar takdir yang bicara. Setelah mengakhiri tugas tutorial, tanpa membuat janji dengan Dekan saya ujug-ujug menghadap di jeda waktu beliau yang sangat singkat untuk minta tandatangan persetujuan. Untungnya beliau tidak sedang dinas luar. Ay ay ay – sambil nari salsa –, ternyata beliau sangat mendukung bahkan berjanji membiayai kursus saya dengan uang fakultas hari ini juga – underlined: hari ini juga –. Duuh, Bapak baik banget ya, tapi karena saya sudah janjian dengan Fina, so susah senang akan saya jalani dengan dia dulu… *setia kawaaan .

Bakat mepet dan kepepet :(
Bakat mepet dan kepepet 😦

Setelah beberapa kesalahan teknis yang membuat kami harus sa’i rektorat-fakultas-rektorat sampai gobyos keringetan ngejar waktu, akhirnya disinilah kami, lantai 7 gedung rektorat. Menunggu dengan cemas karena setidaknya hari ini permohonan kami sudah harus disetujui rektor. Baru teringat kalau harus menghubungi panitia meminta penundaan waktu pembayaran dan tentunya menanyakan posisi kuota yang 40 orang itu sudah tercapai apa belum. Gak lucu aja kalau proposal sudah disetujui tapi kuota sudah penuh. Dan ternyata saudara-saudara, kata mbak Weni, cp panitia kursus, kuota masih kurang 3 orang lagi dan kami boleh menunda pembayaran. Pfiuuh… *ngusapkeringatdidahi.

Sekarang, tunggu kabar – yang semoga baik — dari lantai 7 gedung rektorat sambil memikirkan siapa yang akan meng-handle urusan domestik selama 8 hari saya tinggal pelesir nanti.

Advertisements

One thought on “The Power of Kepepet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s