Mengintip Sisi Lain Dunia Pendidikan

Tiga hari ini saya ditugaskan menjadi Pengawas Satuan Pendidikan Ujian Nasional (UN) atau disebut juga “pengawas independen” di sebuah SMA swasta kota Malang. Selain saya, ada dua orang pengawas lain dari institusi saya dan empat orang pengawas ruang yang bertugas bergantian tiap mata pelajaran yang diujikan.  Peserta UN di sekolah ini sebanyak 20 siswa.  Iya, benar, satu angkatan terdiri dari 20 siswa.  Jumlah ini merupakan setengah dari hasil seleksi alam.  Sisanya sudah ‘berguguran’ di tahun pertama dan kedua.  Selama saya disana, sebagian siswanya harus dijemput di rumah agar tetap mengikuti ujian.  Seorang guru menjadi ‘satpam’ di depan gerbang sekolah mengawasi kelengkapan seragam siswa. Tugasnya memeriksa badge, lokasi, sampai mengingatkan siswa untuk merapikan pakaian.  Untung saja tidak ada screening rambut gondrong, kalau ada, pasti gerbang sekolah berubah menjadi tukang cukur rambut gratis saking banyaknya yang gondrong.

Sekolah ini bernasib seperti kebanyakan sekolah-sekolah swasta yang tersaingi oleh pertumbuhan sekolah negeri sejak kebijakan pemerintah membuka sebanyak-banyaknya sekolah negeri.  Tentu saja bukan salah pemerintah membuka kesempatan bersekolah seluas-luasnya sehingga sekolah swasta kekurangan siswa.  Dan dengan tidak adanya pungutan SPP dan cicilan uang gedung yang ‘tidak jelas pelunasannya’, sekolah ini hidup dari subsidi pemerintah serta sumbangan sukarela para pengurus yayasan. Pungutan yang diadakan hanya berupa uang daftar ulang dan uang ujian yang nominalnya tidak sampai 100 ribu rupiah.  Itupun dipungut per semester.

Sekolah tempat saya menjadi pengawas independen UN.
Sekolah tempat saya menjadi pengawas independen UN.

Sebagai pengawas independen saya bertugas mengawasi pelaksanaan ujian secara keseluruhan termasuk mengawal perjalanan soal ujian sejak diambil sampai dikumpulkan lagi di sub rayon. Pengawas independen tidak boleh masuk kelas kecuali ikut mengawal kepala sekolah kalau ada masalah yang harus diselesaikan di dalam kelas. Selain itu, tugas pengawas independen adalah baca koran, makan camilan, dan ngobrol dengan panitia sekolah atau pengawas lain.  Dari obrolan dengan panitia sekolah saya mendapat informasi bahwa sebagian siswa sekolah ini adalah siswa bermasalah.  Sebagian siswa yang sudah dikeluarkan adalah siswa yang sangat bermasalah.  Kebanyakan mereka mengalami masalah keluarga.  Lebih tepatnya masalah orangtua, bukan masalah siswa.  Masalah orangtua yang berimbas pada proses pendidikan siswa.  Ditambah lagi kebanyakan orangtua melimpahkan semua proses pendidikan kepada sekolah, sehingga kurang kerjasama antara orangtua dan pihak sekolah.  Selama ujian berlangsung, dari pengamatan pengawas kelas, kelihatan sebagian besar siswa — terutama yang putra — mengerjakan ujian dengan asal-asalan.  Kertas buram untuk hitungan dipenuhi gambar-gambar yang tidak berhubungan dengan materi ujian. Malah ada yang sempat menggoda pengawas ruang yang masih muda. Jangankan berpikir tentang prestasi, berangkat sekolah saja masih ada yang harus dijemput gurunya.  Mungkin ini kompensasi dari siswa sebagai salah satu cara menarik perhatian orangtuanya.  Dan kelihatannya cara ini  tidak terlalu berhasil.

Tapi kami yakin, pasti ada diantara mereka yang nantinya akan berhasil dalam hidupnya.  Kalau bukan dari usaha diri dan orangtuanya, setidaknya keberhasilan akan datang dari do’a guru-gurunya yang telah membimbing mereka dengan penuh kesabaran.

Bersama kepala sekolah, guru, dan rekan-rekan pengawas UN.
Bersama kepala sekolah, guru, dan rekan-rekan pengawas UN.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s