Larung

“Besok pagi aku ke pantai sebelum kau melaut.”

Kudengar samar suaramu dari balik anyaman bambu yang membatasi kamar dan serambi.  Aku berbalik masuk mengambil kaos petromaks baru yang kuletakkan di balai-balai dekat dapur.  Melintasi kamar tempatmu berada dan berhenti sebentar di ambang pintunya.

“Aku tidak melaut. Nanti saja kalau musim angin Barat usai. Mungkin masih beberapa hari lagi.”

Tidak kudengar jawabmu.  Kulanjutkan menyarungkan kaos lampu dan mulai memompa pelan spiritus di tabung petromaks itu.  Bara merata di bola lampunya dan memendarkan cahaya ke seluruh ruang.  Kukaitkan lampu di gantungan langit-langit ruang depan.  Angin laut yang berhasil menerobos celah dinding menggoyangnya pelan.  Menciptakan bayang-bayang yang bergerak. Aku merebahkan punggungku di balai-balai beralas tikar, memandang bayangan itu seperti film yang diputar ulang.

Dua tahun lalu aku menikahimu. Tidak ada pesta. Hanya beberapa kerabat yang datang dari pulau lain dengan kapal motor yang mereka sewa. Hari itu adalah setahun berlalu setelah putus harapanmu menunggu kabar darinya. Laki-laki yang katanya pergi bekerja di kebun kelapa sawit negri tetangga. Laki-laki yang berjanji membawamu kesana setelah ringgit terkumpul. Akhirnya kabar tentang pernikahannya dengan perempuan sana kau dengar juga dari temanmu.  Dan kita menikah.

Aku kira hitungan bulan sudah cukup untuk menjadikannya mimpi untukmu.  Nyatanya tidak, atau belum.  Bukan ringgit yang kau tunggu, tapi dia.  Kalung berbandul bintang laut darinya masih juga kau pakai.  Katamu sinarnya menghidupkan jiwamu.

Bayang-bayang terayun kian kuat, malam melarut menunggu fajar.

***

Aku terbangun oleh suara derit pintu depan.

“Masih gelap. Pagi sekali kau ke pantai?”

“Iya. Sekalian mencari remis. Lama tidak memasak remis. Moga-moga saja laut sudah surut walaupun belum terang benar.”

“Ya, hati-hatilah”.

Sekilas sudut bibirmu menampakkan senyum.  Aku mengikutimu sampai barisan pohon Jarak yang menjadi batas halaman dan jalan.  Memandang punggungmu sampai menghilang di balik rimbunan Pandan Laut.  Tiba-tiba napasku menjadi sesak oleh harap.  Aku ingin kau untukku.  Bukan dengan setengah hati.  Tidak dengan berbagi.  Aku tidak ingin egois tapi juga tidak ingin mengemis.  Seperti masa kecil kita dulu, saat aku dan dia menyembunyikan boneka anyaman pandanmu sampai kau menangis.  Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi.

Sambil berusaha memperbaiki lagi mesin motor perahuku aku menunggumu.  Mesin motor ini belum lama aku miliki, tapi karburatornya mudah kotor sehingga terkadang ngadat saat di tengah laut.

“Bang, aku pulang.”

Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melihatmu tersenyum seperti saat ini.  Langkahmu ringan dengan rambut meriap terpercik sinar matahari pagi.  Memasuki halaman menjinjing keranjang penuh remis.

“Aku bawakan banyak remis, sebagian nanti direbus seperti kesukaanmu.”

“Ning,”

“Ya, wajahmu kelihatan heran? Sini aku akan beritahu juga sesuatu.”

Kami duduk bersisian di undakan depan teras.  Sama-sama menghadap ke laut lepas.  Mungkin kau tidak ingin memandangku tapi tanganmu menggenggam tanganku. Lirih kau mulai berkata.

“Aku tadi ke pantai menemukan banyak remis. Musim sedang bagus walaupun hari pasang lebih lama. Dan kalungnya sudah kulepas.”

Aku terkejut, melirik sekilas ke lehernya tempat kalung itu biasa tergantung. Ya, tidak ada lagi. Pandanganmu lurus ke depan seperti menembus fatamorgana. Setengah berbisik kau lanjutkan kata-katamu.

“Bang, selama ini aku selalu mencari dirimu. Tapi tidak ketemu juga. Aku rasa kalung itu penyebabnya. Cahayanya membuatku silau sehingga tidak bisa melihatmu. Jadi aku buang saja di laut. Aku tunggu agak lama sampai benar-benar tidak kelihatan, hilang bersama gelombang pasang.”

“Jiwamu nanti lemah.”

Kukatakan saja apa yang terpikir di benakku, tapi suaraku keluar seperti desis yang hampir tak terdengar olehku.

“Aku mau kau yang menyinari.”

Jawabmu terdengar tegas, nyaris seperti perintah.

“Ning, kau lihat aku, selama ini kau yang menghidupkan jiwaku dan aku juga mau kau hidup olehku.  Cahayaku buatmu.”

Entah bagaimana dengan nanti.  Tidak ada janji tentang bahagia dan cinta.  Tapi saat ini kita duduk merapat dan rambutmu yang meriap menyentuh wajahku.

Larung...  (the pic was taken from https://img0.etsystatic.com/000/0/6295140/il_fullxfull.240216428.jpg)
Larung…
(the pic was taken from https://img0.etsystatic.com/000/0/6295140/il_fullxfull.240216428.jpg)
Advertisements

2 thoughts on “Larung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s