Keuntungan Belanja Di Warung

“Hari gini masih belanja di warung? Bukannya sekarang jaman swalayan?”,

Iyalah, memangnya ‘Ada Apa Dengan Warung’? (NB. Sekuel AADC = AADW). Asal tahu saja kurang lebih 80% perputaran uang urusan logistik di negara ini terjadi di warung dan pasar tradisional. Sisanya berlangsung di swalayan atau hypermarket. Itu saya tahu dari televisi, tapi lupa siapa yang bilang 😛

Sebetulnya apa sih keuntungan belanja di warung? Banyaaak. Berikut adalah beberapa kelebihan belanja di warung yang berhasil saya identifikasi:

1. Tidak usah mandi/ganti baju. Pagi-pagi kehabisan telur buat sarapan? Capcus sebentar ke warung tetangga, tidak usah repot mandi atau ganti baju. Praktis kan?

2. Dekat rumah. Ya, hampir tidak mungkin untuk beli sebungkus garam saja kita dandan dulu, manasin kendaraan, terus nyetir ke warung yang jaraknya kurang lebih 15 km PP.

3. Tidak ribet cari tempat parkir. Tidak perlu parkir kendaraan, karena modalnya cuma kaki dan keringat.

4. Sambil olahraga. Kalau warungnya agak jauhan dan perlu cepat, cukup ganti sandal dengan sepatu lari. Sedikit gobyos tapi sehat dan lumayan mengurangi berat badan.

5. Harga lebih murah . Potongan harga di swalayan itu hanya berlaku sewaktu-waktu, sedangkan di warung bisa kita dapatkan harga yang lebih murah setiap hari.

6. Bisa ngutang. Belanja di swalayan memang bisa ngutang pakai kartu kredit tapi bulan depannya harus bayar plus bunga. Di warung, kamu bisa ngutang tanpa bunga dan bayar setiap saat *saat ingat*.

7. Antrian bayar lebih singkat. Pelanggan di warung dan barang belanjaannya pun biasanya tidak banyak sehingga antrian tidak panjang walaupun pada saat akhir pekan.

8. Sarana sosialisasi dengan tetangga. Hal yang sangat langka di jaman sosial media adalah bertemu muka dengan tetangga dan ini bisa terjadi di warung. Setidaknya silaturahmi dengan tetangga pemilik warung sekalian membahas harga cabe merah keriting dan bawang merah pipilan yang makin naik belakangan ini. Saya pernah kehabisan laos dan pergi ke warung tetangga untuk beli laos. Karena si tetangga tidak menyediakan laos akhirnya saya dapat laos gratis dari persediaan bumbu dapur si tetangga. Lain kali saya akan beli mesin cuci di warungnya.

9. Berbelanja sesuai tujuan . Saat belanja di swalayan ada kecenderungan struk belanjaan jadi lebih panjang dari tujuan semula karena kita berpikir ‘mumpung sedang belanja’. Coba kalau di warung, walaupun mungkin item belanja bertambah, tapi karena dekat rumah kita jadi berpikir ‘masih bisa dibeli nanti’.

10. Dilayani . Walaupun di swalayan ada mbak-mbak SPG yang cantik, wangi, dan berwarna-warni berbaris dekat barang dagangan mereka, tapi hanya sedikit dari kita yang memanfaatkan mereka untuk bertanya atau mengambilkan sesuatu. Mereka hanya akan melayani kita kalau kita beli barang dagangannya. Saya malah lebih sering menghindari mereka karena tidak ingin diganggu oleh promo barang-barangnya. Di warung, kita bisa mengajukan banyak pertanyaan.
Contoh tanya jawab yang terjadi di warung pada saat akan membeli tepung beras:
“Tepungnya ada bu?”
“Tepung apa?”
“Tepung beras?”
“Beras apa?”
“Beras Mentari”
“Yang super atau yang biasa?”
“Yang super”
“Berapa kilo?”
“Sekilo”.

Alhasil, kita pulang membawa beras Mentari Super sekilo. Benar-benar pelayanan yang prima! 😀

11. Ada jasa layanan antar . Walaupun ada swalayan yang menyediakan jasa layanan antar, tapi tidak mungkin kan beli minyak goreng 2 liter saja minta diantarkan. Biasanya ada minimal belanja sekian ratus ribu rupiah. Kalau di warung, tinggal telepon tetangga pemilik warung, sebutkan belanjaan yang kita inginkan, tidak sampai 15 menit belanjaan kita sudah sampai di depan pintu rumah. Memang untuk jasa layanan antar ada minimal belanja, tapi tidak sampai ratusan ribu rupiah.

12. Waktu belanja lebih fleksibel . Swalayan punya jam operasional tertentu walaupun beberapa buka 24 jam. Sedangkan kalau warungnya masih/sudah tutup tinggal ketok pagar kita sudah dapat layanan eksklusif bonus cemberut dari pemilik warung sembil ngedumel ,”Tetangga tidak tahu diri!”.

Berikut adalah gambaran betapa praktisnya belanja di warung. Contohnya adalah waktu dan biaya yang diperlukan untuk membeli susu:

Di warung:
Perjalanan rumah – warung – rumah: 10 menit
Memilih susu dan transaksi: 10 menit
Selesai.
Total waktu yang diperlukan: 20 menit
Pengeluaran: Sejumlah harga susu

Di swalayan:
Persiapan: 20 menit
Perjalanan rumah – swalayan – rumah: 30 menit (kalau di kota besar bisa sampai sejam lebih)
Cari parkiran: 10 menit
Mencari rak tempat barang yang kita inginkan: 5 menit
Sampai di rak susu dan terjebak mbak-mbak SPG yang sedang promosi: 15 menit
Mampir-mampir melihat/membeli barang lain: 30 menit
Antri membayar: 10 menit
Si Kecil ingin main di playground: 30 menit
Makan siang: 30 menit
Selesai.
Total waktu yang diperlukan: 180 menit (3 jam)
Pengeluaran: Sejumlah harga susu, barang-barang lain, biaya main di playground, makan siang, bahan bakar kendaraan/transportasi.

Jadi, kenapa tidak belanja di warung?

Catatan: Tulisan ini mengandung unsur intimidasi 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s