Jalan-jalan ke Papuma

Papuma berlokasi di pesisir pantai Selatan Kota Jember dan masuk wilayah desa Sumberejo, kecamatan Ambulu. Nama Papuma merupakan singkatan dari Pantai Putih Malikan.  Sebutan ‘malikan’ disini maksudnya ‘malihan’ atau berpindah-pindah, karena disana terdapat beberapa batuan pantai yang selalu pindah-pindah tempat karena derasnya arus ombak. Tempat wisata ini merupakan kombinasi dari pantai, tanjung, teluk, dan pulau-pulau karang (atol) yang menghiasi teluknya.

Dulu, 30 tahun yang lalu saat masih tinggal di Jember saya hanya kenal Pantai Watu Ulo. Dan sekarang, beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman FASE389 (Forum Alumni SMPN3 Jember Angk.’89) berkesempatan mengunjungi Pantai Papuma yang kami tempuh kurang lebih 1 jam dari kota Jember. Jalannya nyempal dari jalan besar menuju Watu Ulo. Aspalnya sepanjang 5 km lumayan masih utuh walaupun berlubang-lubang di beberapa titik. Lima belas menit dari titik sempalan kami disuguhi pemandangan ladang-ladang jagung dan hamparan pokok jati muda milik Perum Perhutani KPH Jember. Di gerbang masuk kami membayar retribusi 12.500 rupiah/orang kemudian mulailah medan yang menikung tajam, menanjak, dan menurun menyisir bukit batu selama kurang lebih 10 menit. Gigi roda selalu standby di angka 1. Jalan sempit ini bikin deg-degan saat berpapasan dengan kendaraan lain.

Tiba di lokasi, tampak deretan cottage dan warung-warung makan menghadap ke pantai. Di bumi perkemahan dekat pantai juga masih berdiri beberapa tenda pengunjung. Saya langsung nyesel berat batal menginap di Papuma malam sebelumnya. Pemandangan pantai dan pebukitannya sangat menjanjikan. Kombinasi antara pantai lepas laut Selatan yang berombak kuat dan hutan tropis yang dihuni beberapa jenis satwa liar seperti lutung (monyet ekor panjang), burung, biawak, dan ular. Kadang-kadang ada rusa juga turun dari Gunung Watangan yang datang mengasin di saat matahari mulai terbenam. Disana kita tidak usah khawatir jauh dari makanan. Kalaupun warungnya tutup kita bisa beli ikan dari nelayan yang merapat menjelang matahari terbenam lalu bakar sendiri. Yang hobi mancing juga bisa mengayun pancingnya dari Sitihinggil, dataran diatas bukit di ujung barat pantai. Dari atas bukit itu kita bisa lebih puas memandang gugusan pulau karang yang tersebar di teluk Papuma. Ada juga jasa perahu untuk merapat ke atol-atol tersebut yang dinamai dengan nama-nama wayang, Batara Guru, Kresna, dan Narada. Pulau Narada yang paling dekat dan menjadi ikon pemandangan di Papuma. Atau mau ke Nusa Barong? Pulau tanpa penghuni itu dapat dicapai kurang lebih 4 jam berperahu.

Selamat Datang di Papuma :)
Selamat Datang di Papuma 🙂
Pantai, pagi menjelang siang.
Pantai, pagi menjelang siang.
Batara Guru, Kresna, dan Narada, gugusan pulau karang di teluk Papuma.
Batara Guru, Kresna, dan Narada, gugusan pulau karang di teluk Papuma.  Tampak samar-samar pulau Nusa Barong di kejauhan.
"Dilarang mandi di laut" karena kuatnya arus ombak pantai Selatan.
“Dilarang mandi di laut” karena kuatnya arus ombak pantai Selatan.
Jalan setapak menuju Sitihinggil, tidak terlalu menguras tenaga kok :)
Jalan setapak menuju Sitihinggil, tidak terlalu menguras tenaga kok 🙂
Mengayun pancing dari Sitihinggil, umpannya udang, pemberatnya pakai rantai sepeda.
Mengayun pancing dari Sitihinggil, umpannya udang, pemberatnya pakai rantai sepeda.
Batu karang Narada, ikonik.
Batu karang Narada, ikonik.
Pantai Papuma, dari ketinggian.
Pantai Papuma, dari ketinggian.
Sisi barat pantai Papuma.
Sisi barat pantai Papuma.

Nah, untuk acara jalan-jalan bareng teman-teman FASE389 ini, sehari sebelumnya kami sudah membooking salah satu warung dekat pantai untuk menyediakan makan siang. Delapan kilo lebih ikan bawal dan kakatua kami dapatkan dengan harga 50 ribu sekilonya.  Acara utama kami tentu saja “Narsis Bersama” dilanjutkan makan siang dan ngobrol-ngobrol tentang pembentukan kepengurusan baru dan kelanjutan kegiatan FASE389.

Menimbang ikan untuk makan siang.
Menimbang ikan untuk makan siang.
Bersama... :D
Bersama, Bravo FASE389!!! 😀

Lebih jauh tentang Papuma bisa disimak di situs resminya.

Advertisements

3 thoughts on “Jalan-jalan ke Papuma

  1. Temaram warnanya malam
    Purnama enggan menyapa
    Terlena dua insan
    terjerat perpisahan
    Senyumlah meskipun sedih
    Lihatlah ku tak menangis
    Yakinlah tiada cara mampu melarutkan cinta kita
    Tambatkan aku selalu dalam hatimu
    Pegang janjiku yang erat
    Kemana pun jauhnya kau mengembara
    Aku mengikuti dekat di kalbu
    Menjaga dirimu
    Tambatkan aku selamanya dalam hatimu
    Biarkan dunia melihat
    Cinta yang tiada kenal batas dan waktu
    Bersemi selalu di dirimu
    Kejarlah seribu impian
    Doaku turut berkawal
    Derita cinta kita kan menemani sepanjang jalan

    (Tambatkan aku dalam hatimu – Rita Effendy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s