Beranda

Jalanan lengang sehabis hujan. Sore belum lengkap, jarum pendek masih di angka tiga. Laki-laki muda itu meluruskan punggungnya di kursi malas yang terbuat dari bambu. Pandangannya ke depan sedikit terhalang oleh semak merambat yang terpangkas rapi di pinggir pagar besi. Dari sela-sela pagar dia melihatnya. Anak kecil itu keluar dari pintu rumah di depannya. Menuntun sepeda mini roda empat berwarna hitam.

“Bu, sudah tidak hujan lagi. Boleh main ya?”

Lalu terdengar suara perempuan menyahut dari dalam, mengijinkan dia bermain sampai ke taman saja. Anak itu berteriak-teriak kegirangan dan mulai mengayuh sepeda kecilnya menuju taman. Tempat anak-anak lain sebaya berkumpul dan bermain hingga sore usai. Melihatnya, laki-laki itu menghela napas panjang. Menekan degup yang tiba-tiba muncul di dada. Seolah menanti adegan berikutnya. Siapa tahu perempuan yang dipanggil ‘ibu’ oleh anak itu keluar entah untuk apa. Mungkin menyapu halaman, merapikan semak bunga soka yang mulai tak beraturan, atau sekedar menghirup wangi daun cemara bercampur aroma rumput basah di halamannya. Perasaan itu kembali menyergap. Tapi hening. Justru angin membawa wangi daun cemara ke beranda tempatnya berada.

Tiga bulan yang lalu ibu dan anak itu mengontrak rumah persis di depan rumahnya. Sebuah klaster kecil, agak jauh dari pusat kota, yang berisi tidak lebih dari dua puluh rumah dan dilengkapi musholla serta taman bermain. Sudah tiga bulan ini juga dia menjadi rajin duduk-duduk di beranda. Sesuatu yang sebelumnya tidak dia suka. Tapi tetap saja, dia geser kursi malas bambu itu agak ke sudut, terlindung oleh pohon kol banda agar terhalang dari pandangan langsung penghuni di depannya. Lalu biasanya setengah berbaring dia membaca buku sambil menunggu saat-saat perempuan itu melintas atau beraktifitas di halaman rumahnya. Sekejap memang, tapi sungguh enggan dia lewatkan.

Seharusnya dia bertandang ke rumah itu, menunjukkan itikad sebagai tetangga yang baik. Agar saling mengenal. Lalu mungkin bertukar sapa saat bertemu. Tapi itu bukan kebiasaannya. Semenjak tinggal di rumah itu dua tahun lalu, hanya pak RT yang dia kenal saat mengurus surat pindah. Tetangga lain hanya kenal nama. Selain itu, ada bi Supi warga kampung sekitar yang datang ke rumahnya tiga kali seminggu untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merapikan halaman. Bahkan mungkin tetangga lain pun tidak tahu tentang keberadaannya. Kebanyakan mereka pergi bekerja pagi-pagi sekali setelah mengantarkan anak-anak bersekolah. Lalu tiba di rumah menjelang senja. Tidak seperti tetangga depannya itu. Perempuan itu tidak pernah tampak keluar rumah untuk bekerja dan anaknya belum sekolah.

“Ah,” pelan dia mendesah ragu. Kelihatan si ibu tidak akan keluar. Dia membayangkan perempuan itu memasak atau membersihkan rumah. Dan memutuskan untuk menunggu sampai si anak pulang dari taman. Tapi tiba-tiba tampak perempuan itu membuka pintu rumah dan berjalan ke pagar. Adegan singkat yang nyaris membuat jantungnya melompat keluar. Berdegup sampai di telinganya. Rupanya perempuan itu akan menjemput anaknya ke taman. Dia beringsut berusaha menyembunyikan sosoknya di balik bangunan pagar. Tidak ingin terlihat oleh siapapun apalagi oleh perempuan itu. Tak berapa lama kedua ibu beranak itu muncul. Tertawa-tawa dan saling bercerita tentang katak yang mereka jumpai diantara semak taman. Katak yang melompat menjauh karena takut. Dan mereka yang lari menjauh karena terkejut.

Senja mulai menutupkan tabirnya yang jingga. Dia pun beringsut dari kursi bambu, menggapai kursi rodanya, dan mengayuhnya memasuki rumah dengan hati bahagia. Bahagia yang begitu sederhana. Cukup dengan melihat perempuan itu dari beranda rumahnya.

Dari tempat ini aku melihatmu...
Dari tempat ini aku melihatmu…

(Pic was downloaded from http://cooleyartgallery.net/wp-content/uploads/2009/06/veranda-gate.jpg)

Advertisements

One thought on “Beranda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s