Bintang Yang Terdekat

“Itu rasi beruang besar,” katamu sambil menunjuk langit yang terasa menaungi kepala, 2,5 kilometer lebih dekat daripada tempat tinggal kita.

No no, aku rasa itu pari, karena kamu menunjuk ke selatan.” Sergahku sambil memutar-mutar tombol tuning di radio tua yang aku temukan di gudang bawah atap kemarin siang.

“Kita tentukan bintangnya dulu baru tahu arah mata anginnya, ah, kamu terbalik.  Itu utaraaaa, ah, kamu bagaimana sih, gak heran kalau kamu gampang tersesat di hutan.  Itu kan ada empat bintang, trus ada bintang lain diatasnya seperti ekor, pasti beruang besar.” Sangkalmu.

“Perhatikan lagi deh, diatasnya tidak ada lagi bintang yang lebih terang.  Itu yang paling terang ada di bawah, bintang alfanya ada di bawah, pasti pari.” Kilahku tanpa menghiraukan sindiranmu. Ahay, mulai ketemu salah satu saluran radio AM. Mungkin siaran RRI lokal.

“Coba lihat sisi satunya,” Kamu mulai mencoba mengira-ngira mana utara dan selatan. “Hwaduuuh, gak terlalu jelas.  Ada awan lewat.”

“Sudahlah, percaya aku saja.  Itu pasti pari.  Bintang alfanya yang paling terang ada di bawah.  Kalau beruang besar, bintang alfa ada di puncak langit.  Langit utara agak mendung sih, jadi tidak terlalu terlihat.  Nanti kalau awannya menyingkir kita bisa melihat tujuh bintang membentuk formasi gayung.  Makanya disebut juga konstelasi bintang tujuh.  Bintang yang paling terang ada di paling atas, dekat puncak kubah langit.  Aku lebih senang menyebutnya biduk sih.”

Kamu diam sambil senyum-senyum melihatku,”Kalau bintang yang paling terang buatku adalah kamu.”

Huaa… untung saja gelap malam menyembunyikan semburat hangat di wajahku.  Vasodilatasi lokal ini cukup aku saja yang tahu.  Lebih baik aku menjauhi perdiangan dan menenggelamkan wajah di sleeping-bag menghindari pandangmu yang penuh selidik.  Mungkin kamu hendak mengira-ngira bagaimana responku.  Tidak, kamu tidak boleh tahu apa yang kamu rasa tahu.

“Whehehehe… rayuanmu tidak mempaaan.  Besok pagi kamu tetap dapat giliran menyiapkan sarapan.” Sedikit kukeraskan volume radio agar perhatianmu teralihkan.

“Tapi memang Re, kamu itu bintang terangku.  Kamu pari yang menunjukkan arah selatanku dan biduk yang menuntunku ke utara.” Kamu tetap serius, suaramu yang datar terasa mengandung daya elektromagnet.

Aku memalingkan muka memandangi permukaan Ranu Kumbolo yang diam seperti ikut menunggu jawaban.  Bulan, mana bulan, yang biasanya muncul disaat-saat bimbang.  Yang kuningnya menenangkan.  Bayangannya di permukaan air pasti membantuku menemukan jawaban.  Tapi bulan tidak tampak di langit malam.  Itulah mengapa bintang-bintang kelihatan lebih terang.  Aku gelisah.

“Re, kamu takut apa? Kita tetap berteman kok. Cuma beda status, sedikiiit. Agar kita jadi lebih memiliki.”

“Tidak Bi, akan berbeda nanti kalau kita menjadi kekasih.” Akhirnya kutemukan kalimatku di sela-sela ranting cemara,”Sebagai kekasih, kalau kita berselisih, badainya akan lebih terasa, lalu kita akan menjadi orang lain yang memanggul sakit dan kecewa.  Beda dengan berteman, aku masih bisa ngata-ngatain kamu, gak perlu jaim, gak perlu sungkan-sungkan kalau mau curhat apapun, dan kamu juga begitu.”

Kuberanikan diri memandang manik matamu sebelum aku tenggelam didalamnya.  Sekilas saja.

“Aku bisa nyaman denganmu karena kita berteman.  Nanti nyaman itu akan hilang kalau kita jadi kekasih.”

“Re, aku berusaha mengerti.  Maaf kalau aku ingin lebih.  Kita akan tetap berteman sampai kamu siap.  Tapi saat ini tidak ada bintang yang lebih terang dari dirimu.”

Duh, kalimatmu itu, seperti menghakimi sekaligus menyudutkan aku di kursi pesakitan.  Aku tidak ingin kehilangan rasa nyaman denganmu.  Tapi, seandainya kamu dengan orang lain mungkin aku tidak akan sanggup juga.  Iya betul, sama, saat ini tidak ada yang lebih bisa mengerti aku selain dirimu.  Kita itu seperti dilahirkan untuk saling melengkapi.  Cerita kita juga lengkap.  Ada episode yang membuat tertawa, sedih, marah, kesal, bahagia, terharu.  Ah, semua ada.  Mungkin suatu saat aku harus menerima kalau kamu bertemu orang bisa menjadi kekasihmu dan bukan aku.  Sedih? Membayangkan saja aku sedih.  Tapi saat ini aku tidak bisa.  Karena aku tahu jalannya akan berbeda.  Tawa kita jadi berbeda, sedih dan marahnya juga jadi lain.  Dan kalau ada perpisahan, kita tidak akan bisa kembali seperti ini.  Kisah cinta itu irreversible.  Itu postulat yang aku anut dari dulu.

“Bi, aku juga minta maaf.  Tapi yakinlah, saat ini kamu matahariku.  Bintang paling terang dan paling dekat di hatiku.  Kamu itu sumber energiku. Mungkin juga untuk nanti, aku belum tahu.” Suaraku terbang oleh angin malam. Sampai ke seberang danau, pada deretan bukit yang membentuk siluet di horizon. Ada lega yang luar biasa setelah kusampaikan ini. Karena ini pengakuan.  Agar kamu juga tahu.  Aku tersenyum memandang manik matamu, kali ini kubiarkan diriku tenggelam di dalamnya.

Kamu diam di seberang perdiangan, tapi kulihat sudut bibirmu membentuk senyum.  Iya Bi, aku tahu ini yang terbaik buat kita.  Agar kita bisa terus bersama.

(copied from http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/12/2.jpg)
(copied from http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/12/2.jpg)
Advertisements

4 thoughts on “Bintang Yang Terdekat

  1. Saat bertemu, kamu tidak bilang mencintaiku. Jawabmu, “meski begitu kamu bisa lihat dari mataku kan?”
    ………….
    Lewat matamu yang berbintang, ingin kutitipkan berjuta harapan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s