Tentang Luka

“Luka itu apa?” suaramu mengejutkanku dari balik buku teks fisiologi yang menyembunyikan wajahmu.

“Luka itu, hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Luka ada macam-macam, ada irisan atau sayatan, laserasi, abrasi, luka memar, luka tusuk.” Jelasku.

Matamu mengintip dari balik buku.

“Itu luka permukaan semua ya? Ada luka dalam tidak? Aku terluka dalam nih.”

“Hayaaah, kayak liriknya Butiran Debu aja.”

“Iyaaa, aku terluka dalam.” Suaramu lalu menggantung dan terjebak di udara dingin ruang perpustakaan.

“Yuk ke kantin saja.” Ajakku.

***

Aku dan dia berjalan beriringan ke kantin yang sedang sepi. Bangku-bangku kayu berdebu membisu menyambut kami. Guguran daun bungur membentuk serasah di halaman. Masih jadwal libur semester. Kampus senyap ditinggalkan penghuninya. Kami memilih tempat di sudut menghadap jalanan yang juga lengang. Kamu menghela napas lalu berbicara pelan.

“Menurutku ya Rin, luka itu saat bahagia tercerabut dari hati.”

“Itu juga sih, luka yang tidak kelihatan.” Kataku cuek sambil mengira-ngira patah hati jenis apalagi yang dialami Afi.

“Dia diam saja Rin. Tapi diam itu membuatku letih. Aku merasa terbuang. Dia menjauh. Ini kan luka juga walaupun dia tidak melakukan hal yang menyakitkan.”

“Itu luka sendiri namanya. Ya sudah, balas juga dengan diam. Lagian, kamu itu tidak kapok juga ya Fi, bolak-balik jatuh cinta dan patah hati.”

“Selama kamu belum bosan aku curhati Rin.”

Afi nyengir, aku manyun.

“Fi, kenapa tidak kau tunggu saja waktu itu tiba lalu berjalan dengan dia yang kau pilih?”

“Buatku waktu itu selalu tiba. Tapi tiap yang ku pilih selalu berujung luka.”

“Katanya hati itu dipilih, bukan memilih. Yang penting adalah siapa yang memilihmu.”

“Tidak bisa Rin, itu namanya sepihak. Kalau kau pergi meninggalkan hatimu dipilih orang, hidup lantas menjadi kosong saat kau menemukan hati yang lain.”

“Fi, tidak ada yang sempurna. Pun dengan cinta. Suatu hari nanti kau tetap harus melangkah. Entah dengan membawa hati, atau meninggalkannya bersama seseorang. Orang itu pun demikian. Mungkin hatinya sudah tidak utuh lagi. Tapi hidup bukan tentang hati, juga bukan tentang luka. Tapi hidup itu tentang tanggung jawab. Bahagia itu yang kesekian, itu bonus, bukan tujuan. Dan itu benar-benar masalah persepsi.”

“Kamu tidak mengejar bahagiamu Rin?”

“Jangan bicara tentang itu saat ini. Orang berpaling. Menghadapi kehidupannya masing-masing.”

Aku merapikan kerudung yang terhembus angin, seperti membawa pesan dari seseorang. Sekaligus merapikan hati yang tiba-tiba terserak lagi. Afi berdiri mengajakku berlalu dari tempat itu. Kami, Afi dengan idealismenya tentang kebersamaan, dan aku, yang kehilangan hati bertahun lalu.

Hati itu menyimpan jejas yang ditinggalkan oleh ingatan.  Tetapi hidup bukan tentang hati, hidup itu tentang esok.
Hati itu menyimpan jejas yang ditinggalkan oleh ingatan. Tetapi hidup bukan tentang luka maupun hati, hidup itu tentang esok.

(pic is copied from http://s1.goodfon.su/wallpaper/previews-middle/554271.jpg)

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Luka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s