Ayo Sekolah (Lagi)

Sudah lama saya tidak mendengar kalimat semacam ini,

“Ayo cepetaan, selesaikan sekolahmu, teman kita yang itu udah mau selesai loh.”

Yang dimaksud dengan ‘teman kita yang itu’ tidak seangkatan dengan saya, pun dari sekolah dan jurusan yang berbeda. Hal yang menghubungkan saya dan ‘teman kita yang itu’ karena kami alumni SMP yang sama. Hubungannya jauh banget ya? Hehehe.. Mungkin teman itu kakak angkatan saya dan tidak sedang ganti judul riset *ngeles*. Tapi tetap saja kalimat itu harus saya jadikan peringatan diantara berjuta alasan yang selalu saya kedepankan kalau sudah menyangkut urusan sekolah.

Anyhow, “Thanks to mommy kefo“.

Kali ini saya tidak mau beralasan. Capek beralasan, seperti orang-orang baik di sekitar saya yang capek mengingatkan batas waktu sekolah saya. Saya hanya ingin mengurai beberapa hal yang seperti kaskade dan menyebabkan status quo ini belum usai. Bukan untuk menyesalinya, tapi untuk mencari jalan keluar.

1.  Tempat belajar harus sepi.

Saya tidak terlalu pandai dan sering mengalami ‘gagal fokus’ kalau ingin serius. Sehingga untuk mencapai konsentrasi penuh, tidak boleh ada gangguan sedikit pun. Perlu tempat karantina untuk menyelesaikan tugas ‘besar’ seperti saat S1 dan S2 dulu. Dan sekarang, kesempatan itu menjadi sangat langka. Saat ini, situasi seperti itu harus dibuat dan dioptimalkan. Tentu saja dengan mengorbankan banyak hal, terutama keluarga. Studi sebelumnya saya selesaikan di tempat yang jauh dari keluarga.

2.  Sekolah bukan sambilan.

Banyak hal yang sama pentingnya dengan sekolah. Tapi tidak seperti sekolah yang punya batas waktu. Padahal saya cenderung menuntaskan tugas-tugas pada detik-detik terakhir saat adrenalin terpacu hebat. Mungkin karena golongan darah-nya O (ini sih alasan banget). Skala prioritas harus disusun ulang dan sekolah harus diutamakan. Keluarga? Nomer dua. Tapi masalahnya apakah yang ‘diduakan’ sudah siap? Lalu tentang pekerjaan? Beberapa bulan terakhir – akhirnya – saringan saya perkecil. Saya hanya menerima pekerjaan yang betul-betul tidak dapat ditinggalkan karena tidak atau belum mendapat pengganti. Ini pun seharusnya sudah saya tinggalkan. Yah, risiko sekolah di rumah sendiri.

3.  Tidak suka disuruh-suruh.

Biasanya, semakin diingatkan, semakin menentang. Saya tipe orang yang harus punya motivasi kuat dari dalam diri sendiri untuk menyelesaikan sesuatu. Kalau sudah maunya, apapun rasanya ‘lewat’. Keterlibatan orang lain dapat mengendorkan semangat saya. Tapi saat ini tidak berlaku lagi karena peringatan bukan datang dari orang lain, melainkan dari tenggat waktu. Hingga akhir tahun ini, saya harus menyelesaikan lima karya ilmiah. Ini target yang saya tetapkan. Dengan mengeliminasi semua kendala diatas, semoga saya mampu.

Akhirnya, ada yang mengatakan, tidak perlu pandai untuk sekolah doktoral, karena yang dihadapi adalah ujian mental.

Hihihi... (https://jaraad.files.wordpress.com/2008/09/yearstograduate1.gif)
Hihihi… (https://jaraad.files.wordpress.com/2008/09/yearstograduate1.gif)
Advertisements

8 thoughts on “Ayo Sekolah (Lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s