Minta Maaf VS Memberi Maaf

Trending topic saat menjelang Ramadhan dan awal Syawal adalah bermaaf-maafan. Sebagian besar judulnya “mohon maaf” yang lazimnya diikuti “lahir dan batin”. Artinya minta maafnya tidak hanya di lisan saja, tapi juga di hati. Jasmani dan ruhani. Ikhlas dan total.

Iseng, saya ingin tahu dan bertanya pada teman-teman di facebook, mana yang lebih sulit, minta maaf atau memberi maaf. Kebanyakan teman saya menjawab minta maaf lebih sulit karena gengsi apalagi kalau tidak merasa bersalah. Beberapa menyebutkan, tergantung derajat kesalahannya. Memang kebanyakan dari kita lebih cepat menyadari saat disakiti dibandingkan saat menyakiti. Bikin salah itu mudah, minta maafnya yang susah. Tapi bagaimana dengan pihak yang disakiti? Rupanya kebanyakan teman saya adalah orang yang lapang dada, mudah memaafkan walau disakiti. Walaupun menurut logika saya, minta maaflah yang lebih mudah. Jangan-jangan pendapat lebih sulit minta maaf adalah kamuflase dari rasa sakit yang masih tersisa dan ‘tuntutan’ bahwa pihak seberang-lah yang mestinya minta maaf.  Sikap siapakah yang sedang kita bicarakan ini, orang lain atau diri kita?

Nanti aku maafkan kalau kamu sudah minta maaf.  Begitukah?  Padahal belum tentu yang nyalah-nyalahi merasa bersalah.  Karena pasti lebih banyak kesalahan yang tidak disengaja daripada yang disengaja.  Kecuali kalau ada orang yang berbahagia diatas penderitaan orang lain.  Jadi, kalau begitu kapan legowo-nya dong?  Nanti malah jadi sakit hati dendam kesumat tak berkesudahan.

Allah sendiri di dalam Al-quran lebih banyak menganjurkan kita untuk memaafkan tanpa diminta, termasuk dalam hal hukum qishash. Selain itu, memberi maaf juga termasuk dalam salah satu sifat Allah, Al Afuww, العفو, Yang Maha Pemaaf.  Ada juga cerita tentang seorang baduy yang disebutkan melakukan amalan ahli surga oleh Rasulullah SAW.  Amalannya adalah, sebelum tidur orang baduy itu memaafkan semua orang yang melakukan kesalahan kepadanya pada hari itu.

forgive

Sekarang redaksinya saya ganti,

Saya maafkan semua sedih, sakit, dan kecewa yang pernah dialamatkan kepada saya.  Saya maafkan lahir dan batin.  Jasmani dan ruhani.  Ikhlas dan total.  Semoga Anda juga memaafkan saya dengan cara yang sama.

Artinya, kita sudah saling memaafkan.  Indah bukan? karena kalau saling minta maaf, belum tentu dimaafkan 😉

Advertisements

2 thoughts on “Minta Maaf VS Memberi Maaf

    • Memaafkan itu satu paket dengan melupakan kali ya? Jadi, sehingga, akhirnya, memaafkan menjadi lebih sulit karena susah dilupakan. Sedangkan dari sisi pihak yang bersalah bahkan terkadang ingat saja tidak, apalagi kalau salahnya tidak disengaja. Begitulah menurutku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s