Tentang I’tikaf

Apakah harus I’tikaf di hari-hari terakhir Ramadhan?”

Tidak.  Tidak harus.  Sebagaimana halnya dengan amalan yang lain, ini tergantung keyakinan kita.  Walaupun sama-sama Islam, keyakinan akan janji Allah bisa tidak sama.  Tanpa rasa percaya, tidak mungkin kaki kita tergerak untuk mengerjakan sesuatu.  Termasuk percaya dan yakin pada bonus-bonus yang dilabelkan pada semua amalan Ramadhan.

Ada beberapa amalan istimewa yang tidak didapat pada bulan-bulan lain selain Ramadhan, diantaranya adalah I’tikaf.

I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu.  Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.

Sebetulnya, dari semua rangkaian kegiatan I’tikaf, tahapan percaya dan yakin itulah yang paling sulit dilakukan, terutama bagi orang-orang yang mengedepankan logika.  Akan dicari-cari alasan ‘kenapa’ karena tidak ingin terjebak pada taqlid buta.  Atau, lakukan saja karena Rasulullah menjalankannya?  Tapi sesungguhnya, hanya sedikit hal yang bisa dijelaskan melalui logika manusia.  Ilmu manusia sangatlah terbatas.  Apalagi yang tidak mengkhususkan diri mempelajari ilmu agama.  Inilah pilihan, menunggu sampai paham atau lakukan saja dulu.  Tentu saja suatu amalan harus dilakukan dengan ilmu, setidaknya syariatnya terpenuhi.  Banyak sumber-sumber terpercaya yang mengajarkan tatacara dan rukun i’tikaf.

Sementara itu, apa yang bisa kita dapatkan dengan I’tikaf:

  1. Berdiam di masjid memudahkan kita untuk untuk memerangi hawa nafsu, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.
  2. Meramaikan masjid, tentu saja dalam konteks ibadah. Hal ini sangat berhubungan dengan syiar Islam. Tidak ada alasan tidak bisa meninggalkan anak di rumah untuk menjalankan I’tikaf selama kita bisa mengontrol tingkah polah mereka. Bahkan takmir di beberapa masjid menyediakan sajian ifthor dan makan sahur untuk memudahkan peserta I’tikaf.
Meramaikan masjid dengan aktifitas ibadah.
Meramaikan masjid dengan aktifitas ibadah.

Bagaimana dengan Lailatul Qadr? Semua amal beramal dari niat. Kalau dikatakan tujuan I’tikaf untuk mendapat Lailatul Qadr, insyaAllah itulah yang akan didapat. Dan bukankah kita tidak akan mengejar sesuatu yang tidak kita yakini kebenarannya? Tidak usah susah-susah memperbincangkan bagaimana alam menerjemahkan datangnya malam istimewa itu.  Karena Lailatul Qadr hadirnya di hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s