Saat Siapa Di Atas Apa

Apa di atas siapa.
Apa di atas siapa.

Belakangan ini saya agak gerah oleh pemberitaan simpang siur di media sosial tentang banyak hal. Sepertinya bukan saya saja. Setidaknya demikian menurut pengamatan saya walaupun beberapa teman lantas menikmati kegerahan ini dan terjun berkecimpung di berbagai topik yang sedang trend saat itu. Anggap saja masuk bilik sauna, panas dan gerah tapi sehat 🙂

Sebagai pengamat amatiran, ada hal yang saya garis bawahi, yaitu kecenderungan seorang downline bertahan pada satu pendapat yang mengacu pada upline-nya. Biasanya para pengikut itu mengikuti saja apa yang dikatakan atau dituliskan oleh pendahulunya yang biasanya ditokohkan di bidang apa pun yang sedang berkembang saat itu. Kadangkala diterima tanpa dicerna dan dikaji ulang alias manut wae. Para downline ini mengutamakan siapa yang menyampaikan di atas apa yang disampaikan dan itu bisa menyebabkan taklid buta yang menjadikan seseorang menjadi tidak kritis dan logis lagi. Padahal bisa jadi hari ini seseorang berbuat benar besok dia berbuat salah. Sikap sangat tunduk yang menyebabkan sulit melihat kanan kiri ini seringkali didorong oleh loyalitas seseorang kepada kelompok atau golongan. Terutama kelompok dan golongan yang memakai sistem baiat. Hal ini menyebabkan saya tidak menahbiskan diri pada kelompok maupun golongan tertentu. Saya bukan ‘tidak berpakaian’ tetapi ganti-ganti pakaian yang cocok dan saya anggap baik. Dalam hal ini dapat dikatakan saya seorang oportunis. Yang perlu diingat bahwa kebaikan itu bisa datang dari siapa saja seperti yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib RA, “unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla” atau “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan”. Pernyataan ini tentu diamini tidak hanya oleh kaum Syiah, tetapi juga oleh teman-teman muslim yang hobi ‘meretweet’ kata-kata bijak dari orang-orang non muslim misal Oprah Winfrey, Confusius, dll. Rasulullah bahkan pernah membenarkan kata-kata setan tentang Ayat Kursi walaupun setan itu pendusta.  Riwayatnya bisa dilihat disini. Sesungguhnya mengutamakan “siapa” di atas “apa” bisa memperkecil area dan kesempatan kita untuk mendapatkan kebenaran dan hikmah dari orang lain.

Jadi, saat kita loyal pada suatu kelompok atau golongan, jangan lupa akal juga dibawa karena didalamnya tetap ada tuntutan untuk bersikap kritis. Seperti kata-kata berikut “Follow your heart but take your brain with you”. Hanya ada dua hal di dunia ini yang dapat kita ikuti tanpa ada keraguan di dalamnya, yaitu: Al-Quran dan sunnah Rasulullah. Tapi ingat, keduanya itu dapat diamalkan melalui pemahaman padahal penafsir dan perawinya juga beragam. Hikmahnya, selama bermuara pada kedua sumber tersebut, kenapa kita bersengketa? Perbedaan itu boleh, yang tidak boleh itu bermusuhan apalagi saling fitnah sampai bunuh-bunuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s