Dialog Tanpa Judul

Pernah tahu tidak, bagaimana dua orang yang pernah dekat, lalu lama tidak kontak, terus telponan dan bingung bagaimana mesti bersikap. Di telpon, mereka bicara seperti orang tolol yang sedang buang-buang waktu.

Keterangan:

Teks di dalam kurung = kata hati

Teks dengan bold = kata dalang.

Jadinya seperti ini,

Diawali SMS-an:

B: Boleh nelpon? Kalau sudah ga sibuk kasitau ya.

A: Aku aja yang nelpon. Sekarang ok-kah?

B: Bentar ya. (eeh… jangan sekarang, perlu waktu lima menit untuk konsentrasi dan ngatur napas)

Lima menit kemudian.

B: [texting] Ok

Setelah 15 menit jeda dan diisi dengan baca doa-doa apa saja mohon ketenangan hati, layar telpon pun memunculkan sederet nomor.

A: Apa kabar?

B: Baik, sangat baik. Kamu?

(Tidak tahukah kamu, setelah kamu pergi, aku hidup nyaris tanpa hati, yang waktu itu kamu bawa bersamamu. Mau ikut program ganti hati ndak punya biaya. Belum lagi risikonya kalau hati pendonor nanti juga tidak lengkap lagi)

A: Aku juga baik.

(Walaupun tiap mengingatmu kedengarannya seperti band Minus One)

Sepi. Hanya terdengar desah napas panjang yang mengindikasikan bahwa keduanya belum pingsan. Tapi kalau kalian lihat di masing-masing TKP, mereka sama-sama cengar-cengir kuda, kadang gigit bibir, dan bingung nyari topik yang ‘aman’.

B: Sering datang ke sini ndak?

A: Sering juga sih, malah lebih sering daripada dulu.

(B: Dia ga ngasih kabar. Hmm, aku mesti jaga jarak nih. Gak mau kejengkang lagi / A: Sebetulnya pengen kontak, tapi sebaiknya tidak. Yang baik pasti benar, eh tidak yakin juga. Tapi aku harus hati-hati, siapa tahu ini jebakan betmen, modus pemerasan mungkin) *lebay*

A: Kerjaanku… (bla bla bla)

B: Wah seru ya…

(mendengarkan dengan seksama seperti reporter sedang interview sambil mbatin, hmm… suaranya tidak berubah, terus ngomong dong)

Percakapan berlanjut. Dan setelah beberapa topik,

A: Tau tidak, kalau kecerdasan anak itu didapat dari ibunya. Pernah test IQ?

B: Pernah sih.

A: IQ-mu berapa?

B: (ngaku gak ya? Haduh, galau nih) Err… 110 lebih gitu deh. (padahal lebihannya cuma nol koma nol nol nol sekian)

A: Ya, alat uji IQ memang macam-macam sih. Aku sendiri gak pernah test IQ, takut ketauan kalau IQ jongkok, hahaha…

B: Hahaha, iya, mending ndak tau ya.

(Iih?! Kok jongkok sih, lah kalau kamu jongkok trus aku pas-pasan, gimana anak kita nanti?) *lupa kalau tidak sedang syuting sinetron*

Semuanya lancar, tapi terasa seperti interlude. Kemudian…

B: Ga tau kenapa ya, aku tu gak cocok nanem-nanem. Mending piara kucing deh.

A: Mmmpppphhh… (suara orang ketawa tertahan)

(Huaa, kucing yang kamu kasi nama mirip aku itu kan? Syukur deh masih kamu piara, aku kuatirnya kucing itu sudah kamu lempar jadi penghuni pasar)

Topik kucing ini berlanjut menjadi ‘bagaimana kucing pup’, ‘peluang bisnis pasir kucing’, dan ‘ciri-ciri kucing alfa kalau lagi pup’. Topik yang sangat tidak elegan dan tidak memberi kesan bahwa mereka saling merindukan. Tapi menurut analisa penulis, ini mungkin indikasi ngulur layangan eh, ngulur waktu.

B: Kamu bicaranya kenceng banget?

(Jangan-jangan sebelahan sama anak buah di kantor, makanya dari tadi topiknya resmi pakai stempel perusahaan)

A: Iya, semangat… hehehe

(Alamaak, ini kan gue nutupin grogi sekalian pitch control, biar suaranya ga gemeteran dan ga fals, gitu kata mbak Bertha guru musiknya AFI)

A: Kamu masih sering nulis blog ya?

B: Hah?! kok tahu? Kamu masih baca blogku ya?

(Pura-pura kaget. Tahu ndak, ini cara aku komunikasi denganmu, agar kamu tahu aku dimana, sedang apa, merasa bagaimana, karena aku tahu kamu akan baca) *terharu sampai nyaris mewek*

A: Yaah, kadang-kadang sih. (=sering?)

B: Sekolahku sekarang gini (bla bla bla), doain aku ya.

A: Aku selalu err… ya berdoa, err… buatmu.

B: Spesifik ndak?

(Pengen tau pakai banget ni, kalau perlu sampai ke teks doanya)

A: Ya, aku sebut namamu dalam doaku. (Yakin ni bukan nyadur teks lagu?)

A: Makasih ya.

B: Katamu tidak ada yang perlu dimaafkan maupun diterimakasihkan.

(Padahal buanyaaaaaaak)

A: Hahaha, iya sih. Tapi memang harus begitu.

B: Yaya, ok. Aku juga makasih.

(Haduuh, sebentar banget sih telponannya)

A: Udah dulu ya, belum sholat nih.

(Seandainya lagi di luar kota, kan bisa dijamak)

B: Iya, aku juga.

A: Bye.

B: Bye.

Setelah satu setengah jam, di masing-masing TKP keduanya nutup telpon, ngambil napas dalam dan panjang lalu dihembuskan pelan-pelan lewat mulut untuk mengurangi rasa sakit saat his datang (Loh? Ada yang mau lairan ya?). Keduanya duduk bengong agak lama sambil memandangi layar telpon yang sudah gelap. Siapa tau tiba-tiba keluar uang seratus ribuan dari situ. Don’t wanna miss those moment kaan 😉

Starring on the off-screen, waiting for a miracle...
Starring on the off-screen, waiting for a miracle…

Percakapan ini ditulis berdasarkan kisah nyata dengan beberapa modifikasi di sana-sini (banyakan modifikasinya sih, biar dapat efek dramatis) 😀

Advertisements

2 thoughts on “Dialog Tanpa Judul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s