Lika-Liku Adopsi Kucing

Saya pecinta kucing.  Tapi belum pernah sampai niat mengeluarkan sekian ratus ribu untuk mengadopsi kucing.  Kucing yang saya pelihara selama ini adalah kucing kampung yang kadang datang dan pergi sesukanya tanpa saya cemas dengan keberadaannya.  Sampai pada suatu hari, seorang teman yang sama-sama ngakunya cat lover mengajak saya adopsi kucing.  Dan sebagaimana lazimnya kebiasaan belanja saya, bertekad tidak akan mengadopsi kecuali kalau jatuh cinta pada pandangan pertama.  Mulailah kolega saya itu rajin menyambangi situs-situs belanja seperti berniaga.com, tokobagus.com (sekarang udah ganti oxl ya), dan iklan-iklan kucing via facebook untuk mendapatkan kucing idamannya.  Saya sih bertindak sebagai follower saja.  Tepatnya follower yang kemudian terjerumus ke dalam dunia perkucingan.  Ikut-ikutan belajar jenis-jenis kucing, harganya, sampai asesorinya.

Saya perhatikan, beberapa pehobi rela merogoh kantong sampai jutaan rupiah untuk seekor kucing.  Sedangkan saya, walaupun sudah merogoh sampai sudut-sudut kantong, tetap saja uang yang terkumpul tidak sampai sejuta.  Oleh karena itu, budget awal adopsi kucing ini pun dibawah sejuta.  Itupun seandainya saya bertemu dengan kucing yang membuat saya cinta pada pandangan pertama.  Mirip-mirip proses mencari pasangan ala saya.  Tidak perlu syarat, yang penting chemistry dapet… *halaah*

Namanya juga niat, dijabanin sampai basah kuyup kehujanan dan gosong kepanasan tidak meruntuhkan niat berjumpa kucing yang diinginkan.  Awalnya kami berdua berburu kucing betina.  Ternyata supply yang ada nyaris semua jantan.  Sampai akhirnya teman saya memutuskan mengadopsi kucing jantan umur 4 bulan dengan warna sesuai keinginannya, putih-abu-abu – karena kucingnya sudah SMU — *apasih*.  Saya, yang niatnya mencari cinta, hingga hari ke-7 belum ketemu pujaan hati walaupun sudah ada yang saya taksir di hari pertama perburuan.  Tapi mau langsung nembak kok ya terlalu cepat, kan belum membandingkan dengan kandidat lain.  Apalagi dia jantan (tetep pengen yang betina karena kucing betina tidak suka spraying).  Semakin lama orientasi jenis kelamin mulai diabaikan.  Yang penting penampilan.  Walaupun akhir-akhir ini mendapat banyak tawaran kucing betina, tapi hati tidak bisa berbohong.  Pilihan kembali pada anakan Persia-Himalaya sealpoint umur 3 bulan yang pertama kali saya jumpai di sebuah petshop.  Akhirnya, jadilah dia saya boyong dengan uang mahar 850 ribu komplit dengan imunisasi pertamanya.  Saya pilih dia juga karena trahnya yang tidak meragukan.  Istilahnya bibit bobot bebet-nya terjamin.  Bapaknya adalah kucing pemilik petshop, seorang Profesor di Fakultas Peternakan, sedangkan si ibu, kucing seorang Profesor di Fakultas Kedokteran.  Hahay, sangat terpelajar kan? (maksud saya pemiliknya).  Apakah nantinya saya akan mengarahkan dia jadi dokter atau jadi peternak sukses, lebih baik saya lihat dulu bakat minat dan cita-citanya apa 🙂

Begitulah akhir kisah perburuan ini.  Berikutnya, pernak-pernik mempersiapkan kedatangannya ada di tulisan ini.

Advertisements

3 thoughts on “Lika-Liku Adopsi Kucing

  1. Hahaha…tau aja lokus minorisnya dimana. Kalimat itu udah tak ganti beberapa kali. Maunya yang singkat tapi kena. Mungkin seharusnya:
    – kucing pemilik petshop adalah bapaknya Bebi (huh,sama aja ini mah), atau,
    – bapaknya adalah kucing piaraan pemilik petshop (aargh, aku gak suka kata ‘piaraan’ disini), atau,
    – bapaknya adalah kucingnya pemilik petshop.
    Gitu aja deh, walopun kebanyakan ‘nya’ 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s