Halimun

Tadinya percakapan sore itu datar saja. Seperti minuman hambar yang biasa dijumpai di kedai-kedai kecil pinggir jalan. Kita duduk dibalai-balai teras basecamp. Kau selonjorkan kaki mengusir penat. Pelan meregang punggung dalam geliat.

“Dingin disini. Dingin yang menenangkan. Bukan dingin yang membuatmu menggigil.”

Katamu sambil merapatkan syal di leher telanjang. Aku mengedarkan pandang berkeliling. Mengeja jarak antara aku dengan garis hutan.

“Sebentar lagi petang. Lihat, kelelawar mulai keluar sarang. Dan halimun turun dalam sekejap, menyergapmu bagai mantra.”

Pokok-pokok Rasamala membuat sekitarku menggelap lebih cepat. Kelepak Elang Jawa dan suara Owa jantan mengisi atmosfer hutan.

Katamu lagi,

“Aku sedang menimbang untuk pergi. Proyek di Kalimantan kelihatan lebih menjanjikan. Tentu saja setelah laporan AMDAL kita disini disetujui.”

Dengan suara bagai gumam yang enggan kau sampaikan, kubaca ragu. Seharusnya bukan itu yang ada di benakmu. Aku menatapmu lekat, meminta setengah memaksa.

“Bicaralah tentang kita.”

Sekilas tampak senyummu samar. Kau lanjutkan menghitung-hitung waktu dan memilah kata. Benar halimun mengaburkan batas lukisan hutan Legokheulang. Tapi tak mampu menyamarkan garis rahangmu yang mengeras. Akhirnya setelah kau lepas napas berat,

“Aku tidak tahu. Angin itu sudah menjadi topan yang siap meleburmu. Lebih baik aku menjauh sebelum perciknya membutakan matamu.”

“Ya, aku mendengar derunya. Menjauh dan mendekat. Berkeliling tapi enggan pergi.”

“Jangan hanya mendengar. Tutup matamu dan rasakan jiwa angin teriak ingin mendobrak. Tidak ada yang bisa melihatnya kecuali batin terluka. Karena luka itu membuatmu seperti kaca tipis yang rapuh. Kau akan dengar desir selembut helai bulu elang melayang jatuh ke jurang. ”

Aku menutup mata. Menajamkan indra.

Hening

Tiba-tiba aku merasa pedih.

“Begini caramu memberiku cinta?”

“Ya, cinta itu luka dan rindu perihnya, karena Tuhan tidak punya takdir untuk kita.”

Tidak ada yang menggelap karena halimun sudah lengkap. Menjadi tirai yang meremas-remas lukamu. Perlukah kubuka mata saat seharusnya aku melihat dengan hati, yang diam-diam mengisak.

Kau hanya berkata datar,

“Tunggulah sampai reda. Perihnya akan hilang oleh jarak dan hujan yang membasuhnya.”

“Ini keping yang dulu pernah kauberi. Bawalah bersamamu.”

“Tidak. Biarlah dia di situ melengkapimu agar tak perlu lagi kau cari kemana.”

“Ini saja?”

“Itu semuanya, bukan saja. Kutinggal jiwaku menjagamu.”

Maka, undanglah peri-peri hutan merayakan kesedihan bersamamu. Kita akan terbuai sampai pagi oleh ode bernada sumbang. Meninggalkan pesan berbungkus seludang mimpi. Katanya, terlukalah bersamaku, karena akulah kenangan.

[Titan, hujan Nopember]

Advertisements

2 thoughts on “Halimun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s