Perjalanan Akhir Tahun: FASE389 – Edisi Kawah Ijen

“Walaupun saya bukan orang yang mengistimewakan pergantian tahun, tapi ujung tahun 2014 kemarin saya lalui dengan istimewa: Pendakian ke Kawah Ijen.” Kawah Ijen merupakan bagian dari kelompok pegunungan Ijen yang terdiri dari Gn.Suket, Gn.Raung, Gn.Pendil, Gn.Rante, Gn.Merapi, dan Kawah Ijen itu sendiri. Kawah Ijen terletak kurang lebih 2.799 meter dpl (menurut Wikipedia) dan terletak di perbatasan Kab.Bondowoso dan Kab.Banyuwangi.

"... dibatas kota ini, kulepas kepergianmu." *halah* [Batas Kab. Bondowoso - Banyuwangi di jalur pendakian]
“… dibatas kota ini, kulepas kepergianmu.” *halah* [Batas Kab. Bondowoso – Banyuwangi di jalur pendakian]
Jember – Paltuding

Berawal dari keinginan lama yang sudah kapan tahu direncanakan bersama teman-teman FASE389, akhirnya terwujud juga acara jalan-jalan ini pada 27 Desember lalu. Pukul 5.00 sore, diantar gerimis perlahan (bukan gerimis mengundang punya SLAM) kami berenam (saya, Febry, Tacik, Arik, Ririn, dan Bamar) ditambah asisten Febry (mas Roni), menumpang APV yang disupiri pak Agus berangkat dari Jember menuju jalur pendakian Kawah Ijen melalui rute Bondowoso-Wonosari-Sempol-Paltuding. Jalan berliku-liku dan kondisi aspal yang kurang baik membelah perkebunan milik PTPN 12. Kata Arik dan Ririn, kondisi jaman dulu bahkan lebih jelek lagi sebelum jalan ini diaspal gara-gara Pak Domo dan Siska akan berkunjung ke Kawah Ijen pada masa itu. Akhirnya, sesuai perkiraan, kami tiba di Paltuding pukul 9.00, tenda sudah didirikan oleh tim pertama yang berangkat duluan. Sambil menunggu dibukanya jalur pendakian pada pukul 12.00 malam kami segera bergelung di tenda. Apalagi angin dingin berhembus makin kuat. Yang penting dapat kapling, makin rapat makin hangat. Maka, tenda berkapasitas 3 orang itu akhirnya dijejali oleh kami berlima.  Bamar, karena satu-satunya pejantan diantara kami, terpaksa melipir di pintu tenda.  Sebelum tidur masak-masak dan makan dulu. Yang masak timnya Rezha (anak Febry), kami kebagian tugas makan sampai habis. Tugas makan ini ternyata tidak sukses dijalankan, buktinya mi goreng dan telur ceplok di rantang hanya berkurang setengah. Kalah oleh rasa ngantuk. Tetapi rasa kantuk ternyata dapat dikalahkan oleh suhu yang makin turun di luar tenda. Kalaupun berhasil tertidur 10-15 menit, itu mungkin karena alarm tubuh sudah menjerit tersiksa oleh letih yang mendera #halaaah 😛 Pendakian dan Uji Stamina Terserah, bisa tidur atau tidak, tepat pukul 12.00 tenda dibongkar.  Kemudian kami ikut mengantri membayar retribusi 10.000 ribu rupiah per orang di gerbang jalur pendakian bersama pendaki lain. Suasana cukup ramai. Saya sempat curiga, jangan-jangan di puncak sedang ada Year End Great Sale Srengenge Dept. Store’ diskon hingga 90% bonus makan malam romantis sama mas Nunu. Tapi dugaan saya salah (kecewa berat). Saat itu kan malam minggu. Banyak pendaki yang berangkat dengan pasangannya walaupun saya tidak habis pikir, apa romantisnya mendaki berdua begitu? Gandeng-gandengan selama mendaki? Yang ada mungkin gendong-gendongan kalau si cewek gak kuat jalan ya? *uji kesetiaan*. Tapi betul juga, pendakian itu ibarat perjalanan kehidupan yang berat. Bagaimana mereka bisa saling bersinergi selama perjalanan atau malah saling meninggalkan karena tidak sabar kalau ada yang kelelahan maupun cedera, atau bertengkar sepanjang jalan gara-gara ada yang meleng nglirik pendaki lain yang lebih ok, bisa diuji dari perjalanan ini. Selain yang berangkat berpasangan, lebih banyak lagi pendaki yang berangkat berombongan. Bahkan beberapa keluarga membawa serta anak-anak usia sekolah karena hari itu masih dalam masa libur sekolah. Wah, apa mereka kuat ya? Karena walaupun perjalanan hanya 3 km, tapi kalau kemiringannya hingga 45 derajat kan lumayan pegel juga. Waktu tempuh hingga ke puncak rata-rata 2 jam. Saya dan teman-teman seperjalanan mengaku terakhir naik gunung pas jaman kuliah dulu. Itu artinya sekitar 20 tahun yang lalu. Kecuali Bamar, Febry, dan Roni yang memang rajin naik gunung. Hal yang membuat saya berada di antrian ini adalah, sebagai warga Jawa Timur, saya belum pernah ke Kawah Ijen yang tersohor itu. Jadi, walaupun beberapa teman mengingatkan cuaca Desember sedang tidak kondusif untuk pendakian, saya tetap berangkat. Lha kapan lagi? Walaupun kesempatan bisa dibuat, tapi kesempatan yang sama tidak akan didapat dua kali. Maksudnya kesempatan mendaki dalam cuaca buruk, hehehe… Akhirnya terbukti… Jalan yang cukup curam.  Tikungan tajam dan tanjakan dengan kemiringan 25-35 derajat dimulai dengan aman. Saat awal-awal masih bisa jalan sambil ngobrol dan cekakak-cekikik. Apalagi ada Ririn yang bolak-balik buang gas alam. Kebanyakan ubi Rin? Tapi lama-lama napas jadi cepat terkuras dan berdebar-debar (oksigen, mana oksigen?). Kami berhenti di beberapa tempat untuk foto-foto (alesaan, padahal karena sudah ngos-ngosan gara-gara jarang olahraga). Kami bahkan sempat menjumpai pendaki yang sedang dirawat darurat karena hipotermia. Selain itu perjalanan beberapa kali terhalang oleh pohon tumbang yang merintangi jalan. Setelah 2/3 perjalanan, sampailah kami di Pondok Bunder karena di tempat itu ada bangunan jaman Belanda berbentuk bundar (jawa: bunder) bercat merah dan Pos I yang juga merupakan Unit I Belerang yang menyediakan timbangan belerang. Di sini Arik yang memang sudah masuk angin gara-gara capek dan kehujanan sejak dari Jember sempat membuat jejak dengan mengeluarkan seluruh isi perutnya disini. Tapi setelah itu lega ya Rik, daripada menandai tempat yang kita lalui dengan graffiti 😀

Pondok Bunder
Pondok Bunder
Pos Unit I Belerang, Banyuwangi
Pos Unit I Belerang, Banyuwangi
Pasti bukan bikinan Arik :D
Pasti bukan bikinan Arik 😀

Gerimis, Longsor, Kabut, dan Bunker Konon perjalanan berikutnya setelah Pondok Bunder jalurnya lebih landai. Ya, memang lebih landai di beberapa titik dibandingkan setengah perjalanan pertama yang membuat kami pasang persneleng satu terus. Tetapi kali ini tantangannya berbeda. Kami harus ekstra waspada karena terjadi longsor di beberapa titik. Longsoran di jalur pendakian ini disebabkan kebakaran hutan beberapa waktu lalu sehingga menjadikan hutan miskin vegetasi. Selain itu, beberapa pohon tumbang menghalangi jalur pendakian. Ditambah lagi hujan yang mengguyur lokasi. Jas hujan yang kami beli di Indomaret sebelum masuk Wonosari tadi terpakai juga. Kami juga harus lebih berhati-hati melangkah dengan head-lamp siaga satu karena kabut tebal mengurangi jarak pandang.

Awas longsor!!!
Awas longsor!!!
Beberapa pohon tumbang.
Beberapa pohon tumbang.
Semangat poto yang tak pernah tumbang.
Semangat poto yang tak pernah tumbang.
Lereng dan kabut.
Lereng dan kabut.

Jarak Pondok Bunder ke Kawah Ijen kurang lebih 1 km dengan jalan yang menyempit, terjal, dan tetap menanjak walaupun lebih landai di beberapa titik. Kabut juga semakin tebal walaupun hujan sudah reda. Saking tebalnya kabut, sampai-sampai kami tidak menyadari kalau sudah sampai puncak. Hanya angin yang terasa semakin kencang dan pantulan head-lamp para pendaki yang tampak menyebar. Saat itu pukul 3.00 dini hari. Kami menyusuri gigir gunung dengan hati-hati. Gelap gulita di sekeliling. Jangankan blue-fire yang terkenal itu, ujung kaki saja sulit dideteksi dimana letaknya. Kabut yang membawa titik-titik air meninggalkan embun di ujung-ujung bulu mata. Angin yang membawa udara super dingin membuat ingus membeku. Untung saja di puncak terdapat banyak parit bekas retakan sehingga kami bisa memanfaatkannya sebagai bunker. Parit-parit yang menurut Febry, dalam keadaan biasa dipakai untuk persembunyian saat buang hasrat hajat. Spontan saja kami jadi ‘Siaga 1’, menajamkan penglihatan dan penciuman menghindari ranjau.  Maklum tidak ada ponten umum disana karena tidak ada yang sudi jaga MCK walaupun per buang hajat ditarip mahal. Padahal bisa cepat kaya kalau mau bisnis ponten umum sekaligus buka warung kopi dan mie rebus disana. Ah lupakan. Khayalan orang kebelet.

Menghindari angin dingin di parit-parit.
Menghindari angin dingin di parit-parit.
Tetap semangat euy... ;)
Tetap semangat euy… ;p *bunker*

Angin masih menderu kencang saat kami di berlindung di dalam bunker. Sambil menunggu angin reda kami duduk merapat mengusir hawa dingin. Malah ada yang bisa tidur seperti Arik.  Buktinya dia sempat terbangun dan protes-protes gara-gara kedinginan saat Bamar berdiri. Sebagian update status, chatting, atau memutar MP3 untuk mengusir bosan dan melemaskan sendi-sendi jemari yang mulai beku. Setelah langit tampak agak terang, kami mulai keluar bunker untuk mencari tempat yang lebih datar dan sholat subuh walaupun angin dingin masih belum surut juga. Pukul 6 pagi, barulah langit memunculkan warna birunya diselingi kabut tebal yang kadang masih numpang lewat. Seperti juga di sepanjang jalur pendakian, di puncak kami juga menjumpai sisa-sisa kebakaran hutan dan vegetasi di sekitarnya. Usaha untuk mengintip kawah hijau yang melegenda pun tidak terlalu sukses. Kabut terlalu tebal sehingga kami pun tidak berlama-lama di puncak.

Ndak usah mimpi lihat sunrise deh... *pagi*
Ndak usah mimpi lihat sunrise deh… *pagi*
Pukul 5.30 masih gelap. *kawah*
Pukul 5.30 masih gelap. *kawah*
Lumayan kelihatan, tapi setengah mati nunggu kabut menyingkir.
Lumayan kelihatan, tapi setengah mati nunggu kabut menyingkir. *kawah Ijen*
Parit di pagi hari, makin banyak pendaki berdatangan.
Parit di pagi hari, makin banyak pendaki berdatangan.
Bekas vegetasi yang terbakar di sekitar kawah.
Bekas vegetasi yang terbakar di sekitar kawah.

Pukul 7.00 kami meninggalkan Kawah Ijen. Beratnya medan saat mendaki terbayar oleh pemandangan indah di sepanjang jalan turun. Ranting-ranting yang menghitam bekas kebakaran, kabut yang setia mengawal kami, dan tunas yang mulai tumbuh merupakan kombinasi luar biasa yang menyebabkan perjalanan turun menjadi lebih lama daripada saat mendaki. Biasaaa, foto-foto duluuu. Sayangnya Ririn dan Tacik turun lebih cepat karena ingin segera sampai di ponten umum. Jadilah kami berempat yang lebih banyak nampang di foto dengan mas Roni sebagai juru kamera andalan (trims ya mas 🙂 ). Bersama-sama turun para penambang belerang yang memikul keranjang belerang yang beratnya hingga 40 kg masing-masing keranjang.  Untuk yang ini Bamar boleh ngeper deeh… hahaha.

Ini trek pendakian apa jalan mau ke pasar?? :o
Ini trek pendakian apa jalan mau ke pasar?? 😮
DSC_4615
Minggir, minggir, yang punya tambang mau lewat.
Souvenir pahatan belerang.  Paling kecil harganya 2.500 rupiah.
Souvenir pahatan belerang. Paling kecil harganya 2.500 rupiah.
Ehm, ehm... :p
Ehm, ehm… :p
Jangan percaya dengan wajah-wajah ceria ini, nyampe rumah pasti langsung pada pasang koyo :D
Jangan percaya dengan wajah-wajah ceria ini, nyampe rumah pasti langsung pada pasang koyo 😀

Kali Pait dan Homestay Arabica Kami tiba di Paltuding pukul 8.00. Setelah diwarnai insiden raibnya tracking stick milik Febry, pukul 10.00 kami meninggalkan kawasan cagar alam kawah Ijen. Tidak jauh dari sana ada Kali Pahit. Sungai dan air terjun yang airnya berwarna kehijauan seperti air di Kawah Ijen. Lokasinya di sisi kanan jalan pulang. Kandungan belerang yang tinggi membuat airnya konon rasanya pahit. Entah benar atau tidak karena tidak seorang pun dari kami yang ingin membuktikan. Pesan Bamar, boleh main air, tetapi jika mengenai mata atau selaput lendir lainnya segera dibasuh air tawar untuk mencegah iritasi. Alhasil kami sangat menghindari air saking parnonya.

Kali Pait, sungai dan air terjun kecil.
Kali Pait, sungai dan air terjun kecil.

Dari Kali Pait kami bergerak menuju Homestay Arabica yang terletak kurang lebih 13 km dari Paltuding. Disana kami mampir untuk sholat dhuhur dan makan siang. Kompleks homestay ini menyajikan pemandangan Kawah Wurung dan berbagai tanaman hias dataran tinggi. Mushollanya didesain seperti saung diatas empang. Airnya luar biasa dingin walaupun tidak sedingin air di kawasan Paltuding. Tidak lengkap rasanya kalau mampir sini tanpa pesan kopi. Kopi arabika yang dipanen dari perkebunan Blawan PTPN 12 ini rasanya yaa, seperti rasa kopi pada umumnya. Maaf, tidak bisa memberikan review yang baik karena saya bukan penikmat kopi. Hehehe… Lebih lanjut tentang homestay ini dapat dilihat disini.

Tempat makan di homestay Arabica, harga makanan sekitar 15 ribu-an.
Tempat makan di homestay Arabica, harga makanan sekitar 15 ribu-an.
Febry dengan latar belakang Kawah Wurung.
Febry dan latar belakang Kawah Wurung.

Pukul 12.00 perjalanan dilanjutkan. Kali ini tidak mampir-mampir lagi. Jalanan yang berliku-liku dan kendaraan yang melaju kencang tidak menyurutkan hasrat untuk tidur sampai kami tiba di Jember pukul 14.15. Terimakasih buat Ifa (ayam krispinya mantep tenan), Ririn yang gak sempat goyang mangap-mangap, Arik yang selalu semangat ’45, Tacik yang kuat jalan (disinyalir paru-parunya ada 3, kanan-kiri-tengah), Bamar dengan ‘regina’-nya, dan terutama Febry beserta tim. Kami tunggu open trip berikutnya yaa 😀

Catatan: Reportase lain bisa dilihat disini 🙂

The mascot.  "Adventure never dies."
The mascot. “Adventure never dies.
Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Akhir Tahun: FASE389 – Edisi Kawah Ijen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s