Kuliner Semarang Yang Terlewatkan

Pernah setahun tinggal di Semarang bukan berarti saya sudah mencoba semua kuliner di sana. Awal Januari kemarin saya berkesempatan dolan ke kota ini dan jalan-jalan ke tempat makan yang terlewatkan waktu itu.  Berikut diantaranya:

Waroeng Bandeng Juwana, Jl. Pandanaran 57, lt.2

Sumpah, baru tahu kalau di lantai dua toko yang jualan bandeng Juwana itu ada warung makannya. Itu lho, toko bandeng paling ramai di pusat oleh-oleh sepanjang Pandanaran. Menunya berbagai macam ‘daharan’ (makanan) berbahan dasar bandeng. Sebutkan saja mau bandeng dimasak model apa disana ada semua. Mulai dari digoreng, dipenyet, bumbu garang asem, bumbu balado, bumbu bali, bumbu serani, dibotok, dibuntil, digulai, dipepes, disate, ditongseng, bahkan dibakso. Kami berlima memutuskan untuk ‘makan tengah’ (istilahnya Eva), artinya pesan dan dimakan rame-rame. Kalau makan pinggir artinya makan masing-masing (egois? #cis) 😀

Waroeng Bandeng Juwana di lantai 2.
Waroeng Bandeng Juwana di lantai 2.

Buat kulineris yang tidak suka atau alergi bandeng, di tempat ini juga tersedia masakan berbahan tahu, tempe, ayam, bebek, dan kikil. Pokoknya, don’t worry be empty-lah (terjemahan bebas: jangan kuatir kelaparan). Dan, yang terpenting, harganya tidak menguras kantong (yang sudah terkuras, hiks). Akhirnya, merujuk pada Pancasila sila ke-4, setelah melalui musyawarah dicapailah mufakat. Kami pesan ‘selected daharan’ berikut:

  1. Nasi bakar (tentu yang isinya bandeng), 12K
  2. Pepes lombok ijo, 12K
  3. Tongseng bandeng (rekomendasi mbak Retno), 12.5K
  4. Sate bandeng (pilihannya Dicky), 13.5K
  5. Sayur bening bayam (khusus buat pecinta kuliner sehat, Agustinus ;p ) ,4K

Unjukan (minuman) yang kami pesan standar saja. Es jus, teh, wedang ronde tape (wedang ronde ditambah tape ketan ijo), dan susu jahe.

Rasa masakannya very recommended. Untuk pepes bandeng, sebetulnya kita punya pilihan, mau pepes lombok ijo, daun pepaya, atau daun singkong. Tongseng dan sate bandengnya mantap dengan daging bandeng yang lembut di lidah. Makan bandeng disini tidak akan diganggu oleh duri-duri tajam yang nyasar ke tenggorokan karena bandengnya dijamin berduri lunak semua. Kami pun makan kenyang dengan hati puas. Tidak sampai 100K untuk berlima.

Maaf, tidak sempat capture foto yang edisi lengkap :D
Maaf, tidak sempat capture gambar edisi lengkap 😀
Sebagai gantinya, kurang lebih ini daharannya.
Sebagai gantinya, kurang lebih ini daharannya.
... dan unjukannya :)
… dan unjukannya 🙂

Gimbal Tahu, Simpang Lima

Setelah ngiderin tiga lantai mall ciputra, kami berniat pulang. Tapi suasana malam di simpang lima ternyata semakin ramai. Banyak lapak-lapak lesehan di sekelilingnya yang menjajakan makanan dan minuman. Ada nasi kucing,wedang ronde, jagung rebus, dan gimbal tahu. Asalnya sih tidak terlalu ingin makan lagi, tapi gara-gara ingin tahu apa sih gimbal tahu itu, akhirnya kami pesan juga dengan dalih ‘mumpung di masih Semarang’. Gimbal tahu itu gorengan tepung yang diisi udang dan potongan tahu. Diberi sayuran seperti pecel dan disiram kuah kacang. Kuah kacangnya diberi kecap seperti kuah siomay. Porsinya menggunung. Untung saja kami pesan seporsi berdua. Dengan harga 15K, rasanya tidak sarapan pun besok pagi masih kenyang.

Tampilan gimbal tahu Semarang.
Tampilan gimbal tahu Semarang.

Tentu saja masih banyak kuliner semarang yang belum dicoba seperti tahu pong. Kabarnya ada tahu pong istimewa di jalan apa gitu (Cipto? Gajahmada? lupa :D). Semoga kapan-kapan bisa ke Semarang lagi.

Advertisements

4 thoughts on “Kuliner Semarang Yang Terlewatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s