Jelajah Wisata Tumpang-Poncokusumo

Ini gara-gara searching jalan masuk ke area TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) jadi nyasar ke website tempat-tempat wisata di Tumpang, Kab. Malang. Ternyata oh ternyata, Kec. Tumpang yang hanya sak-nyuk-an (kurang lebih 20km) dari tempat tinggal saya memiliki banyak tempat wisata. Bahkan Desa Gubuk Klakah di sebelah timur kota kecamatan Tumpang pernah meraih juara 3 Desa Wisata tingkat nasional.

Nah, hari ini, dengan modal tekad kuat membara, informasi dari internet, dan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) saya dan anak-anak bersiap-siap menjelajahi beberapa tempat wisata di Tumpang. Terus terang, ini pertama kali saya ke Tumpang. Dan asal tahu saja, biasanya informasi dari internet itu sedikit mengandung unsur PHP. Bukan bermaksud menyesatkan, tapi karena mereka yang menuliskan itu sudah pernah berkunjung ke lokasi tersebut, jadi kesannya tempat itu mudah dicapai. Walaupun ‘dekat jalan raya’, ‘mudah dijangkau’, ‘banyak petunjuk jalan’, dlsbg, bagi seorang pemula selalu ada peluang untuk tersesat. Sejak awal saya sudah wanti-wanti pada anak-anak untuk waspada dan selalu membaca setiap papan petunjuk jalan. Kami berangkat pukul 8.00 dari Malang, lebih lambat dari waktu yang direncanakan.

And here we go! :))

CANDI JAGO

Ada dua jalan menuju Candi Jago. Jalan pertama tidak terlalu jauh (200m) dari Jalan Raya Tumpang.Β  Kalau dari arah Malang belok kiri sebelum pasar Tumpang. Ingat, sebelum pasar Tumpang. Kalau anda sudah sampai pasar Tumpang, artinya anda sedikit kebablasan. Jalan kedua, unrecommended, belok kiri dari pertigaan Tumpang-Bromo-Poncokusumo. Jalannya lebih curam, jauh, sempit dan berkelok (namanya juga hasil nyasar). Kami masuk dari jalan kedua dan keluar dari jalan pertama. Saat tiba di Candi Jago sedang ada ritual keagamaan dan foto-foto keluarga oleh salah satu rombongan pengunjung, sehingga rombongan lain belum diperkenankan naik. Tidak ada tiket masuk yang diberlakukan. Pengunjung dapat memberi donasi secara sukarela setelah mengisi buku tamu di pos depan.

Candi Jago, Tumpang, Malang.
Sisi Barat (depan) Candi Jago, Tumpang, Malang.

Sejarah tentang Candi Jago (Jajaghu) ini dicatat dalam kitab Negarakertagama dan Pararaton. Dibangun pada tahun 1268-1280 M sebagai penghormatan untuk Raja Singasari ke-4 yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana, candi ini pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa kerajaan Majapahit (abad 13). Candi Jago dipenuhi panel-panel relief yang terpahat dari kaki sampai dinding ruangan teratas. Relief candi ini mengandung unsur ajaran Budha dan Hindhu sesuai dengan agama syiwa Budha yang dianut Wisnuwardhana. Agama Syiwa Budha adalah aliran keagamaan yang merupakan perpaduan ajaran Hindu dan Budha. Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari. Badan candi terletak diatas batur setinggi 1 meter dan tiga teras berundak yang makin keatas makin mengecil. Terdapat lima kisah utama yang merupakan perpaduan ajaran Budha dan Hindu yang tergambar sebagai relief pada candi ini. Unsur ajaran Budha tercermin dalam relief cerita Tantri Kamandaka dan Kunjakarna yang terpahat pada teras paling bawah. Pada teras kedua tergambar lanjutan cerita Kunjakarna dan kisah Mahabarata yang mengandung ajaran Hindu (Parthayajna dan Arjuna Wiwaha). Teras ketiga berisi lanjutan relief Arjuna Wiwaha. Sedangkan dinding tubuh candi dipenuhi pahatan cerita Hindu, peperangan Kresna dan Kalayawana. Karena belum boleh naik ke teras yang lebih atas, kami hanya bisa mengamati kisah-kisah di dalam Tantri Kamandaka yang sebagian besar berbentuk fabel dan bagus diceritakan pada anak-anak untuk diambil pelajaran. Diantaranya kisah burung bangau dan kura-kura, persahabatan singa dan lembu, serta persahabatan katak dan ular.Β  Urutan kisah ini dibaca dari sisi kiri candi searah jarum jam (pradaksina).

Relief kisah burung bangau dan kura-kura di teras pertama Candi Jago.
Relief kisah burung bangau dan kura-kura di teras pertama Candi Jago.
Pahatan candi di dalam candi.
Pahatan candi di dalam candi.
Rombongan yang sedang mengadakan upacara adat.
Rombongan yang sedang mengadakan upacara adat (sisi Timur Candi Jago).
Pemasangan dupa di salah satu sudut Candi Jago.
Pemasangan dupa di salah satu sudut Candi Jago.

Sebagaimana karakteristik candi-candi di Jawa Timur, Candi Jago juga menghadap ke Barat dengan ruang utamanya (Garba Grha) terletak di bagian belakang. Karakter Singasari-nya tampak dari pahatan teratai (padma) yang menghiasi tatakan arca-arcanya. Termasuk batu besar di tengah pelataran depan yang pada puncaknya dipahat membentuk bunga teratai yang menjulur dari bonggolnya. Sebelah kiri candi berdiri arca Amoghapasa berlengan delapan dengan latar belakang singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi. Amoghapasa adalah dewa tertinggi dalam agama Budha Tantra dan dianggap perwujudan dari Wisnuwardhana. Sedangkan di sisi kanan candi terdapat arca kepala raksasa setinggi 1 meter.

Arca Amoghapasa yang sudah tidak sempurna bentuknya.
Arca Amoghapasa yang sudah tidak sempurna bentuknya.
Arca kepala raksasa ini tidak diketahui pasti apakah letaknya memang disini atau bukan.
Arca kepala raksasa ini tidak diketahui pasti apakah letak aslinya memang disini atau bukan.

Selama berkunjung disana, petugas atau Juru Pelihara sedang sibuk mengamankan prosesi agama dan photo session, sehingga informasi tentang candi lebih banyak saya dapatkan dari internet.

CANDI KIDAL

Matahari belum tinggi saat kami meninggalkan Candi Jago menuju Candi Kidal yang berjarak kurang lebih 7 km dari Pasar Tumpang. Sekali lagi, modal nanya pada penduduk sekitar (GPS), sampai juga di Candi Kidal. Dari Pasar Tumpang kami menuju Timur dan belok ke kanan pada pertigaan tugu pahlawan (makam pahlawan). Nanti akan bertemu percabangan menuju Pajaran dan satunya apa lupa (hehe…). Jangan pilih Pajaran, tapi pilih yang ke kanan. Situs Candi Kidal ada di sisi kiri jalan. Tempatnya agak menjorok ke dalam dan bersebelahan dengan peternakan ayam. Akibatnya, walaupun tempatnya lebih asri dan adem tapi polusi bau ayam tidak dapat dihindarkan. Sayang ya…

Karakteristik Candi Kidal sama dengan Candi Jago kecuali pada teknik pembacaan reliefnya. Relief Candi Kidal dibaca dari sisi kiri candi dengan teknik berlawanan arah jarum jam (prasawiya). Candi ini representasi dari pengagungan tokoh ibu dan dinamai sesuai dengan tempat wanita di sebelah kiri laki-laki (kidal). Sebetulnya, kalau mau wisata edukasi candi-candi di daerah Malang, agar ceritanya nyambung, seharusnya candi inilah yang dikunjungi pertama kali karena dibangun paling awal, yaitu 1248 M. Tujuan pembangunan candi ini sebagai pendermaan untuk Raja Anusapati dari Singasari agar arwahnya mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Kalau dalam agama Islam, kurang lebih maksudnya sama dengan wakaf atas nama orang yang sudah meninggal sehingga pahalanya terus mengalir dan mendapat kemuliaan di akherat. Disini kami banyak belajar filosofi candi dari Pak Imam, Juru Pelihara Candi Kidal. Asal tahu saja, sebagai Juru Pelihara candi, walaupun dibawahi langsung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) daerah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) yang pusatnya Trowulan untuk Jawa Timur, Pak Imam juga bertindak sebagai petugas kebersihan dan perawatan candi. Saat kami temui, beliau berpakaian kaos tanpa alas kaki membersihkan batuan candi dari lumut yang tumbuh menggunakan lidi. Lumut adalah tumbuhan perintis yang memang menjadi musuh utama pelapukan batuan (jadi ingat pelajaran SD ya πŸ˜€ ). Pada candi-candi yang lebih terkenal seperti Borobudur dan Prambanan, pertumbuhan lumut dihambat dengan cara melapisi batuan menggunakan zat tertentu yang mahal. Perawatan semacam ini belum diperluas pada candi-candi yang lebih kecil yang tersebar di Nusantara.

Kembali ke Candi Kidal. Agak berbeda dengan candi lain, pada tangga naiknya tidak terdapat ukel dan anak tangganya tipis serta sempit seperti bukan tangga naik. Hati-hati kalau mengajak anak kecil kesini. Saya sudah deg-deg serr saja melihat si Kecil yang sibuk mengeksplorasi seluruh sisi candi. Di setiap sudut candi terdapat patung mirip singa duduk dengan satu tangan seolah-olah menyangga candi. Di kanan, kiri, dan samping candi terdapat relung yang dulu menyimpan patung Syiwa. Saat ini patung tersebut disimpan di Museum Leiden, Belanda. Di atas pintu masuk terdapat hiasan kalamakara (kepala kala) yang menyeramkan dengan sikap mengancam seolah-oleh menjaga kesucian candi. Puncak atap tidak dihiasi ratna atau stupa melainkan datar saja. Bagian badan candi banyak terdapat relief bunga, sulur-suluran dan medalion.

Selamat datang di Candi Kidal.
Selamat datang di Candi Kidal.
Candi Kidal, yang ramping, tanpa ukel di sisi tangga, tangga yang tipis, puncak yang rata, dan arca menyerupai singa di sudut-sudutnya.
Candi Kidal yang ramping, tanpa ukel di sisi tangga, tangga yang tipis, puncak yang rata, hiasan kalamakara di atas pintu, dan arca menyerupai singa di salah satu sudutnya.
Relung di kanan-kiri pintu yang sudah tidak ber-arca.
Relung di kanan-kiri pintu yang sudah tidak ber-arca.

Untuk menegaskan bahwa candi ini membawa misi tentang perempuan dan bakti Raja Anusapati pada ibundanya, Ken Dedes, maka di teras candi terdapat ukiran kisah Garudheya. Walaupun hanya mitos, kisah Garudheya mempunyai filosofi yang dalam yaitu tentang seekor burung garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon ditampilkannya cerita ini sesuai dengan amanat Anusapati yang ingin meruwat atau membersihkan ibu yang sangat dicintainya dari penderitaan.

Relief pertama, garuda menggendong tiga ekor ular besar.
Relief pertama, garuda menggendong tiga ekor ular besar.
Relief kedua, garuda dengan kendi air suci amerta di atas kepalanya.
Relief kedua, garuda dengan kendi air suci amerta di atas kepalanya.
Relief ketiga, garuda menggendong seorang wanita (ibunya).
Relief ketiga, garuda menggendong seorang wanita (ibunya).

Menurut Pak Imam, dari mitos yang diceritakan kembali oleh Moh. Yamin saat itu kepada Bung Karno ketika berkunjung di kota Malang inilah maka muncul inspirasi beliau untuk menjadikan burung garuda sebagai lambang negara Indonesia. Garuda yang membebaskan ibu pertiwi dari penjajahan bangsa asing.

Salah satu event ruwatan yang diadakan di Candi Kidal.
Salah satu event ruwatan yang diadakan di Candi Kidal.

REST AREA DAN AGROWISATA PETIK APEL GUBUK KLAKAH

Destinasi berikutnya adalah Desa Wisata Gubuk Klakah, Kec. Poncokusumo. Sempat nyasar kearah pusat kecamatan Poncokusumo, saya putar balik dan memasuki jalan menuju Bromo. Awalnya keder juga membawa si Daisy naik-naik ke puncak gunung. Kalau cuma Batu dan sekitarnya sih ayo aja. Tapi jalur ke Bromo kali ini patut dicoba. Selain belum tengah hari, nanggung karena sudah sampai Tumpang. Jalanan teraspal mulus walaupun menanjak. Setelah melewati desa Gubuk Klakah kami lanjutkan hingga Rest Area sambil ishomaba (istirahat, sholat dan makan bakso). Bakso Pak Afi murah meriah, bakso tanggung @1000, gorengan dan tahu @500, lontong @1000. Warungnya tepat di pinggir tebing dengan pemandangan lepas ke lereng bukit yang dipenuhi kebun apel, bawang daun, dan daun kubis. Nge-bakso sekaligus modus nyari-nyari informasi tentang Agro Wisata Petik Apel. Memang disediakan Pusat Informasi, tapi mesti jalan jauh ke ujung Rest Area. Saya ingin mencoba informasi lewat jalan belakang, siapa tahu lebih murah, hehe…

Suasana Desa Wisata Gubuk Klakah.
Suasana Desa Wisata Gubuk Klakah.
Bawang dimana-mana :D
Bawang dimana-mana πŸ˜€
Ini lho tanaman kol.
Ini lho tanaman kubis.
Bakso Pak Afi, harap fokus ke gambar latar ya... ;p
Bakso Pak Afi, harap fokus ke gambar latar ya… πŸ˜›

Ternyata informasi yang saya dapat dari pedagang bakso sama dengan apa yang saya dapatkan dari internet. Wisata Petik Apel ini bukan seperti Agrowisata Kusuma di Batu yang dikelola oleh satu orang atau perusahaan. Disini kita akan diajak berkunjung ke kebun-kebun petani apel yang sedang siap panen. Bisa kebun petani yang mana saja. Pemandunya juga penduduk lokal yang diperdayakan untuk menemani tamu. Mereka ini sudah standby di Rest Area atau bisa juga on-call. Seperti pemandu yang akan mengantar kami dengan penghubung penjual bakso. Tarifnya juga standar, dimanapun kapanpun oleh siapapun, 20.000/orang. Biasanya mereka melayani paket mengantar ke tempat wisata lainnya termasuk Wisata Candi, Coban Pelangi, Bromo, dengan bermalam di rumah penduduk (homestay), paket wisata 2 hari 1 malam 450.000/orang. Termasuk jemput-antar sampai stasiun/bandara/terminal di Malang. Tapi kali ini saya hanya minta diantar ke kebun apel saja. Si Daisy ditinggal di Rest Area dan kami menuju kebun apel dengan menumpang jeep terbuka yang sudah disediakan oleh pemandu. Apel yang dipetik di tempat dijual 20.000/kg, sedangkan apel yang dijajakan oleh penduduk sekitar dihargai 10.000/kg. Selisihnya adalah harga sensasi memetik apel. Kalau mau makan di tempat juga boleh sak-kuatnya sampai gigi goyang. Saat perjalanan kembali, beruntung kami bertemu dengan petani yang baru saja panen. Resminya saya membeli 2 kg apel dengan harga 20.000 tanpa ditimbang (karena petaninya tidak bawa timbangan). Sampai di rumah saya timbang ternyata dapatnya 4,5 kg. Lumayan.

Siap menjelajah kebun apel :)
Siap menjelajah kebun apel πŸ™‚
DSC_4801
Sejauh mata memandang…
Apel manalagi. Nom nom nom... :p
Apel manalagi. Nom nom nom… πŸ˜›
Hasil panen petani apel.
Hasil panen petani apel.

Kabut sudah turun saat kami tiba kembali di Rest Area. Tapi anak-anak jadi tambah semangat melihat kabut sehingga minta turun lagi jalan-jalan di kebun bawang. Setelah terasa rintik hujan barulah kami meninggalkan lokasi setelah membayar retribusi parkir 10.000. Kami dan Daisy menembus hujan deras di sepanjang jalan pulang hingga sampai Malang pada pukul 15.30.

Rest Area dan jeep yang kami tumpangi (free of charge).
Rest Area dan jeep yang kami tumpangi (free of charge).
Hujan lebat di sepanjang jalan pulang (gerbang masuk Desa Gubuk Klakah).
Hujan lebat di sepanjang jalan pulang (gerbang masuk Desa Gubuk Klakah).
Akhirnya si Daisy sampai juga di Rest Area Gubuk Klakah :)
Akhirnya si Daisy sampai juga di Rest Area Gubuk Klakah πŸ˜›
Ini dia peta perjalanan kemarin, tidak jauh kan :)
Ini dia peta perjalanan kemarin, tidak jauh kan πŸ˜‰

Next trip, Singosari dan sekitarnya πŸ™‚

Advertisements

4 thoughts on “Jelajah Wisata Tumpang-Poncokusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s