Bebi Sakit…

Sudah beberapa hari Bebi tidak mau makan. Minum juga cuma sedikit. Padahal sudah saya berikan makanan favoritnya, Tahu Campur Lamongan dan Bakso Solo Kidul Pasar. Tetap saja dia bergeming, tidak berselera, hanya melirik saja. Lemah lesu tidak aktif seperti biasanya. Bebi sakit. Bagaimana saya tahu kalau dia sakit? Begini, kucing agak berbeda dengan manusia. Kalau manusia tidak mau makan, ada beberapa kemungkinan yaitu: (1) sakit, (2) puasa, (3) diet, atau (3) unjuk rasa. Tapi karena dia ini spesies kucing, maka tidak ada kemungkinan lain selain sakit. Tentu saja saya cemas. Tetangga sebelah sekaligus besan saya sampai ikut repot dengan memberi obat mencri (padahal saya tidak yakin Bebi mencri atau tidak karena gara-gara tidak mau makan dia juga tidak menghasilkan ‘air besar’).

Pada hari ketiga, saya konsul SLJJ ke dokter hewan teman saya di luar kota. Sarannya standar, makan minum disuruh nyuapin, kasih madu takaran bayi, ukur suhu badan (lewat anus ya, entah kenapa tidak lewat keti), kalau panas dikasi antibiotik cair dosis bayi. Dua instruksi yang terakhir tidak saya jalankan karena tidak punya thermometer badan. Hari keempat keadaannya makin memburuk. Beberapa kali ‘ngompol’, entah karena tidak kuat jalan ke litter box atau memang beneran ngompol. Paniklah saya, karena salah satu gejala obstruksi saluran kemih ya ngompol itu. Bagaimana kalau Bebi mati?! 😥

Hari itu juga saya membuat janji dengan dokter hewan yang direkomendasikan di kota saya. Setelah anamnesa (ini murni saya yang menjawab semua pertanyaan dokter), dokter menduga Bebi kena feline calicivirus. Kucing yang kena infeksi virus ini biasanya mengalami radang pada mukosa. Pada kucing dewasa, termanifestasi pada bagian oral terutama pada pangkal lidah, sedangkan pada bayi kucing menyebar hingga ke telinga, hidung, dan mata. Kalau dibiarkan bisa jadi radang telinga (otitis). Hal tersebut menyebabkan si kucing kesakitan saat menjulurkan lidah sehingga tidak mau makan dan minum. Pada kucing yang sudah divaksinasi calicivirus gejala infeksi ini tidak terlalu berat. Untunglah Bebi sudah mendapatkan vaksin ini saat umur tiga bulan sehingga gejalanya ringan saja. Setelah diinjeksi antibiotik dan antipiretik (karena terbukti panas tinggi), keesokan harinya Bebi sudah mau makan dan minta main keluar (indikasi sembuh). Resep puyer dengan jenis obat yang sama tidak jadi saya tebus. Lima puluh ribu cukup ampuh untuk menebus kecemasan saya 😛

Untuk kucing yang sakit, asal dia tidak muntah keadaannya bisa dikatakan relatif baik. Termasuk kalau mencri saja tanpa muntah. Kalau mencri disertai muntah, wah, begitu ketahuan sebaiknya segera dibawa ke dokter hewan. Kondisi seperti itu bisa disebabkan obtruksi saluran kencing sehingga si kucing ‘keracunan’ ureum (kadar ureum pada darah tinggi) atau infeksi pada saluran cerna. Untuk yang pertama, tidak ada cara lain harus dikateter oleh ahlinya. Di kota saya, hanya ada dua dokter hewan yang bisa melakukan tindakan tersebut karena sudah terampil dan mempunyai alatnya. Kucing jantan lebih sering mengalami hal ini karena anatomi ureternya yang panjang dan melengkung. Apalagi kalau dia hidup hanya di kandang sehingga kurang aktif.  Atau kalau dia hanya makan dry food tanpa variasi dengan wet food atau dry food dengan merek yang itu-itu saja.

Dan gara-gara kunjungan ke dokter hewan, saya jadi tahu banyak beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih makanan untuk kucing. Postingannya kapan-kapan saja ya, saya mesti ngajar semester pendek nih… 😉

Advertisements

3 thoughts on “Bebi Sakit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s