Terhanyut Romantisme Candi Jawa

Berfilosofi Dengan Candi

Istilah candi digunakan untuk merujuk kepada berbagai bangunan sebelum masuknya ajaran Islam (era Hindu-Budha). Istilah ini dipakai untuk bangunan, gerbang, bahkan petirtaan atau pemandian walaupun manisfestasi utamanya tetap adalah bangunan suci keagamaan (Soekmono R, 1996. Candi: Symbol of the universe). Dari segi bahasa asalnya, candi itu sendiri diduga berasal dari kata ‘Candika’ yang merupakan salah satu perwujudan Dewi Durga (Dewi Kematian) sehingga bangunan candi sering dihubungkan dengan pendharmaan untuk memuliakan raja yang sudah meninggal.

Walaupun pernah bercita-cita menjadi arkeolog yang kerjanya menggali sana-sini (note: bukan menggali informasi alias kepo), tapi baru kali ini saya sempat belajar tentang candi dan kisah yang mengiringinya.

Mempelajari candi seperti terbawa kumparan waktu menuju ratusan bahkan ribuan tahun yang telah lalu. Memandang candi, seakan-akan kita menjadi bagian dari orang-orang pada masa itu. Ikut lalu lalang beraktifitas bersama mereka, atau sekedar memandang puncak gunung dari selasar candi. Gunung dan candi yang hadir pada saat itu. Begitu juga saat  malam datang, konstelasi bintang-bintang di langit masih sama dengan ribuan tahun lalu. Saya melihat sesuatu yang mereka lihat.

Puncak Arjuno di sisi utara Candi Badut.
Puncak Arjuno di sisi utara Candi Badut.

Dari bentuknya itu sendiri, candi mewakili replica tempat tinggal para dewa yang sebenarnya yaitu Gunung Meru atau ‘sumeru’ dalam bahasa sansakerta yang artinya Meru Agung sebagai pusat alam semesta. Salah satu representasi Meru adalah pegunungan Himalaya tempat ajaran Hindu-Budha berasal. Tapi ‘meru’ sendiri disebutkan setinggi 84.000 yojana (1.082 juta km) yang dikelilingi oleh matahari dan planet-planet dalam sistem tatasurya. Terlepas dari aspek mitos pada ajaran tersebut dan tanpa bermaksud menyamakan, saya jadi teringat pada ‘Kursiyun’, ‘Singgasana Allah’, dan bagaimana setiap ajaran spiritual memandang langit sebagai ‘tempat’ bersemayamnya Yang Maha Pencipta. Walaupun bukan ajaran samawi yang menyampaikan kitab-kitab dari langit, tapi semangat spiritualnya kurang lebih sama. Menurut saya, bukan tidak mungkin diantara orang-orang terdahulu di kalangan Hindu-Budha ada nabi-nabi atau messiah yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Quran.

Candi dan Antropologi

Terkait dengan tempat tinggal saya di Malang, saya jadi tertarik dengan pemilihan lokasi tempat candi dibangun. Candi-candi dibangun dengan memperhitungkan letak bintang (astronomi) terutama dalam menentukan arah hadapnya. Selain itu, lokasinya dekat dengan air terutama pertemuan dua sungai. Kalau saya perhatikan peta Kota Malang, Candi Badut dan Candi Karangbesuki dibangun di dekat pertemuan dua sungai yang berhulu di Gunung Panderman wilayah Batu. Selain dekat air, tempat ideal untuk mendirikan candi adalah di puncak bukit, lereng gunung, lembah, atau hutan. Candi Jago dan Candi Kidal adalah contoh candi yang didirikan di lereng gunung. Ini berdasarkan referensi candi yang pernah saya kunjungi lho ya, tentu masih banyak lagi contoh candi lain. Di Malang Raya saja terdapat 11 candi. Secara geografis, Malang Raya sendiri dikelilingi gunung Semeru, Bromo, Kawi, Panderman, Kelud, Anjasmoro, dan Arjuno. Dan yang pasti, daerah-daerah tersebut adalah daerah subur. Karena, apabila merujuk pada pola migrasi, manusia akan mencari daerah yang subur untuk penghidupannya. Dulu saya sempat bertanya-tanya, siapa yang pertama kali membuka lahan di daerah yang bergunung-gunung seperti di Batu atau Tengger. Secara tempatnya kan susah dicapai, mendakinya juga capek, kok mereka pilih tempat itu sih? Hal tersebut tentu tidak lepas dari pola migrasi ini. Walaupun masuknya pendatang baru diduga kebanyakan melalui pantai tapi ada juga perpindahan melalui jalur darat terutama setelah terbentuknya kepulauan. Sehingga dapat terjadi masyarakat baru dan terjadi asimilasi budaya di tempat tersebut. Seperti halnya penduduk asli Tengger dengan agama Hindu yang kental, tentu diawali dari penduduk asli dari Cina Selatan yang berasimilasi dengan pendatang dari India yang membawa ajaran Hindu. Bahwa kemudian ada proses isolasi yang dapat dikarenakan bencana alam maha hebat seperti gempa dan letusan gunung berapi menjadikan populasi yang terbentuk semacam kehilangan mata rantai. Perlu diketahui bahwa ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, kekuatan bencana alam diketahui lebih dahsyat daripada jaman sekarang.

Saya yakin pasti, bil ilmi kauliyah wa kauniyah, bahwa populasi berbentuk bukan dari proses evolusi. Bahwa bakteri yang ada di Papua akan menjadi monyet lalu berevolusi sebagai orang Papua. Atau jasad renik lain di Pegunungan Himalaya akan menjadi orang Nepal. Melainkan proses migrasi manusia selama ribuan tahun yang semuanya berawal dari tanah tempat pertemuan Adam dan Hawa. Bagi yang masih ngotot percaya evolusi, saya tidak akan memaksakan ide saya karena itu sama saja dengan menasehati pendukung salah satu capres atau menasehati orang yang sedang jatuh cinta (yah, jatuh cinta pada capres itu tentunya, hehe). 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s