Tumbal

Aku tidak percaya jaman masih juga kejam. Setelah lewat periode kekuasaan yang berkibar mengangkangi orang-orang terjajah, tertindas, terbungkam atau mati. Masih ada orang yang menjadi tumbal seperti perempuan ini.

Jiwanya dihisap sebagai pengganti jiwa yang kering.
Belulangnya dipakai untuk bangunan yang tinggal puing.
Darahnya dideras untuk kepentingan orang lain.

Dan seperti halnya tumbal-tumbal lainnya, sudah selayaknya dia menghilang lalu diam. Mengubur diri jauh dibawah seringai senang penguasa yang baru naik tahta. Atau orang-orang berhati batu yang terhasut bahagia.

Jangan takut diganggu olehnya. Dia hanya perempuan tanpa nama yang pelan-pelan dilupakan jaman.

[Kendalisada, am/pm]

Advertisements

2 thoughts on “Tumbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s