101 Tahun Kota Malang

Tanggal 1 April ini Malang ulang tahun ke-101. Jadi ingat Dalmatians ya. Selain ingat si guk-guk lucu bertotol-totol kayak moly totol itu, saya juga jadi ingat pertama kali saya tinggal di Malang.

Tret tet teeet, pelajaran sejarah mulai…

Sejak masih SMP di Pasuruan, saya sudah ingin melanjutkan SMA di Malang yang saat itu sudah kondang sebagai salah satu kota pendidikan terbaik di Jawa Timur. Tapi keinginan tinggal di Malang baru dapat terlaksana setelah lulus SMA di Pangkalpinang. Saat itu, bergegaslah saya mengontak seorang sahabat yang sudah lebih dulu tinggal di Malang. Kami kos bareng di Ciamis 11 saat saya ikut bimbingan belajar selama sebulan di Teknos pojokan jl.Bandung. Saat mengisi jurusan UMPTN juga milihnya UB, dengan harapan utama, saya bisa kuliah di kota ini. Eh, ndak ding. Dari 3 pilihan jurusan (ikut IPC, ilmu pengetahuan campuran – btw, hanya di Indonesia ada ilmu campur selain es campur), pilihan pertama saya Biologi UI, kedua Biologi UB, dan ketiga Hukum UB. Alasan memilih pilihan ketiga ini sangat geje, hanya karena ngiler melihat gedungnya yang baru, hehehe. Saya bahkan sudah mendaftar di Planologi ITN sebagai cadangan. Ternyata pada saat pengumuman UMPTN, Tuhan belum mengijinkan saya tinggal di kota ini hingga terdamparlah saya di kota Depok karena diterima di UI. Dengan diiringi isak tangis teman dan sahabat karena kesedihan mendalam berpisah dengan saya (ndak GR loh), saya meninggalkan Malang. Sementara itu barang-barang dari kos-an dipaket via Kantor Pos. Ini gara-gara kepedean bakal tinggal disini, semua pakaian dan buku sudah saya boyong ke sini. Untung saja kosnya tidak dibayar untuk setahun.  Hihi…

Akhirnya bertahun-tahun kemudian, cita-citata menetap di Malang terwujud pada tahun 1998. Ya, setelah lulus kuliah dan menikah saya dan suami memilih tinggal di Malang. Bukan karena pekerjaan saya atau suami, tapi murni karena ingin tinggal disini. Sekarang, mengingat pekerjaan kami, rasanya sampai nenek-nenek pun saya akan tetap tinggal di Malang. InsyaAllah. Benar bahwa ada beberapa cara Allah mengabulkan doa hambaNya. Diantaranya dengan menundanya. Tidak perlu dicari-cari alasan Allah menunda. Buat saya hal ini menjadikan nikmat dan syukur terasa lebih dalam. Alhamdulillah.

Sekarang, setelah kurang lebih 18 tahun alias 216 bulan alias 6480 hari tinggal di Malang – dikorting tugas-tugas luar kota – membuat saya semakin yakin dengan pilihan saya dulu. Malang airnya bersih, tidak banyak nyamuk, pemandangan indah, udara sejuk, kualitas pendidikan bagus, banyak pilihan tempat wisata (gunung, laut, kuliner, tempat hiburan), harga bahan pokok murah, lalu lintas lancar, aman, bebas banjir, kehidupan beragama juga kondusif. Ada lagi yang penting, yaitu saat melihat kemacetan luar biasa sepanjang jalan menuju Malang-Batu di saat liburan, baik itu libur akhir pekan apalagi libur anak sekolah. Saya sangat bersyukur berada di arah jalan yang berlawanan alias gak kena maceet 😀

Di usia 101 tahun ini, semoga Malang semakin maju dan tetap aman, hijau, indah seperti sekarang. I love Malang ❤

Mmuaach... <3
Mmuaach… ❤ 😉
Advertisements

2 thoughts on “101 Tahun Kota Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s